Homili Minggu Biasa XIII, Imanmu…

Imanmu menyelamatkan engkau. Itu adalah judul yang dipilih Pastor Kapelan Katedral Ruteng untuk homili pada hari Minggu biasa XIII (28/6) kemarin. Selamat menyimak…

Homili Minggu Biasa XIII, Imanmu

RD Lian Angkur

Imanmu Menyelamatkan Engkau

Oleh: RD Lian Angkur

Injil hari ini bercerita tentang mukjizat yang terjadi atas dua orang/keluarga yang memiliki kebutuhan khusus. Ada Yairus, seorang kepala rumah ibadat yang membutuhkan kesembuhan bagi anak perempuannya yang sedang sakit berat. Ada juga seorang perempuan yang punya kerinduan sangat besar agar sakit pendarahan yang dideritanya selama dua belas tahun, segera berakhir. Mereka benar-benar berada di dalam situasi batas dan terdampar di ujung pengharapan. Ke mana dan kepada siapa mereka mencari bantuan dan pertolongan? Atau, apakah mereka pasrah dan menyerah begitu saja? Tidak. Keduanya tidak menyerah, tidak putus asa dan tidak mengambil jalan pintas. Ketika usaha-usaha dan perjuangan manusiawi mereka mentok, Yesus dijadikan sebagai tumpuan harapan dan penolong yang terakhir. Keduanya tidak punya pilihan lain selain pasrah dan menaruh iman dan kepercayaan yang besar kepadaNya.

Jika kita telusuri lebih jauh, kedua orang ini menempuh suatu proses beriman yang cukup unik, yang sekiranya dijadikan contoh sekaligus inspirasi bagi perjalanan iman kita masing-masing di saat kita mengalami persoalan hidup, sekecil apa pun.

Pertama, Yairus. Siapa itu Yairus? Ia bukan orang biasa. Ia adalah seorang kepala rumah Ibadat, artinya orang yang cukup terpandang dan mendapat tempat khusus di dalam lingkungan orang-orang penting Yahudi, sejajar dengan kaum Farisi dan Imam-Imam kepala. Dengan demikian, sudah hampir pasti ia termasuk anggota kelompok yang menolak Yesus. Hal ini membuat dia tidak dengan begitu mudah mengubah haluan. Namun, di tengah situasi sulit yang menimpa anaknya, semuanya berubah 180 derajat. Ia segera datang kepada Yesus, rela menyembah, “tersungkur” di depan kaki Yesus, sembari memohon, “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati. Datanglah kiranya, dan letakkanlah tanganMu di atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.”

Hal lain, Yairus menjumpai Yesus secara langsung; empat mata, dan rela untuk sementara membiarkan anaknya yang sedang sakit berat bergulat sedirian di rumah. Sebagai orang yang punya pengaruh, Yairus bisa saja menyuruh orang lain untuk bertemu dan meminta Yesus datang ke rumahnya. Namun, itu semua tidak ia lakukan. Ini gambaran keseriusan dan kerendahan hati seorang Yairus. Di depan Yesus, ia betul-betul menanggalkan semuanya itu dan mengosongkan dirinya. Selanjutnya iman yang sama membuat harapannya tidak kendur ketika orang-orang dari keluarganya membawa kabar duka, bahwa anaknya sudah mati. Ia juga tetap tegar di hadapan tangisan orang-orang yang meratapi kepergiaan anaknya. Kata-kata Yesus, “Jangan Takut, Percaya saja!” bergema kuat di dalam hatinya. Berkat imannya itulah, Yesus membangkitkan anaknya yang sudah divonis mati, hanya dengan satu kata, “Talita kum!, Hai anak, Aku berkata kepadamu, Bangunlah!” Itu sedikit tentang Yairus.

Kedua, bagaimana dengan seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan selama duabelas tahun? Bisa dibayangkan seperti apa dahsyatnya derita yang ia alami. Diceritakan bahwa ia sudah berusaha, berobat ke sana-ke mari, uang dan harta habis, tetapi hasilnya nol, bahkan keadaan semakin memburuk. Itu baru penderitaan fisik. Belum lagi ia memikul beban psikologis-sosial, dapat tekanan sosial, di mana pada zaman itu, sakit-derita, apalagi sakit berat dalam waktu yang lama seperti yang dialaminya, diyakin sebagai kutukan karena dosa. Derita fisik dan batin dipikulnya sendirian. Namun, lagi-lagi ia tidak menyerah atau mengambil jalan pintas.

Ketika sedang bergulat dengan semuanya itu, ia mendengar kabar tentang Yesus dan kemudian menaruh iman yang besar kepadaNya. Iman itulah yang memberanikan dia menembus kerumunan banyak orang yang mengapiti Yesus hanya untuk menjamah jubah Yesus dari belakang dengan suatu keyakinan yang besar, “Asalkan kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh”. “Hanya menjamah Jubah Yesus”; cara yang sangat sederhana tetapi dibungkus dengan iman-keyakinan yang luar biasa, sehingga ia menjadi sembuh. Aksi perempuan ini membuat Yesus tersentak, merasakan ada tenaga yang keluar dari diriNya sembari bertanya; siapa yang menjamah jubahKu? Pertanyaan yang bagi beberapa muridNya tergolong konyol, “Engkau sendiri melihat betapa banyaknya orang yang mengerumuni, berdesak-desakan di dekatMu, dan bagaimana mungkin Engkau masih bertanya, siapa yang menjamah jubahKu?

Secara akal sehat para murid ini benar, tetapi untuk memahami kata-kata dan reaksi Yesus, rasa-rasanya pertimbangan akal sehat untuk sementara tidak dipakai. Reaksi Yesus hanya diterima melalui dan dalam iman. Bagi Yesus, ada satu jenis sentuhan/jamahan yang sama sekali berbeda dari yang lain, yang toh ternyata itu datangnya dari seorang perempuan yang sedang sakit berat dan sangat beriman serta membutuhkan pertolonganNya.

Memang seperti pernyataan para murid tadi, banyak orang yang pada saat yang sama menyentuh; menjamah jubah Yesus, tetapi mereka asal jamah, tanpa kebutuhan khusus dan iman akan Yesus. Dan model sentuhan-jamahan seperti ini tidak membawa pengaruh bagi Yesus. Jika ditarik lebih jauh, mereka ini hanya mengagumi dan mengikuti Yesus tetapi belum sampai pada mengimani dan membutuhkan Yesus.

Sisi lain yang boleh kita renungkan adalah, bahwa mukjizat-mukjizat itu menunjukkan seperti apa sebenarnya opsi-pilihan Yesus. Yesus lebih mengutamakan orang yang membutuhkan pertolonganNya dengan iman yang sangat besar. Bagi Yesus, baik Yairus maupun perempuan itu, adalah sosok-pribadi-pribadi beriman yang paling membutuhkan Dia saat itu. Karena itu, Yesus keluar dan meninggalkan kerumunan orang banyak dan segera menuju rumah Yairus. Hampir pasti orang banyak itu masih menghendaki agar Yesus harus berlama-lama dan ngobrol ramai-ramai dengan mereka. Tetapi kebersamaan itu untuk sementara harus diakhiri, karena bagi Yesus, ada kepentingan yang lebih mendesak, yaitu keselamatan kedua orang yang sangat membutuhkanNya.

Iman sejati yang mendasari terjadinya mukjizat-mukjizat tadi, mengajarkan kepada kita tentang bagaimana seorang beriman menghadapi persoalan hidup setiap hari. Sakit fisik adalah salah satunya. Masih banyak soal-kesulitan lain yang kita hadapi, sekecil apa pun itu. Artinya, cara orang beriman dalam mengatasi persoalan tentu berbeda dari orang yang tidak beriman. Di mana letak perbedaan dan keistimewaan kita sebagai orang beriman?

Pertama-tama, kita diajak untuk menyikapi semua persoalan itu dalam terang iman. Iman yang diikuti dengan suatu kemauan, niat, perjuangan, kesabaran, dan keberanian yang besar, serta berusaha mengosongkan diri di hadapan Yesus dengan menanggalkan segala macam prasangka, keraguan, kesombongan, sikap terlalu mengandalkan kekuatan dairi, percaya sia-sia, dan keterikatan-keterikatan lainnya. Cara beriman seperti ini menjauhkan kita dari langkah yang salah-keliru dalam menghadapi persoalan hidup seperti cepat menyerah, putus asa, mengambil jalan pintas, atau bahkan sampai pada menuduh-memfitnah orang lain sebagai penyebab dari persoalan yang dihadapi. Kita orang Manggarai menyebutnya “mangkong me-mangkong”. Tidak jarang juga, kita mendengar ada orang yang menempuh cara yang terbilang ekstrem, semisal bunuh diri dan kekerasan lainnya. Patut disayangkan.

Dengan kata lain, saat ditimpa persoalan, hendaknya yang kita cari dan dekati pertama adalah Yesus. Dialah yang membuka jalan bagi kita dengan caraNya sendiri. Seperti perempuan yang sakit tadi, kita perlu “menjamah jubah” Yesus dengan iman yang besar. Iman yang didasari kebutuhan akan Yesus. Artinya, jangan sampai kita hanya sebatas mengagumi dan mengikuti Yesus, tetapi belum sampai pada membutuhkan Yesus. Kalau itu yang terjadi, kita tidak berbeda dari orang banyak yang sekedar mengikuti, berdesak-desakan, sekedar menyentuh, dan menjamah jubah Yesus, tanpa membutuhkanNya. Karena toh, sekali lagi, Yesus lebih mengutamakan orang yang beriman sekaligus membutuhkan Dia. Singkatnya, agar memperoleh berkat dalam hidup dan mendapat jawaban di setiap persoalan, kita perlu mencari dan datang kepada Yesus dengan iman yang besar; tidak setengah-setengah, dan kepasrahan yang total kepadaNya.

Bagaimana iman seperti ini kita gambarkan? Atau, iman seperti apa yang harus kita miliki? Lagi-lagi, jawabannya ada pada Yairus dan perempuan tadi.

Pada suatu tahun tertentu, beberapa desa dalam sebuah wilayah ditimpa kekeringan yang luar biasa; kemarau yang panjang, sehingga kehidupan mereka terancam. Pastor mengatakan kepada umatnya: “Tidak ada suatu pun yang dapat menyelematkan kita kecuali mendaraskan doa dan litani untuk minta hujan. Pulang ke rumah Anda dan segera berpuasa sejak matahari terbit sampai matahari terbenam, serta percaya bahwa Allah akan menjawab doa-doa kita; kemudian datanglah ke gereja pada hari Minggu untuk berdoa litani minta hujan.” Orang-orang desa mendengarkan sang pastor dan berpuasa selama minggu itu lalu pada hari Minggu pagi mereka datang ke gereja. Tetapi segera sesudah pastor itu melihat umatnya, dia begitu marah. Dengan cukup keras dia katakan: Pulang! Saya tidak akan mendaraskan doa litani minta hujan. Kamu semua tidak percaya.“ Mendengar itu mereka protes, dengan berkata, “Tetapi, pastor, kami sudah berpuasa dan percaya.” Pastor itu menyahut lagi, “Apa? Kamu percaya? Lalu, di mana payung Anda? Berarti kamu belum percaya bahwa setelah doa ini, hujan akan turun dengan lebatnya sehingga untuk pulang ke rumah, agar tidak basah, kamu harus gunakan payung. Tetapi, tak satu pun dari antara kamu yang membawa payung. Itu berarti, iman kamu belum sebesar itu.”

Seperti apa iman yang mendasari doa-doa dan harapan kita di tengah persoalan hidup yang kita hadapi selama ini? Jika iman kita belum sebesar yang dimiliki Yairus dan perempuan tadi, serta yang diharapkan sang pastor dalam cerita kecil tadi, maka, tentu tidaklah berlebihan kalau saat ini, saya mengajak kita sekalian untuk senantiasa mengulangi doa yang pernah diucapkan para rasul ketika mereka belum sanggup memahami dan menghayati nasihat dan perkataan Yesus; Tuhan, tambahkanlah iman kami! (*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *