Bersatu dengan Gereja

Kotbah Uskup Ruteng pada Hari Raya Paskah 2014

Pada hari ini kita umat beriman di Paroki Katedral ini dan di seluruh dunia merayakan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus dari alam maut, dari dosa dan kematian. Kebangkitan Tuhan Yesus bukanlah suatu peristiwa yang dilihat dan dialami oleh semua orang, tetapi hanya oleh orang-orang tertentu saja.

Kepada Kornelius bersama keluarganya, Rasul Petrus berbicara tentang kebangkitan Tuhan itu, katanya: “Tuhan Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati” (Kis 10:40-41).

Dari kata-kata Rasul Petrus ini, benar bahwa Tuhan Yesus bangkit dan malahan dibangkitkan Allah pada hari ketiga. Peran Allah yang aktif dalam peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kebangkitan itu bukanlah rencan dan keinginan pribadi Tuhan Yesus sendiri, tetapi benar-benar adalah rencana dan kehendak Allah bagi manusia. Dalam dan melalui kebangkitan Tuhan Yesus, Allah mau menyelamatkan kita manusia dari dosa, maut dan kematian. Meskipun kebangkitan berguna bagi keselamatan semua orang, namun tidak semua orang melihat dan menyaksikan peristiwa kebangkitan Allah itu. Hanya orang-orang yang ditunjuk oleh Allah sendiri dan orang-orang yang ditunjuk oleh Allah sendiri dan orang-orang itu adalah murid-murid-Nya atau rasul-rasul-Nya, yang hidup dan tinggal bersama Dia, yang bekerja dan berjalan bersama Dia serta yang makan dan minum bersama Dia. Merekalah yang mengalami dan menyaksikan secara langsung peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus itu. Atas dasar ini, ada dua pikiran yang perlu kita sadari dan kita hayati berkaitan dengan kebangkitan Tuhan Yesus.

Pertama, iman akan kebangkitan Tuhan Yesus mesti lahir dari ikatan dengan para rasul. Alasan jelas. Iman akan kebangkitan Tuhan Yesus menjadi kokoh dan berakar tunggan justru karena iman itu berada dalam suatu realitas sejarah yang tak pernah putus, tetapi bersinambungan dari waktu ke waktu, dari abad ke abad, mulai dari kesaksian para Rasul Tuhan Yesus sendiri sampai saat ini dan selamanya. Karena itu, kita harus hati-hati dengan wahyu iman pribadi dan tidak boleh percaya begitu saja kepada orang-orang yang amat mudah mengakui dirinya memiliki iman atau wahyu pribadi. Menurut ajaran Gereja, “Tidak ada seorang yang memberikan iman kepada diri sendiri, sebagaimana juga tidak ada seorang yang memberi kehidupan kepada diri sendiri. Yang percaya menerima kepercayaan dari orang lain; ia harus melanjutkannya kepada orang lain.” (KGK 166).

Itulah sebabnya kita tidak boleh menerima dan mengakui, apalagi percaya begitu saja iman atau wahyu pribadi dari siapa pun. Dalam Gereja Katolik, iman tidak berasal dari individu manusia atau dari setan atau dari arwah nenek moyang. Sebaliknya: “Iman adalah satu anugerah Allah, satu kebajikan adikodrati yang dicurahkan olehNya” kepada orang-orang: “Yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati” (Kis 10:41). Pada batas inilah, iman para rasul yang dilanjutkan di dalam Gereja melalui Paus, Uskup dan Imam merupakan dasar iman yang sejati dalam hidup kita. Itulah sebabnya kita mesti bersatu dengan Gereja, bersatu dengan Paus, bersatu dengan Uskup dan dengan Imam-imam kita. Dalam kesatuan dengan hirarki: Paus, Uskup dan Imam, “Pertama-tama Gerejalah yang percaya dan dengan demikian menopang, memupuk dan mendukung iman saya… Melalui Gereja kita menerima dalam Pembaptisan, Iman dan kehidupan baru dalam Kristus.” Sebab itu, dengan kebangkitan Kristus, marilah kita dalam iman yang benar selalu bersatu dengan Gereja, bersatu dengan hirarki dalam diri Paus, Uskup, Imam dan Diakon dan seluruh garis struktur Gereja lainnya.

Kedua, untuk mewujudkan persatuan itu lebih lanjut, hendaklah kita membangun suasana akrab dan memelihara suasana kekeluargaan dan persaudaraan di antara kita sendiri dan dengan orang lain. Sesudah bangkit dari orang mati, bukan hanya para rasul ‘makan dan minum bersama’ Tuhan Yesus, tetapi juga Tuhan Yesus makan dan minum bersama para rasul. Inilah satu bentuk atau satu cara untuk menciptakan suasana akrab, suasana kekeluargaan dan suasana persaudaraan di antara para Rasul dan Tuhan Yesus yang sudah bangkit.

Kita memang tidak mesti langsung makan bersama seperti para Rasul dan Tuhan Yesus saat kita merayakan Paskah kebangkitan Tuhan Yesus. Yang paling penting, kita bisa mengalami dan merasakan suasana akrab, suasana keluarga dan suasana persaudaraan dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak ada suasana akrab, suasana kekeluargaan dan persaudaraan, hidup kita akan terasa kering dan kaku, akan terasa hambar dan rutinitas belaka. Dalam kondisi demikian, tidak jarang kita stress, merasa berbeban, merasa lesu dan tidak bergairah, tidak bersemangat dalam hidup. Kondisi seperti ini amat berbahaya bukan saja bagi pribadi per pribadi, tetapi juga bagi kehidupan bersama di dalam keluarga dan di dalam komunitas.

Dalam konteks ini, kita bisa mengerti mengapa dalam Teater Rahasia Pengakuan kali lalu (beritanya di sini. red), anak putri bernama Tesa meminta membeli karet. Tak lain tujuannya, untuk mengikat kaki orangtuanya supaya orangtuanya tidak terlalu banyak pergi dari ruma, meinggalkan anak-anak sendirian di rumah. Sebab itu marilah kita memberi waktu dan tempat, cinta dan perhatian bagi kebersamaan, bagi keakraban, kekeluargaan dan persaudaraan. Kita mesti ada waktu untuk duduk bersama, makan bersama, santai bersama, canda bersama, cerita bersama dan rekreasi bersama dalam hidup, baik kita itu di dalam keluarga-keluarga maupun kita itu di dalam komunitas-komunitas religius.

Suatu malam istri Nasrudin terbangun. Ia melihat suaminya, si Nasrudin, berdiri di sisi kotak bayi mereka. Sepanjang ia menikah hingga melahirkan, belum pernah ia melihat ekspresi wajah suaminya seperti itu. Kadang-kadang angguk-angguk, tetapi kadang-kadang menggeleng-gelengkan kepala. Sesekali tampak kagum dan terharu. Namun kemudian ia menarik napas panjang. Begitu seterusnya hingga diulangi beberapa kali. Karena merasa terharu, diam-diam istrinya meneteskan air mata. Ia merasa heran melihat suaminya mengagumi bayi mereka seperti itu. Maka ia menghampiri Nasrudin dan memeluknya. Saa itu ia pun berbisik: “Mas, apa sih yang kamu pikirkan?” Jawab Nasrudin: “Ini sayangku, aku benar-benar tidak habis pikir, kotak bayi seperti ini harganya bukan main-main, lima juta memang.”

Tingkah laku Nasrudin tampaknya aneh, ganjil dan bahkan mengada-ada saja di mata istrinya. Tetapi itulah cara atau gaya Nasrudin untuk membangkitkan rasa haru pada istrinya, supaya istrinya merasa dekat, akrab, santai dan bercanda dengan dirinya. Tentu para suami dan istri tidak mesti berlaku aneh seperti keluarga Nasrudin. Akan tetapi setiap keluarga, setiap orangtua atau setiap suami istri mesti kreatif untuk menciptakan bentuk relasi dan komunikasi yang akrab dan ramah tama, sehingga suasana keluarga selalu harmonis, rukun dan damai, anam dan tenteram.

Mudah-mudahan Iman akan kebangkitan Tuhan Yesus membaharui kembali relasi dan komunikasi di antara kita dan dengan orang lain, sehingga tercipta dan terpeliharalah selalu suasana akrab, suasana rukun dan damai dalam kehidupan bersama di dalam keluarga-keluarga kita di dalam komunitas-komunitas kita.

Selamat Pesta Paskah untuk umat sekalian!

Catatan kaki/Bahan bacaan untuk Kotbah Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng: Bersatu dengan Gereja:

  1. KGK
  2. Noel, Mati Ketawa Gaya Indonesia – Medpress, Yogyakarta, 2009
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *