Hasil Sesi II Sinode III Keuskupan Ruteng

Sesi II Sinode III Keuskupan Ruteng telah selesai. Saat ini, panitia Sinode sedang menyiapkan pelaksanaan Sesi III. Pada surat gembala ini, Uskup Ruteng menulis hasil rekomendasi sesi II dan harapan untuk sesi III. Selamat membaca!

Surat Gembala Uskup Ruteng tentang Hasil Sinode III sesi II dan Menyongsong sesi III Sinode III Keuskupan Ruteng

Para imam, biarawan/wati, umat beriman Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Dalam bimbingan Roh Kudus, kita telah melaksanakan pada bulan April lalu Sinode III Sesi II yang membahas Pastoral Sosial Ekonomi dan Pastoral Sosial Pendidikan. Dua tema sangat penting dalam reksa pastoral Gereja Keuskupan Ruteng ini direfleksikan secara mendalam oleh bapak/ibu Sinode dalam suasana persaudaraan dan menghasilkan rekomendasi pastoral yang strategis berikut ini.

Dalam bidang Pastoral Sosial Ekonomi, Sinode menegaskan bahwa keterlibatan Gereja berpangkal pada teladan dan perutusan Yesus Kristus yang bersetiakawan dengan orang miskin, sakit, menderita dan tertawan (bdk. Lk 4:16-19). Berhadapan dengan krisi fundamental yang merasuki seluruh dimensi kehidupan terutama krisis ketidakadilan struktural yang menyebabkan kemiskinan, Gereja Keuskupan Ruteng ingin menjadi Gereja profetis yang diresapi dan dituntun oleh Roh Kudus untuk mendidik masyarakat agar berkembang dalam “kesadaran sosial kritis” (bdk. GS 45). Kesadaran sosial kritis ini tampak ketika Gereja menentang pemujaan lembu emas di kaki gunung Sinai (Kel. 32:1-5) yang dewasa ini tampil dalam wajah baru kapitalisme, materialisme dan konsumerisme (bdk. EG 55). Sebaliknya Gereja ingin ‘memperjuangkan sistem kehidupan ekonomi yang mengutamakan manusia, kejujuran, keadilan, kebenaran, solidaritas, subsidiaritas, kesejahteraan umum (bonum commune) dan integritas ciptaan (ekologi) di atas kepentingan modal dan keuntungan finansial (GS 63).

Sejalan dengan itu dalam dimensi sosial politis, Gereja mesti memerangi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang memperkaya sekelompok kecil orang dan memiskinkan mayoritas warga masyarakat. Gereja harus mengkritisi dan membongkar praktik kekuasaan yang menindas dan mengkesploitasi manusia melalui aturan, hukum dan institusi yang tidak benar (mekanisme normalisasi). Akhirnya dalam dimensi sosial budaya, Gereja mesti ‘melawan praktik-praktik budaya yang melanggengkan proses pemiskinan seperti pesta-pesta adat yang konsumtif dan judi.

Kesadaran sosial kritis ini meliputi juga kehidupan internal Gereja. Gereja mesti berani dan rela mengosongkan dan menelanjangi diri demi pembaruan hidup dan transformasi masyarakat menuju masyarakat adil dan sejahtera. Secara konkret hal itu tampak ketika Gereja membebaskan diri dari pesta-pesta gerejawi yang konsumtif. Lebih dari itu, Gereja perlu menenetang model kehidupan ‘ikut arus zaman‘ yang dikuasai oleh semangat materialistis dan konsumeristis dan mempromosikan gaya kehidupan alternatif; di mana yang menjadi pusat kehidupan bukanlah uang, tetapi manusia dan martabatnya yang luhur; bukan keuntungan ekonomis, tetapi solidaritas; bukan persaingan bebas tetapi pemihakan kepada yang lemah dan miskin.

Sinode juga menyoroti beberapa tema khusus sosial ekonomi. Pertama, dalam bidang kemiskinan Sinode merekomendasikan pastoral integral yang memberdayakan umat untuk keluar dari lilitan kemiskinan dalam kerjasama yang konstruktif dengan Pemerintah, lembaga LSM dan dunia usaha. Hal ini diupayakan dengan cara membangun kesadaran kritis-inovatif dan membaharui pola pikir bahwa kesejahteraan tidak hanya berasal dari pertanian, tetapi juga dari wirausaha. Untuk itu perlu digalakkan pelbagai kelompok ekonomi kreatif dalam bidang hortikultura, perikanan dan peternakan. Penting pula diupayakan pendidikan wirausaha yang mesti dimulai dalam keluarga-keluarga.

Sinode III secara khusus memberikan apresiasi kepada gerakan koperasi yang telah menjadi komitmen Sinode II tahun 2007. Gerakan ini tidak hanya perperan penting mengentaskan kemiskinan, tetapi juga menjadi gerakan pastoral di mana dapat bertumbuh nilai-nilai Kristiani, seperti solidaritas, tanggungjawab sosial, kejujuran dan subsidiaritas. Karena itu Sinode mendorong agen-agen pastoral untuk terlibat aktif dalam koperasi demi mewujudkan perkembangan dan keberlangsungan koperasi yang akuntabel, transparan, solid, mandiri dan solider. Sinode ini juga menghimbau umat untuk masuk dan terlibat menjadi anggota koperasi yang sehat.

Dalam pertanian organik, Gereja berkomitmen untuk mensosialisasikan pertanian organik melalui mimbar dan katekese serta menyadarkan umat akan dampak negatif pertanian kimia anorganik. Sejalan dengan itu Gereja ingin terlibat dalam penyuluhan, pelatihan dan pembuatan pupuk organik di semua paroki dan kelompok umat dalam wilayah Keuskupan Ruteng. Pendidikan pertanian organik perlu juga dimulai dari siswa-siswi di sekolah-sekolah.

Dalam bidang kesehatan Gereja berkomitmen mengembangkan pastoral kesehatan antara lain dengan membangun dan mengembangkan budaya hidup sehat dalam keluarga, tempat tinggal, lembaga pendidikan dan lingkungan kerja, membangun dan mengembangkan forum lonto leok kesehatan, menggalakkan penanaman sayur dan buah yang menunjang gizi keluarga yang dimulai dari halaman pastoran dan lembaga Gereja lainnya serta mengadakan gerakan jambanisasi yang sehat bagi keluarga, rumah pastoran dan biara di Keuskupan Ruteng.

Dalam bidang pariwisata, Gereja berupaya mengembangkan pastoral pariwisata yang menjamin kelestarian, keutuhan dan keterkaitan nilai-nilai Injili dan budaya lokal serta memberi kesaksian tentang kehadiran Kerajaan Allah yang menyelamatkan.Umat hendaknya memanfaatkan secara kreatif peluang positif pariwisata dan secara kritis menolak dan memberantas dampak negatif pariwisata. Hal ini dapat dilakukan melalui: pendidikan kepariwisataan, pelestarian tradisi budaya lokal, pengembangan inkulturasi dan pembangunan lokasi wisata rohani menjadi pusat ziarah. Selain itu Sinode mengajak umat di daerah pariwisata agar tidak menjual tanah miliknya. Sinode juga menghimbau Pemerintah dan DPRD untuk membuat regulasi yang menjamin kedaulatan hidup, pelestarian kekayaan nilai budaya, aset serta partisipasi masyarakat lokal dalam dunia pariwisata.

Para imam, biarawan/wati, umat beriman Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Selain bidang Pastoral Sosial Ekonomi, Sesi II Sinode III merefleksikan juga secara khusus tema Pastoral Sosial Pendidikan. Dalam konteks krisis mental dan sistemik yang ada, Gereja ingin memelopori gerakan ‘kesadaran sosial kritis (bdk GS 45) dan berani hadir sebagai garam dan terang dunia (bdk. Mat 5:13-14)’. Hal ini tampak secara nyata dalam upaya Gereja memerangi struktur-struktur yang membelenggu kesadaran manusia dan mengupayakan pendidikan yang membebaskan (bdk. Luk 4:19)

Pendidikan yang membebaskan berarti bahwa pendidikan bukanlah perkara kognitif semata yang diukur oleh angka-angka nilai ujian melainkan suatu proses pemanusiaan manusia muda agar mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (bdk. Yoh 10:10). Tujuan pendidikan bersifat integral yakni menumbuhkan dalam diri anak-anak dan kaum remaja secara laras serasi bakat, pembawaan fisik, moral dan intelektual mereka, mendukung mereka untuk melibatkan diri dalam kehidupan sosial dan agar mereka semakin mengenal serta mengasihi Allah (GE 1).Sambil bersyukur atas segala berkat Tuhan dalam penyelenggaraan pendidikan di masa silam, Gereja Keuskupan Ruteng ingin mengusahakan secara sungguh-sungguh di masa depan: penyelenggaraan Lembaga Pendidikan Katolik berlandaskan nilai-nilai Kristiani (bdk, GE 8; Kol 3). Penanaman nilai-nilai Kristiani ini mesti juga menjadi program pastoral yang dilakukan dengan intensif di sekolah- sekolah Negeri. Pendidikan Nilai Kristiani mencakupi ‘Aspek Liturgis‘ yakni seseorang dibina untuk menghayati hidupnya dalam kekudusan (Ef 4:22-24); ‘Aspek Personal‘ agar seseorang mencapai kedewasaan penuh serta bertumbuh sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef 4:13); ‘Aspek Eklesial‘ agar seseorang terlibat dalam pertumbuhan Gereja Tubuh Mistik Kristus; ‘Aspek Misioner’ agar seseorang menyadari panggilannya dan dapat memberikan kesaksian serta mendukung perubahan dunia menurut tata nilai Kristen (GE 2).

Secara khusus dalam bidang Pendidikan Dasar dan Menengah, Gereja Keuskupan Ruteng berupaya untuk mengembangkan sistem pendidikan yang mengutamakan proses dan bukan berorientasi pada hasil pembelajaran yang kuantitatif, serta membangun sistem pembelajaran yang mendorong peserta didik menjadi pribadi yang aktif, kritis dan kreatif bukannya peserta didik yang mem-bebek dan mem-beo. Dalam hal ini mesti dimulai dari lingkungan pendidikan yang kondusif dan konstruktif bagi para peserta didik sejak usia dini (PAUD-TK). Untuk itu diperlukan manajemen sekolah yang profesional, akuntabel, transparan dan responsibel, manajemen pembelajaran yang partisipatif, kritis, kreatif dan kontekstual serta etos kerja yang baik dari insan-insan pendidikan seperti guru, kepala sekolah, pegawai dan tenaga kependidikan lainnya.

Untuk menunjang hal ini, Sinode menyadari pentingnya kehadiran asrama-asrama sebagai sarana pendampingan dan pembinaan siswa-siswi yang integral. Lembaga pendidikan berasrama juga berfungsi sebagai wadah kaderisasi awam dan calon-calon imam yang handal. Karena itu asrama-asrama mesti dikelola secara intensif, profesional, kristiani dan bertanggungjawab. Di sini penting sekali kehadiran biara-biara di Keuskupan Ruteng, yang hendaknya semakin terlibat dalam pendidikan asrama pada khususnya maupun karya pastoral pendidikan Keuskupan pada umumnya. Karya pastoral pendidikan dan asrama ini hendaknya juga tidak melupakan para peserta didik yang berkebutuhan khusus. Dalam bidang Pendidikan Tinggi, Sinode mendukung upaya peningkatan status STKIP St. Paulus Ruteng menjadi universitas untuk menjawabi kebutuhan masyarakat sambil tetap memperhatikan mutu pelayanan demi melahirkan cendikiawan yang berilmu dan beriman. Sinode juga mendorong STIPAS St. Sirilus Ruteng agar berkembang menjadi lembaga formasi para katekis/guru agama yang berkualitas. Tidak lupa sinode mengapresiasi pendirian STIKES St. Paulus Ruteng yang diharapkan dapat menjadi lembaga yang mempelopori kesehatan, khususnya dalam menyiapkan tenaga keperawatan dan kebidanan bagi masyarakat.

Lembaga-lembaga Pendidikan Tinggi ini didorong oleh Sinode untuk mengembangkan proses pembelajaran dan penelitian serta pengabdian masyarakat yang berkualitas sehingga para mahasiswa sungguh-sungguh dapat menjadi tenaga kerja kreatif, inovatif, berdaya saing dan mandiri. Dalam proses itu janganlah dilalaikan segi iman sehingga ilmu dan iman berpadu mencari kebenaran tunggal, sehingga mahasiswa/i dapat menjadi tokoh yang unggul ilmu pengetahuannya, siap siaga mengabdi masyarakat dan menjadi saksi iman di dunia (GE 10). Untuk itu diperlukan juga pengembangan asrama dan pemondokan mahasiswa/i sebagai wadah pembinaan dan pendampingan untuk menanamkan nilai-nilai kristiani dalam penghayatan hidup sehari-hari.Berkaitan dengan peranan Yayasan Sukma, Sinode mengamanatkan mutlaknya revitalisasi dan reformasi

lembaga ini agar menjadi lembaga penyelenggara pendidikan dengan struktur baru yang ramping dan terfokus sehingga mampu menjawabi tuntutan dan persoalan pendidikan serta mampu mengarahkan lembaga pendidikan yang dikelolanya secara efektif dan efisien sesuai dengan kebijakan pastoral pendidikan Keuskupan Ruteng. Terhadap persoalan krisis guru yang dihadapi Yasukma, Sinode memutuskan untuk membuat petisi kepada pemerintah pusat untuk menolak kebijakan penarikan guru-guru negeri (guru PNS) dari sekolah swasta dan menjamin penempatan guru-guru PNS di sekolah swasta sebagai wujud tanggun jawab Negara terhadap pendidikan. Selain itu, Keuskupan Ruteng perlu membuat MoU dengan tiga pemerintah daerah di Manggarai Raya untuk menjamin eksistensi dan identitas SDK-SDK dan menguatkan peran Yasukma sebagai penyelenggara pendidikan 265 SDK.

Berkaitan dengan tanah-tanah SDK yang merupakan milik Keuskupan Ruteng, Sinode memutuskan untuk tidak menyerahkannya kepada pihak ketiga. Tanah-tanah yang masih belum terpakai dibutuhkan baik oleh SDK itu sendiri maupun diperlukan untuk pengembangan pastoral pendidikan dan pengembangan pastoral Paroki di masa depan. Oleh sebab itu Sinode mewajibkan Paroki untuk menjaga dan ikut bertanggungjawab dalam proses sertifikasi dan pengelolaan tanah-tanah Gereja tersebut sesuai dengan kebijakan Keuskupan. Kebijakan pastoral pendidikan termasuk kepemilikan dan pengelolaan aset tanah ini hendaknya senantiasa terbuka terhadap tuntunan Roh Kudus serta tanda-tanda zaman.

Para imam, biarawan/wati, umat beriman Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Pada tanggal 22 – 25 September 2014 proses Sinode III Keuskupan Ruteng memasuki sesi III dengan tema Pastoral Keluarga, Kaum Muda dan Anak-anak. Tema-tema ini sangatlah penting karena berkaitan dengan pergulatan hidup kita sehari-hari. Tetapi lebih dari itu tema-tema ini adalah bagian integral dari pewartaan injil. Keluarga misalnya bukan hanya sel masyarakat tetapi juga Gereja mini. Melalui keluarga, persekutuan kasih ilahi dihayati secara nyata oleh umat beriman dalam komunitas-komunitas inti. Justru karena itu pulalah Paus Fransiskus telah memanggil para Uskup sedunia untuk mengikuti Sinode Luar Biasa pada bulan Oktober 2014 di Roma untuk membicarakan tema keluarga. Sejalan dengan gerakan Gereja universal ini, Gereja Keuskupan Ruteng ingin menemukan kembali kekayaan iman keluarga sekaligus menyadari masalah-masalah yang membelit kehidupan keluarga dewasa ini. Dewasa ini ada banyak tantangan dalam kehidupan keluarga.

Dalam diskusi-diskusi persiapan di pelbagai kelompok umat, panitia Sinode menemukan masalah-masalah berikut ini: komunikasi yang kurang harmonis dalam kehidupan keluarga, kesulitan mendidika anak dalam keluarga, gaya hidup konsumtif dan hedonis yang melanda kehidupan keluarga, kesenjangan antara nilai moral perkawinan Katolik dan kenyataan konkret kehidupan keluarga, merosotnya penghayatan iman dalam kehidupan keluarga, serta komersialisasi budaya Manggarai yang membelenggu hidup berkeluarga.

Dalam kehidupan kaum muda ditemukan persoalan-persoalan berikut: gaya hidup hedonis yang merasuki kaum muda dewasa ini, krisis identitas yang dialami kaum muda, pergaulan bebas dan seks bebas yang merebak di kalangan kaum muda, partisipasi kaum muda yang rendah dalam hidup menggereja dan organisasi OMK pada khususnya, melemahnya militansi dan kesaksian profetis kaum muda di tengah masyarakat dan dunia serta pengangguran yang sangat tinggi di kalangan kaum muda.

Dalam dunia kehidupan anak-anak, panitia Sinode menjaring dan memetakan masalah dominan berikut: pengaruh negatif teknologi komunikasi modern (televisi, internet, HP) terhadap anak-anak, gaya hidup materialistis yang merasuki kehidupan anak-anak, kepribadian anak-anak yang labil dan rentan terhadap pengaruh negatif lingkungan, anak-anak yang kehilangan suasana kasih dalam hidup keluarga dan lingkungan, kurangnya sarana-sarana yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh anak-anak serta masih banyaknya anak yang putus sekolah.

Kami mengajak seluruh umat untuk terlibat aktif dalam proses Sinode III sesi III ini guna mencari dan menemukan solusi pastoral atas pelbagai tantangan yang dialami kehidupan keluarga, kaum muda dan anak-anak di Keuskupan kita. Ikutilah pertemuan umat dalam bulan September, Bulan Kitab Suci Nasional yang dalam tahun ini diisi secara khusus dengan katekese umat tentang tema Sinode kita tersebut. Panjatkanlah tanpa henti doa kepada Allah agar Ia menerangi dan membimbing Sinode ini sehingga dapat menghasilkan arah dasar dan komitmen pastoral strategis bagi Gereja kita. Marilah kita persembahkan keluarga, kaum muda dan anak-anak di seluruh Keuskupan Ruteng ke dalam kasih penyelenggaraan ilahi agar dalam pelbagai kesulitan dan tantangan zaman dewasa ini mereka selalu berpegang teguh pada kebenaran iman Katolik dan menimba kekuatan dan sukacita dari perjumpaan dengan Allah. Marilah kita renungkan dan hayati kata-kta Santo Paulus ini: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rom 12:2).

Ruteng, 8 Agustus 2014

Uskupmu

Mgr. Hubertus Leteng

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *