Homili Minggu Biasa XIX, Roti Surga

Bacaan-bacaan pada Minggu Biasa XIX (9/8) kemarin diambil dari I Raja-raja 19:4-8, Efesus 4:30-32,5:1-2 dan Injil Yohanes 6:41-51. RD Martin Wilian Wuang dalam kotbahnya, mengajak umat mengingat undangan Yesus agar kita memiliki kesediaan menjadi roti bagi sesama. Simak homilinya berikut ini:

Homili Minggu Biasa XIX

RD Martin Wilian

Roti Surga

Oleh: RD Martin

Pada bagian awal Injil yang kita dengar pada hari ini berisi reaksi orang-orang Yahudi terhadap kata-kata Yesus yang menegaskan bahwa diriNya adalah “Roti yang turun dari Surga”. Reaksi seperti ini muncul karena mereka tahu, siapa Yesus, siapa keluarga Yesus, siapa orang tua Yesus. Mereka kenal baik latar belakang keluarga Yesus. Kasarnya, Yesus dan keluargaNya tidak jauh berbeda dengan mereka yang lain. Mereka hanya mengenal aspek kemanusiaan Yesus, tidak lebih dari itu. Karena itu ketika Yesus berbuat lebih dari itu, apalagi menyamakan diriNya dengan Allah, maka reaksi yang muncul adalah “bersungut-sungut”. Bukankah ini sebuah penghinan kepada Allah yang kami imani?

Untuk memahami persoalan ini, kita perlu kembali ke latar belakang sejarah. Masa Perjanjian Lama -sebelum Yesus-, mengajarkan bahwa yang Mahakuasa sendiri akan membawa orang menjauh dari jalan atau bahaya kematian agar kembali kepada Allah. Bacaan I dari Kitab Raja-raja dengan jelas melukiskan bagaimana Allah hadir memberi kehidupan kepada Elia yang terancam karena kelaparan. Bimbingan dan pertolongan Allah sungguh Ia rasakan dalam hidup. Umat Perjanjian Lama yakin inilah kehidupan sejati yang tidak bakal berakhir dengan kematian lagi.

Pada zaman Yesus ajaran-ajaran mengenai hidup sejati dan bagaimana memperolehnya, semakin berkembang. Yang diajarkan Yesus adalah salah satunya. Dan, cara mengungkapkannya juga khusus. Kita mendengar dalam Injil tadi, “Akulah Roti yang turun dari surga…”. Tentu cara penyampaian seperti ini tidak gampang dipahami apalagi diterima. Orang Yahudi sendiri memiliki Kitab Taurat yang sejak berabad-abad memberi jaminan bagi mereka. Kalau mereka mengalami bahaya, mereka sadar bahwa hal itu terjadi karena mereka tidak setia dan percaya kepada Allah lagi. Sekarang, Yesus tampil memberi jaminan yang lain, yakni diriNya sendiri. Karena itu, muncul rasa pesimis; bagaimana mungkin Ia anak orang yang mereka kenal, Yosef dan Maria? Dengan reaksi seperti ini kita mendapat kesan, Yohanes mau menonjolkan sikap orang-orang Yahudi yang sudah tahu semua-muanya tentang Yesus sekaligus sebuah ajakan agar kita semua memeriksa diri, apakah dalam mengikuti Yesus kita masih memiliki sikap serba sudah tahu itu??

Sikap dan reaksi miring orang-orang Yahudi terhadap kata-kata Yesus “Akulah Roti yang turun dari Surga”, menyiratkan beberapa hal untuk kita renungkan bersama:

  • Yesus belum hidup dalam diri mereka dan kita semua. Pertanyaan yang kita ajukan mengapa Yesus belum hidup dalam diri kita? Kiranya awasan St. Paulus yang kita dengar dalam bacaan II menjadi penting untuk kita. Ketertutupan hati terhadap segala karya Roh Kudus menghilangkan ruang untuk Yesus hidup dalam diri kita. Ketika kita mengabaikan peran Roh Kudus, boleh jadi kita bersikap seperti orang Yahudi, kita hanya mendengar dan mempersoalkan apa yang dikatakan Yesus, kita belum berusaha menangkap makna. Kita sibuk mempersoalkan asal usul sesama daripada belajar dari kebaikan mereka untuk bisa berbuat baik. Seperti makanan yang kita santap menjadi bagian dari hidup kita demikian juga hidup dan kehadiran Yesus harus menjadi bagian dari hidup dan keseharian hidup kita. Hidup Yesus harus menjadi hidup kita. Hampir setiap minggu bahkan setiap hari kita mengikuti perayaan Ekaristi. Menerima tubuh dan darah Kristus. Apakah tubuh dan darah Kristus itu sudah menjadi bagian dari diri dan hidup kita? Kalau mau jujur, seringkali predikat sebagai pengikut Yesus hanya berlaku pada waktu, tempat dan di hadapan orang-orang tertentu, dalam situasi atau desakan tertentu. Di luar itu kita tidak jauh berbeda dengan orang yang tidak beragama, bahkan jauh lebih buruk karena mereka masih mempunyai hati nurani. Kalau Yesus yang kita imani adalah kehidupan atau keselamatan, maka tugas kita adalah memberi jalan bagi mereka yang tersesat, membawa kebenaran bagi mereka yang sering ditipu, memberi semangat bagi mereka yang kehilangan daya juang. Di sinilah kita hadir, menurut St. Paulus sebagai “penurut-penurut Allah”.
  • Kalau Yesus sungguh hidup di dalam diri kita, maka bukan lagi kita yang hidup. Kebenaran kata-kata Yesus ini ditandai oleh hal-hal yang disebutkan oleh St. Paulus dalam bacaan I: segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah dibuang dari antara kita. Agar semua ini terwujud dalam kehidupan kita, Yesus mengingatkan, mengundang kita untuk menjadikan diriNya bagian dari hidup kita. Hanya dengan ini kita bisa bersedia menjadi roti hidup bagi sesama. Menjadi roti hidup bagi sesama berarti kita merasa terpanggil untuk membagi kebaikan yang kita miliki. Kalau Yesus yang kita imani siap menjadi santapan hidup kekal, mengapa kita yang menerima tubuh dan darah Kristus hampir setiap hari tidak sanggup menjawabi kebutuhan sesama?
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *