Bulan Mei, Belajar dari Bunda Maria

Misa pembukaan Bulan Maria di Gereja Katedral Ruteng dilaksanakan hari Rabu (1/5) kemarin mulai jam 17.00 WITA. Perayaan ekaristi tersebut dipimpin oleh Pastor Kapelan Katedral Ruteng Rm. Beben Gaguk Pr, bersama Pastor Paroki Katedral Ruteng Rm. Daniel Sulbadri Pr. Perayaan ekaristi tersebut diikuti ribuan umat Katedral; koor ditanggung oleh Paduan Suara Sangkakala.

Bulai Mei, Belajar dari Bunda Maria

Rm. Deny Sulbadri saat perarakan Patung di Waso | Foto: Kaka Ited

Dalam kotbahnya Romo Beben memberi ilustrasi tentang doa yang kerap didaraskan oleh umat. Menurutnya, “Kita sering mendoakan keinginan-keinginan kita, sedangkan Allah menjawab dengan memberikan apa yang menjadi keperluan atau kebutuhan kita.” Lanjutnya, untuk itulah ketika berdoa, kita seharusnya belajar dari Bunda Maria yang selama hidupnya menyerahkan setiap hal pada kehendak Tuhan dengan mengungkapkan: Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu! Karenanya Romo Beben berharap agar di bulan Mei ini, kita semua meneladani Maria, Bunda segala bangsa.

Usai misa, rangkaian pembukaan bulan Maria di Katedral Ruteng dilanjutkan dengan proses perarakan patung Bunda Maria dari Gereja Katedral ke Wilayah I. Selanjutnya sampai akhir bulan Mei ini, patung Bunda Maria akan diarak ke seluruh wilayah di Katedral Ruteng dan ditahtakan tiga hari di setiap wilayah. Sementara itu di setiap wilayah per komunitas umat basis (KUB), seperti biasa akan dilaksanakan doa rosario dari rumah ke rumah yang dikenal dengan sebutan Ngaji Giliran sepanjang bulan Mei ini. Misa penutupan Bulan Maria akan dilaksanakan di Gereja Katedral Ruteng pada tanggal 31 Mei mendatang.

Dalam tradisi Gereja Katolik, Devosi mengkhususkan bulan Mei sebagai bulan Maria diperkenalkan sejak akhir abad ke 13. Namun praktek ini baru menjadi populer di kalangan para Jesuit di Roma pada sekitar tahun 1700-an, dan baru kemudian menyebar ke seluruh Gereja. Pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh para serdadu Napoleon, dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus memohon dukungan doa Bunda Maria, agar ia dapat dibebaskan dari penjara. Paus berjanji bahwa jika ia dibebaskan, maka ia akan mendedikasikan perayaan untuk menghormati Bunda Maria.

Lima tahun kemudian, pada tanggal 24 Mei, Bapa Paus dibebaskan, dan ia dapat kembali ke Roma. Tahun berikutnya ia mengumumkan hari perayaan Bunda Maria, Penolong umat Kristen. Demikianlah devosi kepada Bunda Maria semakin dikenal, dan Ketika Paus Pius IX mengumumkan dogma “Immaculate Conception/Bunda Maria yang dikandung tidak bernoda” pada tahun 1854, devosi bulan Mei sebagai bulan Maria telah dikenal oleh Gereja universal.

Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, the Month of Mary mengatakan, “Bulan Mei adalah bulan di mana devosi umat beriman didedikasikan kepada Bunda Maria yang terberkati,” dan bulan Mei adalah kesempatan untuk “penghormatan iman dan kasih yang diberikan oleh umat Katolik di setiap bagian dunia kepada Sang Ratu Surga. Sepanjang bulan ini, umat Kristen, baik di gereja maupun secara pribadi di rumah, mempersembahkan penghormatan dan doa dengan penuh kasih kepada Maria dari hati mereka. Pada bulan ini, rahmat Tuhan turun atas kita … dalam kelimpahan.” (Paus Paulus VI, the Month of May, 1). (bell/*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *