Homili Minggu Biasa III 2016, Kita Berharga

Kita berharga adalah judul homili Minggu Biasa III tahun 2016 ini oleh RD Lian Angkur. Kotbah ini disampaikan saat Romo Lian memimpin Misa pada hari Sabtu (23/1) pukul 16.30 Wita di Gereja Katedral Ruteng. Selamat menikmati

Homili RD Lian Angkur

RD Lian Angkur

Kita Sungguh Berharga

Di hadapan banyak orang yang berkumpul di dalam Bait Allah, Yesus membacakan satu nas/ayat dari kitab Nabi Yesaya, yang berbunyi: “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan Kabar Baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta; untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk. 1:1-4; 4:14-21)

Pada dasarnya, ayat ini berbicara tentang diri Yesus dengan tugas perutusanNya di tengah dunia ini. Sehingga pada akhir pewartaanNya itu, Yesus katakan: “Pada hari ini genaplah nas tadi sewaktu kamu mendengarnya.” Dengan kata lain, kehadiran Yesus merupakan pemenuhan janji Allah yang dinubuatkan Nabi Yesaya. Sekali lagi dari ayat yang dibacakan tersebut, Yesus sedang memproklamasikan-memperkenalkan siapa diriNya dan untuk apa Ia diutus ke tengah dunia ini?

Pertama-tama, Ia memperkenalkan diriNya sebagai pribadi “yang diurapi” dan diutus Allah. Ia diurapi untuk sebuah tugas perutusan yang sangat luhur yaitu membebaskan dan menyelamatkan dunia. Terkait dengan tugas perutusan ini, terdapat beberapa kelompok orang yang menjadi sasaran pertama atau prioritas perhatian dan sentuhan Yesus, sebagaimana yang sebutkan di dalam ayat tadi, yaitu: orang-orang miskin, orang-orang tawanan (yang dipenjara)-orang berdosa, orang-orang buta dan sakit, dan orang-orang yang tertindas.

Seringkali orang-orang seperti ini masuk ke dalam kelompok orangyang kurang beruntung; mengalami nasib malang, entah karena kesalahan mereka sendiri atau juga karena perlakuan orang lain. Mereka kerap kali merasa diri tidak berarti dan kemudian tidak lagi berharga di mata sesama atau masyarakat. Mereka sering menjadi kelompok orang yang terlupakan dan dipandang sebelah mata oleh sesamanya. Tetapi,saudara-saudariku! Mengapa mereka menjadi orang-orang pertama yang disapa, disentuh, dan menjadi fokus perhatian Yesus?

Pertama-tama, hal ini mau menunjukkan bahwa Yesus adalah gambaran-pancaran wajah dan hati Allah yang Maharahim dan penuh bekas kasih. Allah menerima dan merangkul semua orang apa adanya, dengan segala kekurangan, keterbatasan, dan dosanya. Dengan itu juga, Yesus sedang mengajarkan bahwa setiap orang itu berharga di mata Allah dan layak dicintai.

Pandangan atau keyakinan ini jugalah yang mendasari pewartaan Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (Bc II) tadi. Paulus mengibaratkan setiap orang seperti anggota-anggotadari satu tubuh yang sama. Ada kaki, ada tangan, mata, telinga, mulut, hidung, dan lain-lain, yang membentuk satu tubuh. Masing-masing anggota tubuh ini penting, sekecil, selemah, atau seburuk apa pun dia. Tidak ada yang lebih penting dari yang lain. Mata tidak lebih penting dari telinga; kaki tidak lebih penting dari tangan; mulut tidak lebih penting dari hidung. Sehingga jarang bahkan tidak pernah terjadi, di mana seseorang katakan: karena tangan tidak penting,maka dipotong saja. Atau karena mata tidak penting, dicungkil saja. Sekali lagi, semua anggota tubuh itu penting!Lebih jauh Rasul Paulus katakan bahwa, masing-masing anggota, masing-masing orang telah dianugerahi talenta, bakat, karunia, dan kemampuan khusus dan unikuntuk menunjang hidupnya.

Bertolak dari komentar kita atas isi pewartaan dari bacaan-bacaan suci tadi, terdapat satu-dua pelajaran sekaligus pesan yang boleh kita petik dan renungkan selanjutnya.

Pertama, Allah menerima dan menghargai setiap orang apa adanya, dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Dengan demikian, jika Allah telah berlaku demikian, mengapamasih ada orang yang kurang bahkan tidak menerima dan menghargai dirinya sendiri apa adanya? Hal ini dirasa penting untuk kembali diingatkan, karena ada orang-orang tertentu yang tidak tidak puas dengan diri dan berusaha menolak bahkan “mengutuk” dirinya sendiri.

Dalam rangka mengantisipasi kecenderungan negatif seperti ini, sekali lagi, saat ini, masing-masing kita kembali diajak untuk menerima dan menghargai diri sendiri apa adanya.Selanjutnya salah satu bentuk penghargaan kita adalah dengan tidak merusak diri dengan hal-hal yang negatif. Kita juga diminta untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi, bakat, dan kemampuan yang telah diberikan Tuhan.

Kedua, jika setiap manusia itu berharga, maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk memperlakukan orang lain secara tidak adil atau meremehkan orang lain. Setiap orang diingatkan untuk senantiasa menerima, menghormati, dan menghargai orang lain. Lebih dari itu, sebagaimana halnya tujuan utama perutusan Tuhan Yesus, kita diajak untuk menerima, merangkul, dan peduli terhadap orang-orang yang kurang beruntung; yang miskin, sakit, yang dikucilkan, dan yang ditindas.

Suatu ketika seorang kakek berada di sebuah taman kecil. Di dekat kakek tersebut, beberapa anak sedang asyik bermain pasir sambil membentuk lingkaran. Kakek itu menghampiri mereka dan berkata, “Siapa di antara kalian yang mau uang 50 ribu ini?” Semua anak itu berhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan sambil memasang muka manis penuh senyum dan harap. Kemudian, kakek itu berkata, “Kakek akan memberikan uang ini setelah kalian semua melihat ini.”

Apa yang dibuat sang kakek? Kakek tersebut kemudian meremas-remas uang itu hingga lusuh. Diremasnya terus hingga beberapa saat. Lalu, ia kembali bertanya, “Siapa yang masih mau dengan uang lusuh ini?” Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan. “Tapi, kalau kakek injak bagaimana?, Lalu, kakek itu menjatuhkan uang itu ke pasir dan menginjaknya dengan sepatu. Dipijak dan ditekannya dengan keras uang itu hingga kotor. Beberapa saat kemudian, ia mengambil kembali uang itu dan bertanya, “siapa yang masih mau uang ini?” Tetap saja. Anak-anak itu mengacungkan jari mereka, bahkan hingga mengundang perhatian setiap orang.

Kini, hampir semua yang ada di taman itu mengacungkan tangan. Sejelek apa pun kondisinya, uang itu tetap berharga di mata anak-anak tadi. Nilai uangnya tidak berubah, tetap 50 ribu. Anak-anak itu tetap ingin menerima dan memiliki uang tersebut.

Mungkin kita pernah bahkan sering merasa tidak berharga karena kekurangan atau keterbatasan yang ada. Meskipun kebanyakan orang juga menganggap bahwa kita tidak berguna-tidak berharga, karena barangkali kita “lusuh” atau “kotor” karena dosa, seperti uang 50 ribu tadi, Tuhan tetap memandang dan menerima kita sebagai makhluk yang diciptakan setara denganNya. Kita senantiasa berharga di mata Tuhan. Karena itu, terima dan hargailah diri dan hidup kita sendiri dan orang lain, sebagaimana Tuhan telah menerima dan menghargai diri kita apa adanya. Semoga! (*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *