Bruder Elia dan Aroma Mawar di Katedral Ruteng

Hampir 3.000 umat hadir dalam pelayanan doa penyembuhan bersama Bruder Elia di Gereja Katedral Ruteng, Minggu (11/11) jam 08.00 WITA. Seperti diberitakan sebelumnya, Bruder Elia, rohaniwan Katolik dari Italia berkesempatan hadir dan memberikan pelayanan doa penyembuhan kepada umat Katedral Ruteng.

Bruder Elia dan Romo Charles

Bruder Elia dan penerjemah di Gereja Katedral Ruteng

Bruder Elia dikenal di seluruh dunia karena mendapatkan karunia stigmata atau tanda-tanda luka Yesus yang tersalib yang muncul pada tubuh seseorang. Selain mendapatkan stigmata, Bruder Elia juga mendapat karunia bilokasi atau kehadiran serentak seseorang di dua lokasi yang berbeda seperti yang dialami oleh Padre Pio dari Pietrelcina.

Dalam kunjungannya ke Paroki Katedral Ruteng, Bruder Elia ditemani oleh Pastor Marco dari Italia dan seorang bruder dari komunitas Rasul-rasul Tuhan. Kepada ribuan umat yang hadir, Pastor Marco menuturkan kisah hidup Bruder Elia sampai dia mendapatkan karunia stigmata dan bilokasi. Menurut Pastor Marco, tanda-tanda luar biasa pada kehidupan Bruder Elia sudah terlihat sejak dia masih berumur tujuh tahun. “Di usia tujuh tahun, Elia kecil mendapat penglihatan berupa munculnya para malaikat di rumah mereka. Hal tersebut diberitahukannya kepada ibunya namun tidak mendapat tanggapan. Meski demikian kondisi tersebut tidak mengecilkan semangatnya. Ketika beranjak besar, Elia lalu memutuskan untuk masuk biara kapusin di Lombardi dan mendapatkan stigmata pertama ketika menjadi novis,” tutur Pastor Marco dalam bahasa Italia yang langsung diterjemahkan oleh Rm. Charles Suwendi.
Pastor Marco menambahkan, sejak saat itulah, selama Masa Paskah dan saat-saat lainnya Bruder Elia mengalami sengsara Yesus (didahului dengan berpuasa selama 40 hari) dan bau harum keluar dari seluruh tubuhnya. Setiap hari Jumat, luka-luka-Nya yang terbuka menyebabkan kesakitan yang sangat luar biasa. Mereka sembuh kembali dalam 1 atau 2 hari, namun tanda-tandanya masih tetap ada. Hal tersebut dibenarkan oleh Vikjen Keuskupan Ruteng Rm. Laurens Sopang yang pada hari itu bersama Vikep Ruteng Rm. Gerardus Janur mempersembahkan misa/ekaristi dalam rangka pelayanan doa penyembuhan tersebut. Menurut Rm. Laurens, ketika bertemu Bruder Elia pada hari Sabtu (10/11) dirinya masih melihat bekas stigmata pada tangannya. Bruder Elia mendapatkan stigmata itu ketika sedang berada di Denpasar, tempat yang dikunjunginya sebelum datang ke Ruteng.
Bruder Elia sendiri sebelum pelayanan doa penyembuhan, kepada umat Katedral Ruteng menuturkan tentang betapa besarnya kasih Tuhan Yesus kepada manusia. Bruder Elia mengajak umat yang hadir untuk berdoa dan memohon kesembuhan pada Yesus. Bruder yang lahir tanggal 20 Februari 1962 di daerah Puglia Italia ini juga mengingatkan pentingnya doa rosario dan devosi kepada Bunda Maria. Setelah sejenak bersama umat berdoa adorasi, Bruder Elia kemudian berkeliling, mereciki umat yang hadir dengan air berkat.

Perecikan air berkat

Bruder Elia saat mereciki air berkat (foto-foto: Gusty Stat)

Pelayanan tersebut mendapat sambutan yang luar biasa dari seluruh umat yang hadir. Dengan khidmat, mereka mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Usai direciki air berkat, beberapa umat mengaku mencium aroma harum mawar yang oleh Bruder Elia disebut sebagai wangi surgawi.

Selama di wilayah Keuskupan Ruteng, Bruder Elia melakukan pelayanan doa penyembuhan di beberapa tempat, yakni Gereja Katedral Ruteng pada hari Minggu 11 November 2012 jam 08.00 WITA, Gereja St. Yosef (Katedral Lama), Minggu 11 November 2012 jam 16.30 WITA dan di Gereja St. Klaus Kuwu, Senin 12 November 2012 jam 08.00 WITA. (bell)
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *