Homili Minggu Biasa XI, Kerajaan Allah

Pada Minggu Biasa XI, RD Lian Angkur, Pr dalam homilinya berbicara tentang menjadi pohon kasih Allah. Homili ini disampaikan pada Misa pertama hari Minggu, 14 Juni 2015 di Gereja Katedral Ruteng.

Homili Minggu Biasa XI, Kerajaan Allah

RD Lian Angkur

Bertumbuh Menjadi “Pohon Kasih” Allah

Oleh RD Lian Angkur, Pr

Injil hari ini berbicara tentang Kerajaan Allah (Mrk 4:26-34). Ketika berbicara tentang kerajaan (pemerintahan), sekurang-kurangnya, yang ada dalam benak kita adalah siapa raja yang memerintah, siapa yang diperintah (warga kerajaan), seberapa luas wilayah kerajaan, dan bagaimana peran sekaligus cara seorang pemimpin/seorang raja menjalankan pemerintahannya, serta apa tujuan terbentuknya sebuah kerajaan/negara tersebut. Itu adalah unsur-unsur penting dalam sebuah kerajaan/pemerintahan dunia yang kita kenal.

Lalu, bagaimana dengan Kerajaan/Pemerintahan Allah?

Pada prinsipnya, unsur-unsur Kerajaan Allah tidak berbeda jauh dari yang berlaku di dalam sebuah kerajaan dunia. Pertama-tama, di dalam Kerajaan Allah, raja yang memimpin adalah Allah sendiri. Yang dipimpin (warga Kerajaan Allah) adalah orang-orang yang percaya. Namun, hal yang unik adalah soal wilayah kerajaan, cara Allah meraja/memerintah, dan proses bertumbuh-berkembang serta sasaran yang mau dicapai dari terbentuknya Kerajaan Allah itu.

Wilayah Kerajaan Allah adalah hati manusia yang percaya. Selanjutnya dalam Injil tadi, Yesus menjelaskan tentang ciri khas dari Kerajaan Allah yang berkaitan dengan cara Allah meraja-bekerja, proses bertumbuh, dan tujuan berdirinya Kerajaan Allah itu. Untuk mempermudah pemahaman para pendengarNya, Yesus menampilkan dua perumpamaan mengenai kerajaan Allah; keduanya diambil dari dunia pertanian. Pertama, Kerajaan Allah itu ibarat benih yang ditabur oleh petani, dan petani itu harus sabar menunggu tanpa mengetahui secara persis proses pertumbuhannya. Pertumbuhan benih ini mau menggambarkan pertumbuhan Kerajaan Allah. Kedua, adalah biji sesawi yang tumbuh menjadi besar: “ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran dan pohon yang lain, dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Sekali lagi, hati orang beriman, hati kita, adalah tempat/wilayah kerajaan Allah. Karena itu, proses bertumbuhnya benih itu menunjuk pada proses pertumbuhan iman seseorang. Dengan demikian, dari kedua perumpamaan tadi, kepada kita disajikan beberapa butir permenungan berikut ini.

Pertama, pertumbuhan benih yang tidak diketahui dan di luar kendali seorang petani menunjukkan kebesaran kuasa Allah. Allah yang memulai dan memberikan pertumbuhan itu dan manusia hanya membuka hati dan wajib pasrah atas kuasa Allah yang sedang bekerja di dalam dirinya. Dan selanjutnya bersama dan di dalam Allah, kita berusaha untuk menumbuhkan atau mengembangkan segala apa yang kita miliki dengan penuh kesabaran, ketekunan, kerendahan hati, dan penuh rasa syukur.

Kedua, sesawi, sebagai biji terkecil dari semua jenis biji sayuran, bertumbuh menjadi pohon atau sayuran yang besar dan lebat. Hal ini berarti bahwa, Allah bekerja mulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana tetapi dengan hasil yang luar biasa. Contoh: Gereja kita lahir dan dimulai oleh sekelompok kecil rasul, tetapi karena kuasa Allah bekerja di dalamnya maka Gereja berkembang pesat hingga saat ini. Bahkan sekelompok rasul itu adalah orang-orang kecil; dari kelas bawah, tidak berpendidikan, tetapi karena lagi-lagi, hati mereka terbuka dan pasrah pada kuasa Allah, mereka pun beralih menjadi saksi-pewarta yang berani dan handal. Pesan lainnya adalah seseorang diminta untuk setia pada tugas, pekerjaan, dan perkara-perkara kecil.

Ketiga, hal lain yang ditonjolkan dalam perumpamaan itu adalah proses bertumbuhnya benih-benih itu sampai ia menjadi pohon yang besar. Bicara tentang proses berarti berbicara soal waktu. Artinya, untuk bertumbuh dalam iman dan menikmati hasilnya, seseorang perlu sabar dan tabah. Sehubungan dengan proses pertumbuhan ini, Paulus dalam Bacaan Kedua, 2 Kor. 5:6-10, menampilkan perlunya kegigihan dan ketabahan: “hati kami senantiasa tabah dan sabar.” Secara khusus sikap ini sangat diperlukan ketika seseorang berdoa. Ada kalanya, orang ingin agar doa-doanya segera dikabulkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Atau menginginkan agar hanya dengan berdoa satu dua kali, doanya langsung dikabulkan. Ini ciri orang yang kurang sabar.

Keempat, ketika benih atau biji sesawi bertumbuh menjadi pohon yang demikian besar, burung-burung bersarang dan bernaung padanya. Ia tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri tetapi memberikan perlindungan dan kehidupan kepada yang lain. Ini adalah terget akhir dan puncak dari pertumbuhan iman seseorang. Sehingga menjadi nyatalah apa yang disabdakan dalam Bacaan Pertama tadi (Yeh. 17:22-24)), bahwa umat Allah digambarkan ibarat pohon yang ditanam oleh Allah sendiri dari “bibit” yang unggul, yang bertumbuh menjadi pohon yang ”bercabang-cabang dan berbuah dan menjadi pohon aras yang lebat; segala macam burung dan unggas akan tinggal di bawahnya; mereka akan bernaung di bawah cabang-cabangnya.” Setiap orang beriman dipanggil untuk bertumbuh menjadi “pohon” yang memberikan perlindungan, keteduhan, rasa aman, dan kehidupan kepada orang lain.

Seorang bijak pernah bercerita tentang filosofi pohon. Ada dua hal yang bisa kita belajar dari pohon:

  1. Pohon tidak makan dari buahnya sendiri. Buah adalah hasil dari pohon. Lalu, dari mana pohon memperoleh makan? Pohon memperoleh makan dari tanah. Semakin dalam akarnya, semakin banyak nutrisi yang ia isap. Gambaran ini berbicara tentang pentingnya kedekatan seseorang dengan Sang Pencipta sebagai Sumber Kehidupan; ibarat akar yang masuk lebih jauh ke dalam tanah. Seperti pohon, kita akan berbuah sejauh berakar dan semakin menyatu dengan Tuhan sebagai satu-satunya pemberi nutrisi atau makanan. Dengan kata lain, hanya orang yang bersandar/berakar pada Tuhan, yang akan berbuah.
  2. Pohon tidak tersinggung ketika buahnya dipetik orang. Bahkan ketika seseorang melemparinya dengan batu, ia membalasnya dengan buah. Ini berlaku bagi pohon yang berbuah tentunya seperti mangga atau kemiri. Kadang seseorang protes karena ia yang bekerja keras, kok orang lain yang menikmatinya? Ini berbicara tentang prinsip memberi. Artinya, sungguh mulia, jika seseorang bekerja keras supaya dapat memberi lebih banyak kepada orang yang membutuhkan, bukan semata untuk kenikmatan sendiri.

Sabda Tuhan hari mengajak kita untuk sama-sama membangun Kerajaan Allah di dunia ini dengan hadir sebagai benih atau biji sesawi yang bertumbuh menjadi pohon yang memberikan hidup bagi orang lain. Panggilan setiap kita adalah menjadi “Pohon Kasih Allah”. Dengan itu, Kerajaan Allah sungguh dekat, dikenal, dialami, dan dirasakan oleh semakin banyak orang.

Sepanjang sejarah Gereja, kita banyak mengenal pribadi-pribadi unggul yang telah menjadi “Pohon Kasih Allah”, tempat sandaran dan perlindungan bagi sesamanya. Sebut saja Muder Theresa yang rela menjadikan seluruh hidupnya sebagai ranting pohon tempat orang-orang kecil, miskin, dan sakit di India bernaung-bersandar, dan menikmati teduhnya Kasih. Ada P. John Oh Woong Jin di Korea yang mendirikan panti asuhan dan rumah sakit, dan memberi makan kepada ribuan orang cacat di Kkottongnae-Korea.

Setiap kita memiliki peluang yang sama untuk menjadi “Pohon Kasih Allah” yang bercabang dan berbuah. Dan saya sungguh yakin, kita semua sudah menghayati dan menjalankan semuanya itu. Orangtua menjadi pohon, tempat bagi anak-anak mendapat perlindungan, rasa aman, dan memperoleh segala-galanya bagi hidupnya. Guru menjadi pohon bagi murid-muridnya. Pastor bagi umatnya. Pemerintah bagi rakyatnya. Petugas medis bagi para pasiennya. Orang-orang tua bagi anak-anak muda. Dan masih banyak contoh lain.

Jika semangat kasih ini terus dijaga, maka tempat di mana kita berada, mulai dari rumah/keluarga, kelompok KBG, dan paroki, betul-betul menjadi taman firdaus, menjadi kebun yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman/pohon yang subur dan berbuah serta memberikan kesejukan dan kehidupan berupa suasana penuh damai dan kasih. Itulah Kerajaan Allah.

Namun, saudara-saudariku terkasih! Seperti proses pertumbuhan biji sesawi atau tanaman apa saja, yang tidak luput dari hambatan dan gangguan seperti hama dan tiupan angin keras serta kemarau yang berkepanjangan. Maka pertumbuhan iman; benih Karajaan Allah di dalam diri seseorang, juga tidak luput dari ancaman dan serangan “hama” yang umumnya datang dari kuasa kegelapan; kerajaan setan.

Beberapa hari terakhir kita dihebohkan dengan berita Angeline, gadis cilik (8 th), yang meninggal dan dikuburkan secara tidak wajar di Denpasar Bali. Ini adalah salah satu contoh bagaimana kuasa jahat dan pengaruhnya itu tidak berhenti bekerja. Artinya, masih ada sebagian orang yang tidak lagi menjadi pohon yang subur dan memberikan perlindungan dan rasa aman bagi sesamanya. Akhirnya, kita sekalian diajak untuk tidak mudah terbawa arus kegelapan seperti itu, dengan senantiasa membangun hubungan yang akrab dan berakar pada Allah. Semoga kita terus bertumbuh menjadi Pohon Kasih Allah! (*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *