Homili Minggu Biasa XVIII, Menjadi Roti

Pada hari Minggu, 2 Agustus 2015, RD Lian Angkur dalam homilinya mengingatkan bahwa salah satu ciri orang yang matang dan berhasil dalam hidup adalah memiliki semangat untuk berbagi. Berikut kami hadirkan naskah homili yang disampaikan pada Misa kedua di Gereja Katedral Ruteng. Selamat menyimak…

Menjadi Roti

Homili RD Lian Angkur

Menjadi Roti

Oleh: RD Lian Angkur

Kepada orang banyak yang mencariNya, Yesus memperkenalkan diri sebagai Roti Kehidupan. Ia tidak seperti roti biasa yang hanya membuat seseorang kenyang sebagaimana yang dimakan oleh orang banyak tersebut pada kesempatan sebelumnya. Proklamasi diri Yesus sebagai roti kehidupan merupakan salah satu cikal bakal dari Ekaristi (misa) yang kita rayakan sebagai sumber dan puncak kehidupan iman kita. Pertama-tama, Ekaristi mengingatkan kita akan perlunya kebutuhan spiritual, akan makanan yang tidak dapat binasa, akan roti hidup, sebagai bekal bagi hidup kita sejak di dunia ini maupun terutama pada masa yang akan datang; saat kita beralih dari dunia ini. Selanjutnya, dalam Ekaristi, Yesus yang adalah Roti Hidup itu hadir melalui Sabda-Firman dan Tubuh dan Darah yang kita sambut dalam komuni kudus.

Secara khusus dalam hubungannya dengan Roti Hidup yang hadir dalam Sabda, itu punya sejarahnya tersendiri. Bagi orang Yahudi, Taurat, Sabda Allah adalah makanan yang sangat istimewa. Taurat adalah roti bagi hati dan budi mereka. Dalam kitab Nabi Yehezkiel, hal ini tertulis jelas. Tuhan bersabda kepadanya: “Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel”. Kita ingat baik, dalam percobaan yang pertama di padang gurun, ketika Iblis berkata kepada Yesus; “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah batu-batu ini menjadi roti”. Apa jawaban Yesus? “Ada tertulis; manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat. 4: 3-4).

Berangkat dari hakikat/arti Ekaristi yang demikian, muncul satu dua pertanyaan untuk kita. Seberapa pentingkah Ekaristi bagi hidup beriman kita dan seberapa besar respek-penghargaan kita terhadap perayaan Ekaristi? Berikut, sudah sejauh mana kita menampilkan diri sebagai pribadi-pribadi Ekaristi? Tentu, hampir semua kita sepakat bahwa Ekaristi sangat penting dan sangat dibutuhkan. Dengan kata lain, kehadiran Yesus merupakan harga mati untuk kita. Hanya saja, mungkin hal itu kurang bahkan tidak diikuti dengan respek-penghargaan dan kesungguhan kita dalam merayakan Ekaristi.

Mungkin saja seseorang menjadikan perayaan ekaristi sebagai sebuah rutinitas belaka; karena hari ini hari Minggu, berarti ke Gereja, kebetulan tidak ada kegiatan lain. Atau saya ke Gereja untuk mendengar dan menikmati koor yang bagus, atau untuk bertemu teman-teman, atau supaya dicap-dinilai sebagai orang yang sangat religius, atau motivasi-motivasi terselubung lainnya. Motivasi-motivasi seperti ini berpengaruh pada kesungguhan seseorang dalam mengikuti sebuah perayaan. Ada lagi yang menyempitkan arti perayaan atau misa hanya sebatas menerima hosti kudus, sehingga perhatian terhadap tahapan perayaan sebelumnya seperti pewartaan sabda berkurang, bahkan lebih parahnya lagi, ada yang mengisi kesempatan ini untuk berbuat yang lain semisal ngobrol atau kadang bermain HP. Menjelang komuni baru bersemangat. Padahal sekali lagi, Yesus yang adalah roti hidup sudah hadir dalam Sabda juga, sehingga kehadiranNya menjadi utuh-lengkap bagi seseorang yang sedang merayakan itu.

Kita baru sampai pada Ekaristi sebagai sebuah perayaan perjumpaan dengan Tuhan. Bagaimana dengan penghayatan Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Di akhir sebuah perayaan Ekaristi, setelah berkat penutup, imam selalu mengakhirinya dengan berkata: “Marilah pergi, kita diutus”. Kita menjawab: Amin”. Hal itu berarti bahwa daya rahmat Yesus yang hadir dalam Ekaristi semakin berarti kalau kehadiranNya sungguh dirasakan dan dialami di tengah pergumulan hidup sehari-hari, di tengah perjumpaan antara satu dengan yang lain.

Untuk merenungkan hal yang satu ini, kita kembali kepada pernyataan Yesus sebagai Roti Kehidupan kepada orang banyak. Sesuai dengan struktur teks Injil tadi, sebutan Roti Hidup merujuk pada kisah pergandaan roti (injil minggu lalu) yang dimakan oleh orang banyak yang sama. Dengan demikian saat berbicara tentang roti hidup, Yesus seakan memberikan makna pada peristiwa pergandaan roti itu dengan membawa mereka masuk lebih dalam lagi: memahami arti roti yang terbagi, roti yang tergandakan atau terpecah-pecahkan itu. Yesus adalah Roti Hidup yang siap dipecah-pecahkan, dibagi-bagikan untuk memberikan hidup kepada dunia. Itulah yang kemudian nyata terjadi lewat pemberian diri Yesus di atas altar setiap kali kita merayakan Ekaristi.

Dengan demikian, salah satu hal-point penting, yang mau dikedepankan Yesus dari kisah mukjizat pergandaan roti dan pemberian diriNya di atas altar, adalah roh atau spirit untuk senantiasa berbagi. Di dalamnya mengandung pengorbanan dan pemberian diri. Arahnya adalah semangat berbagi ini hendaknya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang-orang beriman yang setia merayakan Ekaristi. Dengan kata lain, setiap orang beriman, setiap kita, adalah pribadi Ekaristi, yang siap dan rela menjadi “roti” yang dipecah-dipecahkan, digandakan, dibagi-bagikan. Hal ini sangat penting dan baik serta mulia adanya karena tidak sedikit orang di sekitar kita yang menjerit minta “roti” dari kita. Karena itu, masing-masing kita diutus untuk membagikan “roti” kasih, bukan roti kebencian-iri hati; roti kedamaian, bukan roti permusuhan; roti kejujuran-ketulusan, bukan roti kebohongan; roti pelayanan, bukan roti ingat diri, dan sebagainya. Itulah jati diri kita sebagai pribadi Ekaristi. Bersediakah kita menjadi sepotong “roti” yang dipecah-pecahkan?

Sekedar memperkaya permenungan kita hari ini, saya akan mengangkat satu percakapan berikut ini:

Pada suatu kesempatan, tepatnya tanggal 15 Oktober 2005, sekelompok anak misioner bertanya jawab dengan Paus Benediktus XVI (emeritus), pada saat pertemuan mereka di lapangan St. Petrus Vatikan. Anna, seorang gadis cilik, melontarkan pertanyaan ini: “Bapa Paus yang baik, dapatkah Bapak menjelaskan kepada kami apa arti kata-kata Yesus ini kepada para pengikutNya: “Aku ini Roti Kehidupan”?

Bapa Suci menjawab: “Baiklah nak, terlebih dahulu harus menjadi jelas bagi kita apa yang dimaksudkan dengan “roti”. Dewasa ini ada berbagai macam makanan. Tetapi di dalam situasi yang sederhana, (di tanah Israel tempo itu dan di negeri-negeri Barat), roti itu adalah makanan pokok. Ketika Yesus menyebut diri “roti hidup”, maka roti itu sepertinya mewakili segala jenis makanan yang kita nikmati. Nah, sebagaimana halnya kita harus memberi makan kepada tubuh kita agar tetap hidup, demikian pula kita harus memberi makan kepada roh, jiwa, dan kehendak kita. Sebab sebagai manusia, kita bukan terdiri dari tubuh saja, tetapi juga jiwa. Kita adalah makhluk yang mempunyai budi dan kehendak yang bebas. Maka roh dan jiwa kita pun harus kita diberi makan sehingga dapat berkembang dan berfungsi dengan baik.
Dengan demikian, jika Yesus berkata: “Akulah roti kehidupan”, itu artinya bahwa Yesus sendiri adalah santapan yang kita butuhkan untuk jiwa kita, untuk pribadi kita, karena sekali lagi, jiwa pun membutuhkan makanan. Segala macam ilmu teknik dan segala yang dihasilkannya tidaklah cukup, sekalipun penting juga. Kita sungguh membutuhkan persahabatan dengan Allah, sebab hanya dengan demikian kita dapat mengambil keputusan-keputusan yang tepat. Kita harus menjadi matang sebagai manusia. Dengan kata lain, Yesus menjadi santapan kita sehingga kita sungguh dapat menjadi orang yang matang dan supaya kita berhasil dalam hidup”.

Akhirnya, menyambung jawaban Bapa Suci tadi, salah satu ciri orang yang matang dan berhasil dalam hidup adalah memiliki semangat untuk berbagi. Itu adalah buah dari Ekaristi yang dirayakan dan dihayati secara sungguh-sungguh.

Semoga!

(*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *