10 Poin Kerawam Keuskupan Ruteng untuk Pilpres

Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Ruteng, hari ini (28/6) merumuskan poin-poin panduan bagi umat Katolik Keuskupan Ruteng pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2014 – 2019, 9 Juli 2014 mendatang. 10 poin Kerawam Keuskupan Ruteng untuk Pilpres tersebut, dibuat sebagai tindak lanjut Surat Gembala KWI, Keputusan Sinode III dan Surat Gembala Uskup Ruteng berkaitan dengan Pilpres 9 Juli 2014.

Berikut poin-poin tersebut:

  1. Semua umat Katolik yang mempunyai hak memilih dihimbau untuk menggunakan hak pilihnya pada tanggal 9 Juli yang akan datang. Menjadi golongan putih (golput) untuk konteks sekarang ini bukanlah sikap yang tepat.
  2. Pilihlah calon yang memiliki rekam jejak yang sejalan dengan nilai-nilai Katolik: yang menghormati hak asasi manusia (HAM), jujur, sederhana, dekat dengan rakyat kecil, berbicara dan mendengar rakyat kecil, anti-korupsi, mempunyai program pro-rakyat kecil, menghormati warga minoritas, menghargai perbedaan agama, suku dan ras, serta membawa perubahan/revolusi dalam semua bidang kehidupan bangsa.
  3. Suara anda adalah identitas, hak dan martabat anda. Orang Katolik dilarang keras menjual suaranya berapa pun harganya. Orang Katolik harus tegas menolak segala bentuk politik uang dan tekanan untuk membeli dan mempermainkan suara suci Anda.
  4. Orang Katolik dilarang untuk memberi uang guna membeli suara pemilih, menyogok petugas penyelenggara pemilu untuk memenangkan calon tertentu. Orang Katolik penyelenggara pemilu harus menolak semua bentuk politik uang dan keberpihakan pada calon tertentu berdasarkan kepentingan pribadi dan partai.
  5. Umat Katolik yang bertugas sebagai penyelenggara Pemilu dari tingkat TPS, desa/kelurahan, kecamatan sampai kabupaten harus jujur menghitung dan meneruskan suara pemilih. Orang Katolik dilarang keras memanipulasi suara pemilih. Ingat, suara rakyat adalah suara Tuhan (Vox populi, Vox Dei).
  6. Orang Katolik harus waspada terhadap upaya manipulasi suara mulai di tingkat TPS, desa, kecamatan dan kabupaten. Orang Katolik diminta untuk terlibat aktif mencegah terjadinya kebocoran dan manipulasi suara. Hadirlah saat perhitungan suara di tingkat TPS. Waspadalah orang yang dengan sengaja melakukan kesalahan perhitungan dan perekapan suara untuk mengunggulkan calon tertentu. Awaslah petugas agar tidak ada pihak yang mencoblos surat suara sisa, tidak melakukan penggelembungan suara atau mengubah jumlah suara demi mengunggulkan calon tertentu. Jadilah relawan pengawal pemilu dan dukunglah petugas penyelenggara pemilu untuk bertindak benar, adil dan jujur. Dokumentasikan/fotolah hasil perhitungan suara dan hal-hal lain yang mencurigakan dan laporlah setiap bentuk kecurangan kepada pihak berwajib (Bawaslu dan Polisi).
  7. Orang Katolik penyelenggara pemilu dan aparat pemerintah dilarang melakukan intimidasi dan kekerasan yang dapat menimbulkan konflik horizontal dan vertikal. Berhati-hatilah terhadap provokasi. Jangan melakukan intimidasi terhadap masyarakat kecil dan atau terhadap petugas penyelenggara Pemilu. Jika calon anda kalah terimalah dengan lapang dada. Persaingan dalam Pilpres adalah wajar, hindari sikap emosional dan reaktif yang berlebihan yang mengarah kepada kekerasan dan main hakim sendiri.
  8. Umat Katolik yang ada pada pemerintahan hendaknya tidak menggunakan secara sistematis fungsi birokrasi dan seluruh jalur/sistem pemerintahan untuk menekan/mengintimidasi pejabat tertentu yang berada di tengah masyarakat akar rumput untuk memobilisasinya dengan tujuan mendukung calon tertentu. Setiap orang Katolik yang merasa ditekan atau diintimidasi berhak melawan dengan cara damai.
  9. Orang Katolik dilarang berjudi dan terjerat oleh strategi para penjudi untuk membeli suara dan kebebasan hati nurani Anda.
  10. Jangan takut! Jangan takut! Ketidakadilan merajalela bukan karena tidak ada orang jujur, adil dan benar, tetapi karena mereka takut. Kejahatan yang terorganisir akan menang jika orang-orang benar, adil dan jujur tidak mengorganisasikan dirinya.

JANGAN LUPA BERDOA. Berjalanlah bersama Tuhan, supaya bangsa kita makmur dan sejahtera.

Ruteng, 28 Juni 2014

Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Ruteng

Dominicus Waso

Mengetahui,

Uskup Ruteng

Mgr. Hubertus Leteng, Pr

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *