Cerita Natal Romo Beben dari Passau 2

Pada bagian sebelumnya, cerita Natal Romo Beben dari Passau berkisah tentang pengalamannya mengikuti Natal pertama di kota tiga sungai di Jerman. Ada cerita tentang Pasar Natal sampai kisah tentang kebiasaan orangtua mendongengkan  cerita Natal untuk anak-anaknya. Kali ini, penulis buku kumpulan naskah drama “Pastoral Panggung” ini membagi cerita tentang gemerlap lampu dan perayaan malam Natal di Passau. Selamat membaca…

cerita natal romo beben dari passau 2

Lampu Natal di Passau

Lampu dan Pohon Natal

Hampir di semua tempat umum terdapat assesoris Natal. Gedung-gedung tinggi dihiasi pelbagai macam lampu. Demikian pun pohon Natal dapat ditemukan di banyak tempat stretegis. Bahannya asli dari pohon cemara yang menjulang tinggi. Selain itu, orang juga menghiasi halaman rumah dengan assesoris Natal. Sebagian besar rumah di sini memiliki halaman yang cukup luas dan pohon cemara kecil. Mereka pun menghiasinya dengan lampu Natal yang berwarna-warni. Tetapi mereka punya lampu tidak pake kelap-kelip e ha ha ha. Ada juga yang menempatkan lilin atau lentera di depan pintu rumah. Situasi ini membuat saya merasa berada di Ruteng.

Sedangkan untuk Pohon Natal di dalam rumah, baru akan dihiasi pada tanggal 23 Desember. Bahannya juga asli dari Cemara Kecil yang dibeli dari para Petani yang khusus membudidayakan pohon tersebut. Seluruh anggota keluarga bersama-sama menghiasi pohon Natal. Saya tidak dilibatkan oleh keluarga Yohenes dalam proyek penghiasan tersebut. “Kejutan untukmu nanti“ katanya.

(Baca bagian sebelumnya untuk mengetahui dengan siapa Romo Beben merayakan Natal tahun ini: Cerita Natal Romo Beben dari Passau 1)

Adventkranz

Adventkraz merupakan rangkaian daun cemara, yang di atasnya ditempatkan empat batang lilin Advent. Menariknya di sini, barang tersebut tidak saja terdapat di Gereja seperti di Ruteng, tetapi juga di rumah-rumah pribadi. Setiap minggu lilin itu dinyalakan, khususnya pada saat keluarga berkumpul, seperti saat makan siang. Dan saya sendiri bertugas membakar lilin tersebut setiap kali saat makan siang pada hari minggu di keluarga Yohanes. Selain itu, ada Adventkranz raksasa yang ditempatkan di depan Gereja Katedral.

Rorate

Rotate adalah misa subuh pukul lima pagi yang dijalankan setiap hari Jumat selama Masa Advent. Misa ini hanya diterangi lilin, yang menunjukkan penantian umat manusia akan hadirnya terang Sejati. Saya sekali mendapat kesempatan memimpin misa ini. Setelah misa, umat bersama Imam sarapan bersama di aula paroki. Saya juga tentunya turut serta dalam acara ini, hitung-hitung sebagai ganti sarapan pagi sebelum kursus 😀

Nikolas

Orang-orang di sini menyebut Nikolas. Bukan Sinterklas. Pada tanggal 5 Desember, Nikolas akan membagikan hadiah kepada anak-anak. Sama seperti di Katedral Ruteng, orang tua harus mendaftarkan diri di Paroki, beserta catatan nasihat dan hadiah. Tetapi bedanya, Nikolas jalan diam-diam pada malam hari untuk menjumpai anak-anak. Ada hal yang menarik terkait hadiah untuk anak-anak ini. Di beberapa tempat umum, terdapat pohon Natal Caritas. Anak dari keluarga yang tidak mampu menulis permintaannya pada sebuah kertas yang digantung pada pohon tersebut, lengkap dengan alamatnya. Jika ada keluarga mampu yang ingin memberikan hadiah, dapat mengambil alamat itu dan kemudian menyiapkan hadiah sesuai permintaan si anak. Bingkisan tersebut diantar ke pihak Caritas, semacam lembaga yang membantu orang miskin, yang kemudian dibawa oleh Nikolas sesuai alamat yang tercantum.

Sedikit di luar tema. Ternyata di sini banyak juga keluarga yang kurang mampu, entah karena tidak mempunyai pekerjaan maupun sakit atau alasan lain. Ada kelompok yang membantu keluarga-keluarga ini. Yang mereka buat adalah mengumpulkan sembako atau sayur yang tidak terjual, atau yang mendekati masa kadaluarsa di supermarket atau di restaurant, dan kemudian menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan.

Malam Natal, 24 Desember

Di Paroki Sankt Kondrad-Sankt Korona, misa malam Natal terjadi dua kali. Pertama, misa untuk anak-anak pada pukul 17.00. Kedua, misa tengah malam untuk orang tua, pada pukul 22.30. Pada Natal kali ini, saya mendapat tugas untuk merayakan misa untuk anak-anak, mendampingi Pastor Paroki, Pfarrer Lindmayer. Sebagaimana di Katedral, misa Natal penuh sesak dengan umat. Banyak yang tidak dapat tempat duduk dan terpaksa berdiri sepanjang misa. Hanya tidak sampai membangun tenda di luar Gereja. Ini tentu beda dengan hari biasa, di mana hanya tigaperempat Gereja saja yang terisi. Tetapi umat di Paroki ini sangat aktif dan hidup. Semua kegiatan apa pun diurus oleh Dewan dan pastor Paroki benar-benar hanya siap Misa.

cerita natal dari passau 2

Pasar Natal di Passau (Beritanya dapat dibaca di bagian 1)

Sebelum misa, sekelompok Anak TK dan SD -semacam SEKAMI di Katedral Ruteng-, mementaskan Aktus Kelahiran Yesus, mulai dari peristiwa Kabar Gembira sampai kelahiran di Betlehem. Melalui pentasan itu, sangat terasa atmosfer kelahiran Yesus duaribuan tahun yang lalu. Mereka manfaatkan situasi “ngobrolnya” para gembala sebelum Malaikat datang membawa berita, untuk menceritakan situasi terkini. Pada Natal kali ini mereka ngobrol tentang sekelompok gembala lain yang terlantar di tengah padang akibat perebutan lahan sesama gembala. Mereka pun terpaksa mengungsi. Ini terkait situasi pengungsian di Eropa. Saat itu, saya membayangkan apa kira-kira yang dibicarakan para gembala seandainya dibuat di Katedral Ruteng. Mungkin tentang dua kelompok gembala yang tidak baku tegur karena beda pilihan 😀

Misa berjalan dengan baik sekali. Pada saat lagu penutup, lampu dipadamkan. Umat menyanyikan lagu Malam Kudus sambil memegang lilin dan berpegangan tangan dengan anggota keluarga yang lain. Saya tidak tahu bagaimana situasi misa tengah malam. Yang pasti tidak ada aktus, karena anak-anak kecil dorang sudah pulang.

Setelah misa, saya bersama keluarga Yohanes pulang ke rumah. Mereka mengajak saya untuk merayakan Malam Natal bersama. Kami mengelilingi pohon Natal, berdoa, membacakan kisah kelahiran Yesus dan menyanyi. Selanjutnya saling memberikan kado antaranggota keluarga. Saya menyanyikan Malam Kudus versi Indonesia dan Manggarai. Saya main keyboard setelah transpose ke-2, karena nada 1=C yang merupakan kunci satu-satunya andalan saya, terlalu rendah 😀 (bersambung)

Catatan: Pada bagian selanjutnya, Cerita Natal Romo Beben dari Passau akan hadir dengan suasana Hari Raya Natal hingga Tahun Baru.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *