Bulan Maria Di Katedral, Sebuah Catatan

Arca Bunda Maria diarak keliling ke tigabelas wilayah sepanjang bulan Mei 2013. Warna itulah yang muncul di Paroki Katedral Ruteng sepanjang bulan Mei kemarin. Dalam tradisi Gereja Katolik, devosi mengkhususkan bulan Mei sebagai bulan Maria diperkenalkan sejak akhir abad ke 13. Praktek ini menjadi populer di kalangan para Jesuit di Roma pada sekitar tahun 1700-an, dan kemudian ke seluruh Gereja. 

Bulan Maria di Katedral, Sebuah Catatan

Foto | Kaka Ited

Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, the Month of Mary mengatakan, “Bulan Mei adalah bulan di mana devosi umat beriman didedikasikan kepada Bunda Maria yang terberkati,” dan bulan Mei adalah kesempatan untuk “penghormatan iman dan kasih yang diberikan oleh umat Katolik di setiap bagian dunia kepada Sang Ratu Surga. Sepanjang bulan ini, umat Kristen, baik di gereja maupun secara pribadi di rumah, mempersembahkan penghormatan dan doa dengan penuh kasih kepada Maria dari hati mereka. Pada bulan ini, rahmat Tuhan turun atas kita … dalam kelimpahan.” (Paus Paulus VI, the Month of May, 1).

Kembali ke Katedral Ruteng

Wangi bunga, kerlap-kerlip lampu, lambai cahaya lilin, pria wanita tua muda dalam balutan songke Manggarai, daras doa serta lantunan puja dan puji dalam lagu mengiring kunjungan Bunda ke rumah anak-anaknya. Bunda diarak dari Gereja Katedral Ruteng tanggal 1 Mei 2013 menuju ke wilayah I. Ditahtakan selama dua sampai tiga malam di setiap wilayah, arak-arakan secara berurutan diteruskan ke wilayah XIII, Wilayah XI, Wilayah XII, Wilayah X, Wilayah IX, Wilayah VIII, Wilayah VII, Wilayah VI, Wilayah III, Wilayah IV, Wilayah V, Wilayah II dan kembali ke Katedral Ruteng pada 31 Mei. Sebuah perjalanan sebulan penuh. 

“Ini baru ada kegiatan perarakan Bunda Maria lagi. Terakhir kegiatan begini pas kami SD dulu” kata Ikka, seorang gadis dari wilayah XI pada malam mengantar Bunda ke wilayah XII. Ikka akan segera kuliah tahun ini setelah menamatkan sekolahnya di SMAK St. Fransiskus; berarti peristiwa itu telah terjadi lebih dari enam tahun silam. Sebuah waktu yang lama untuk tradisi manis yang disambut antusias di setiap wilayah. 

Ya, antusias; semua wilayah berhias, gerbang wilayah dirias, rumah tempat Bunda ditahtakan diperlakukan sama, jalanan ramai oleh umbul-umbul, spanduk dan obor. ‘Selamat Datang Bunda Maria’ dibentangkan selebar jalan, tuak curu toe mu’u kanang menjadi bagian penting. “Antusiasme sebesar ini sangat mengagumkan. Kita membayangkan bahwa perarakan patung ini akan baik, tetapi kita menemui situasi yang justru jauh lebih hebat. Luar biasa!” kata Ketua DPP Erlan Yusran. 

Sementara itu, Ketua Wilayah VII Paul Hasiman bercerita betapa kunjungan Bunda Maria telah membangkitkan kebersamaan dan terutama keterlibatan kaum muda pada kegiatan gerejani. “Bunda Maria ditahtakan di Mbaru Gendang, dan sepanjang itu umat bergantian berjaga, tuguran sampai pagi, terutama kaum muda,” paparnya. Wilayah lain juga melakukan hal yang tak kalah hebatnya. Mereka sedang berlomba? Tentu tidak. Bahwa ada sebagian lain yang melihat ini sebagai perlombaan, sangat mungkin. Tetapi sesungguhnya berbagai kemeriahan yang muncul pada peristiwa ini tidak sedang ditujukan untuk dilombakan. Satu wilayah tidak sedang ingin menang atas wilayah lainnya. 

Bulan Maria di Katedral, Sebuah Catatan

Foto | Kaka Ited

Berbagai persiapan, latih melatih tari-tarian, kelompok ronda, obor, spanduk dan lainnya bukan tontonan yang diharapkan mengundang decak kagum. Semua terjadi begitu saja sebagai ungkapan kegembiraan: Bunda Maria berkunjung secara istimewa ke wilayah kami. Demikianlah, Bunda Maria itu istimewa, berkunjung secara istimewa maka bukankah sebuah kelayakan, disambut dalam kegembiraan yang istimewa pula? 

‘Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu’, demikian kata-kata magis Sang Bunda yang menginspirasi seluruh umat untuk berserah pada Tuhan. Maka tanpa bermaksud mengutak-atik rahasia Tuhan, hati kecil saya bilang: Tuhan mestilah berkehendak agar Bunda mendapat tempat istimewa di hati umatnya, disambut secara istimewa; bukan hanya spanduk tetapi hati yang istimewa. Ah…, sekali lagi itu rahasia Tuhan. Yang bukan rahasia adalah kerinduan dari umat Katedral agar kegiatan seperti ini kelak menjadi tradisi. Bunda berkunjung dan kita berkanjang dalam doa: Let It Be! 

DPP Katedral Ruteng jelas berterima kasih untuk partisipasi umat pada kegiatan ini dan akan tetap melaksanakan kegiatan serupa pada waktu-waktu mendatang. Pastor Paroki Katedral Rm. Daniel Sulbadri, saat misa penutupan Bulan Maria di Gereja Katedral Ruteng mengucapkan terima kasih kepada pengurus wilayah, komunitas basis dan seluruh umat atas kerja keras berbuah cerita manis pada kunjungan Bunda ke setiap wilayah. “Semoga kunjungan tersebut menguatkan iman kita dan menumbuhkan kesadaran untuk hidup seturut teladan Bunda Maria,” kata Romo Deny.

Maka sungguh manislah kita semanis hati Bunda, andai kegiatan sepanjang Bulan Maria kemarin tidak selesai pada obor, lilin dan lainnya. Mestilah tumbuh semacam kesadaran bersama bahwa Iman itu Indah, sebagai kita menghias ujung kampung dan jejalanan; sehingga tidak hanya tampak muka segala kegiatan kita tetapi mengakar dan menjadi pegangan. Terima kasih.

Salam
Armin Bell – Admin Web DPP Katedral Ruteng
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

2 gagasan untuk “Bulan Maria Di Katedral, Sebuah Catatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *