Cerita Natal Romo Beben dari Passau 3

Dalam dua bagian catatan ini yang sudah diunggah beberapa waktu silam, Romo Beben, mantan Pastor Kapelan Katedral Ruteng bercerita tentang aneka kejadian pada masa Adven hingga Malam Natalnya yang pertama di Jerman. Kali ini, kisah Imam yang sedang studi lanjutan di negeri para komponis klasik itu adalah tentang Hari Raya Natal hingga rangkaian peristiwa setelahnya. Kado ini sekaligus telah tiba pada bagian akhir. Selamat membaca!

cerita natal romo beben

Usai Misa Tiga Raja

Hari Raya Natal

Hari ini misa dirayakan pada pukul 10.00. Jumlah umat tidak sebanyak malam Natal. Misa berlangsung Meriah dengan koor dan instumen khas Bayern, yang umumnya menggunakan alat musik tiup. Setelah misa, orang merayakan Natal bersama keluarga besar di rumah masing-masing. Jalanan sepi. Sebagaimana setiap kali hari libur, apalagi libur keagamaan, kendaraan umum tidak beroperasi. Demikian pun toko dan kios tidak ada yang buka. Oh ya di sini, tidak ada kios sebenarnya. Semua toko dipusatkan di satu tempat. Jika ingin membeli rokok, misalnya, terpaksa harus ke POM Bensin. Di situ ada toko yang dibuka 24 jam. Pada hari ini, keluarga di Jerman biasanya makan bersama keluarga suami, dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Hari ini kami pun makan bersama dengan keluarga besar dari Yohanes.

26 Desember

Hari ini, sebagaimana Gereja Katolik di dunia, kami merayakan Misa St Stefanus Martir. Setelah misa kami makan siang bersama. Jika kemarin, makan bersama keluarga besar Yohanes), maka hari ini kami makan siang bersama keluarga besar Monica (keluarga besar istri). Karena jumlah anggota keluarga besar Monica lumayan banyak, maka siang ini kami makan di rumah makan. Selanjutnya, kami kembali ke rumah orangtuanya Monika, yang kebetulan berdampingan dengan tempat tinggal saya, untuk ngopi dan mencicipi kue Natal. Kue itu dibawa oleh masing-masing anak untuk orangtuanya. Saat itu juga, orang tua Monica membagikan surat untuk untuk anak-anaknya yang berisi tentang cerita dan curhatan orang tua (Oma-Opa) untuk satu tahun yang telah berlalu, tentang anak-anak dan cucu-cucu mereka. Dan saya amat berbangga dan terharu, ketika nama saya juga turut diceritakan dalam surat tersebut: “Tahun ini, Tuhan menghadirkan ke tengah keluarga besar kita seorang imam dari Indonesia, namanya Pfarrer Benedikt Gaguk.” Demikian penggalan surat tersebut.

Silvester Tag

Orang menyebut hari tutup Tahun, 31 Desember, dengan Silvestertag, sebagai hari khusus untuk memperingati Uskup Silvester. Orang merayakan hari ini dengan penuh sukacita. Misa terjadi pada pkl 17.00. Selanjutnya, perayaan pergantian tahun di rumah masing-masing atau juga di restoran. Sebagian besar orang muda di Passau merayakan pergantian Tahun di sebuah jembatan yang terletak di pusat kota Passau. Innstag, namanya. Ini jembatan paling romantis di Passau dan hanya boleh dilewati pejalan kaki atau sepeda. Orang muda yang jadian di tempat ini, misalnya, akan mengabadikan hari jadi mereka pada sebuah “gembok” berwarna dan menggantungkannya pada rantai di jembatan tersebut.

cerita natal romo beben

Innsteg di Jerman

Di Passau tidak ada acara tutup tahun yang diselenggarakan secara umum, seperti misalnya di Motang Rua. Orang secara pribadi menembakkan kembang api di halaman rumah masing-masing. Perayaan yang dilakukan secara bersama dan teroganisir hanya di Berlin, München dan kota besar lainnya. Itu pun dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi, karena takut ancaman teror bom.

1 Januari

Hari pertama di Tahun Baru sangat sepi. Semua orang beristirahat. Tidak ada kendaraan umum yang lewat, sebagaimana setiap hari libur umumnya. Tempat perbelanjaan pun ditutup. Kecuali rumah makan. Misa hari ini terjadi sore hari, pada pkl 17.00.

Minggu 3 Januari

Misa pada hari ini terjadi pukul 09.00. Saya mendapat tugas memimpin Misa di Gereja Sankt Korona. Misa berlangsung khidmat dan meriah. Bersamaan dengan itu ada pemberkatan air, dupa dan kapur yang akan dipakai oleh tiga raja untuk mengunjungi umat. Rumah umat akan didupai dan diperciki dengan air berkat. Kemudian pada pintu rumah akan ditulis dengan kapur sebagai tanda bahwa Tiga Raja telah mendatangi rumah tersebut.

Pesta Tiga Raja, 6 Januari

Di Jerman, Pesta tiga raja terjadi pada hari ini. Dan merupakan hari libur keagamaan yang dirayakan secara Nasianal. Pada hari ini, tiga raja mengunjungi Bayi Yesus di Gereja dan menyapa umat yang hadir. Mereka memasuki Gereja sebelum persembahan, sambal membawa barang persembahan untuk Yesus, diiringi musik khas Timur Tengah. Dua hari sebelumnya, mereka berkunjung dari rumah ke rumah. Hasil sumbangan yang dikumpulkan dari umat pada saat kunjungan tersebut akan disalurkan ke gereja Aremika Latin.

***

Demikian cerita seputar Natal yang saya alami di Passau. Saya sendiri sudah mulai beradaptasi dengan baik dengan pola hidup dan budaya di Passau. Hampir semua jenis makanan khas Bayern dapat dikunyah dan ditelan dengan nyaman. Dengan bekal kursus yang saya peroleh, saya bisa ngobrol dengan banyak orang. Memang agak susah kalau ngobrol dengan kelompok usia muda, karena umumnya mereka menggunakan dialek Bayern, semacam bahasa Manggarai. Sekarang juga saya bisa memimpin Misa sendiri dan menyiapkan kotbah singkat. Saya akan melanjutkan kursus sampai C1 hingga Februari nanti, sebagai persyaratan untuk mengikuti perkuliahan.

Apa yang paling berkesan bagi saya selama ini, tidak lain adalah kehadiran keluarga Yohanes. Mereka baik sekali. Perhatian, cinta dan dukungan yang saya terima dari mereka, layaknya dari orangtua kandung sendiri. Mereka cemas, ketika wajah saya sedikit letih atau kelelahan. Mereka selalu memotivasi saya bahwa segalanya akan berjalan dengan baik. “Keine Angst, Benedikt. Wir stehen immer bei dir!” (Jangan takut Benedikt. Kami selalu berdiri di samping engkau! Kata Yohanes setiap saat.

Mereka nanti akan liburan di Indonesia, sekaligus mengantar Kae Yuvens pulang. Tepatnya di bulan September 2016. Beberapa hari mereka akan berlibur di Ruteng. Semoga bisa bertemu dengan mereka nanti. Akhirnya, selamat memasuki Tahun baru 2016. Semoga Tuhan senantiasa menyertai usaha dan tugas kita. Tetap menjadi orang baik bagi bagi keluarga, Gereja, dan tempat kerja masing-masing. Dan juga tetap menjadi pendoa untuk saya e. (habis)

Salam

RD Benediktus Gaguk – Passau, Jerman

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *