Homili Minggu Biasa XVI, Marta atau Maria?

Marta atau Maria adalah judul yang dipilih RD Lian Angkur untuk homili yang disampaikannya pada hari Minggu Biasa XVI di Gereja Katedral Ruteng. Hari itu, misa menggunakan bahasa Manggarai (inkulturasi) sehingga kotbah juga disampaikan dalam bahasa Manggarai. Berikut homili tersebut dalam bahasa Indonesia. Tabe…

marta dan maria

Gereja Katedral Ruteng | Foto: Frans Joseph

Marta atau Maria?

Oleh: RD Lian Angkur 

Injil hari ini (17/7) bercerita tentang Yesus berkunjung ke rumah Maria dan Marta. Sesampainya di rumah, Yesus diterima dan dilayani oleh kedua orang ini. Namun, keduanya menerima dan melayani Yesus secara berbeda. Marta sibuk melayani sedangkan Maria duduk dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataanNya. Sikap Maria ini ternyata tidak disukai oleh Marta sehingga ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku!”

Bagaimana reaksi atau sikap Yesus terhadap apa yang dilakukan oleh Marta dan Maria terhadap diriNya? 

Di satu sisi, Yesus menghargai pelayanan yang dilakukan Marta terhadap diriNya, tetapi di pihak lain, Yesus mencelanya. Lain halnya dengan Maria yang mendapat pujian dari Yesus. Mengapa Yesus mencela Marta dan memuji Maria?

Yesus mencela Marta karena:

  1. Marta tidak melayani dengan tulus; tidak sungguh-sungguh dan banyak mengeluhnya. Sikap seperti ini mengurangi makna sebuah pelayanan. Lebih baik tidak melayani daripada melayani tetapi dengan hati yang setengah-setengah.
  2. Marta tidak mampu melihat mana yang mesti dikerjakan terlebih dahulu. Ia asal kerja dan hanya sibuk dengan pekerjaan tetapi kurang mempunyai perhitungan. Ia hanya sibuk dan sibuk, tetapi tidak punya waktu untuk Tuhan yang sekarang datang berkunjung. Inilah waktu untuk Tuhan. Karena kesibukan, Marta tidak mampu melihat siapa sebenarnya pribadi yang sedang berkunjung. Tenggelam dalam kesibukan membuat Marta tidak mampu melihat kehadiran Yesus. Kesibukan menutup pandangan dan rasa hormat kepada Yesus. Artinya, boleh sibuk tapi jangan lupa Tuhan kalau inilah waktu dan kesempatan untuk Tuhan.

Sebaliknya, Yesus memuji Maria karena: Maria mempunyai prioritas dalam memilih. Maria bisa menentukan mana yang perlu didahulukan. Baginya, ada waktu untuk sibuk bekerja, ada waktu juga untuk Tuhan. Kini saatnya untuk Tuhan yang hadir, sebab itu ia melepaskan kesibukan lain dan melayani Tuhan; berada dekat dengan Tuhan dan mendengarkanNya. Memang betapa menyenangkan berada di hadirat Allah sebab kasihNya akan mengalir pula dalam diri orang yang membuka diri bagi Tuhan. Betapa menyenangkan bersekutu dengan Yesus sebab Dia adalah Tuhan. Bersama Yesus, manusia beriman mengalami kekuatan dan berkat.

Yesus menegur-mencela Marta karena ia tidak melayani dengan tulus dan terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk Tuhan. Lebih jauh, Yesus mengajarkan Marta tentang betapa pentingnya berdiam diri dan mendengarkan Tuhan, seperti yang dilakukan Maria. Hanya di dalam keheningan seseorang bisa mendengarkan suara Tuhan, menemukan arti kehidupannya, dan menemukan kekuatan untuk tetap berlangkah maju dalam hidup. Singkatnya, manusia sebetulnya membutuhkan keheningan atau waktu khusus untuk berada bersama Tuhan.

Banyak orang merasa sulit menemukan hal itu. Seperti Marta, orang begitu sibuk dengan urusan sehari-hari. Orang bekerja seolah-olah tidak ada lagi hari esok. Akibatnya, orang lupa menyiapkan waktu khusus untuk Tuhan, keluarga, atau sesamanya. Lebih parahnya lagi, ada orang yang menganggap doa, menghadiri kegiatan rohani, membaca dan merenungkan Sabda Tuhan, doa bersama, atau misa hanya membuang-buang waktu. Akibatnya, orang sulit menemukan kebahagiaan di dalam hidup dan perkejaannya; bo gejur kawe hang bara landing hemong kawe hang latang te wakar.

Akhirnya, saudara-saudari. Ada dua pesan utama untuk kita dari Injil hari ini:

  1. Masing-masing kita diajak untuk melayani atau membantu sesama dengan tulus; tidak mengeluh, di dalam peran kita masing-masing. Ada banyak bentuk pelayanan yang kita berikan. Misalnya: sebagai orangtua, guru, pegawai, pemimpin, dokter, perawat, pastor, petani, dan pengemudi. Orang yang melayani dengan sungguh akan diberkati Tuhan karena ia meneladani cara hidup Yesus.
  2. Apa pun kesibukan kita, jangan pernah lupa menyediakan waktu untuk Tuhan. Ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk berdoa dan mendengarkan Sabda Tuhan (Ora et Labora). Kita hendaknya menjaga keseimbangan antara berdoa dan bekerja. Jangan pernah menjadikan kerja atau kesibukan sebagai alasan untuk tidak berdoa atau menghadiri kegiatan doa bersama atau misa. Karena di dalam doa, Tuhan memberikan kita kekuatan dalam perjuangan hidup sehari-hari. Agar bisa bekerja dan melayani dengan baik, kita perlu memberi makan untuk jiwa kita, yaitu dengan selalu berada dekat kaki Tuhan dan mendengarkan perkataanNya sebagaimana yang dilakukan oleh Maria. Semoga! (*)

RD Lian Angkur adalah Pastor Kapelan Katedral Ruteng.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *