Homili Minggu Biasa XXI, Menentukan Sikap

Bacaan pada hari Hari Minggu Biasa XXI – B, diambil dari Yos. 24 : 1 – 21, 15 – 17, 18 b; Ef. 5 : 21 – 32; Yoh. 6 : 60 – 69. Dalam homilinya di Gereja Katedral Ruteng, Pastor Paroki Katedral Ruteng RD Daniel Sulbadri mengajak umat untuk menentukan sikap yang tepat terhadap Yesus sang roti kehidupan.

menentukan sikap

Image: koombis.com

Menentukan Sikap

Oleh: RD Daniel Sulbadri

Di Sikhem, umat Allah di bawah bimbingan Yosua, membuka lembaran sejarah baru dalam ziarah mereka. Di tempat itu, bangsa Israel berkumpul bersama untuk membarui ikrar kesetiaan mereka kepada Yahwe. Di Sikhemlah Allah yang diakui oleh suku Yusuf yang datang dari Mesir di bawah bimbingan Musa telah menjadi Allah bagi semua suku lain. Melalui Yosua, Allah menantang umat terpilih dengan pertanyaan, “Apakah mereka memilih Dia sebagai Allah mereka?” Allah menanyakan keikhlasan hati mereka, entahlah mereka dengan rela menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah. Allah ingin bersekutu, bersabar dan mempunyai partner yang betul bebas, yang dengan sadar dan sukarela memilih Dia sebagai Allah mereka.

Pengalaman akan tuntunan dan bimbingan Allah selama perjalanan melintasi padang gurun dalam menyeberangi sungai Yordan dalam memenangkan pertempuran melawan bangsa kafir, dalam menduduki tanah Kanaan dan membaginya sebagai tanah pusaka; telah membuat mereka teguh dalam pilihan: “Kami hanya mau mengabdi Tuhan, sebab Dialah Allah kami”. Tidak ada pilihan lain, selain mau hidup menurut kehendak Allah, sebab kehendakNya merupakan sumber hidup dan kebahagiaan.

Surat Paulus kepada umat di Efesus tentang Kasih Kristus kepada Gereja harus menjadi tolok ukur bagi umatNya, khusus suami isteri. Bahwa suami istri harus memperlihatkan bobot yang sama seperti kasih Kristus terhadap umatNya.

  • Kasih yang rela berkurban: Kristus mengasihi Gereja dan menyerahkan diri untuk keselamatan kita. Kasih yang rela berkurban demi kebaikan, tanpa paksaan dan kekerasan.
  • Kasih yang mengucilkan/menguduskan: Kristus menguduskan Gereja melalui pembaptisan dan pengakuan iman, sehingga tidak tampak lagi cacat-celanya. Kasih yang murni hanya mencari kebahagiaan orang lain.
  • Kasih yang memberi perhatian: Karena kasih itu setia, mereka bersatu jiwa raga, berupaya mencapai satu pikiran, satu perasaan dan satu hati. Segala hubungan kasih bermuara dalam Tuhan, sebab Tuhan hadir dan berjuang bersama mereka.

“Kepada siapakah kami akan pergi? Padamulah sabda kehidupan”. Perkataan Petrus ini mengajak kita untuk bertanya diri mengenai sikap kita terhadap agama Katolik, mengenai iman kita akan Yesus Kristus. Sudah sekian lama kita hidup sebagai orang Kristen, anggota Gereja Katolik. Kita sudah melewati pelbagai pengalaman hidup, di mana iman kita menghibur, menguatkan dan menantang kita.

Pembicaraan Yesus tentang roti kehidupan membuat banyak orang mundur, mereka tidak mengerti, salah paham. Bagi para murid, sabda Yesus ini keras. Di sini, pemberian Tuhan yang khas seperti Ekaristi, tiada bandingannya, tidak bisa dijelaskan dengan rumusan manusia. Pikiran manusia harus tunduk, menyerah, mengikuti pernyataan yang unik, sebagai pelimpahan cinta kasih Allah sehabis-habisnya. Kebenaran Tuhan tidak dibatasi oleh kemampuan manusia berpikir atau kesanggupan manusia mengolah. Kebenaran itu menyelamatkan barang siapa yang menerimanya. Darah dan daging Kristus, buah penderitaan, ungkapan cinta ini dipadatkan, dilestarikan untuk diterimakan setiap hari dalam roti dan piala Ekaristi. Yang percaya dan menerima akan memperoleh hidup Kristus dalam kepenuhan.

Kalau pada hari ini masing-masing kita bertanya diri: Tentang peranan Kristus dalam kehidupan kita, mengenai pengaruh Kristus dan agama terhadap hidup sehari-hari, maka bagaimanakah kita harus menjawab?

Beranikah kita menjawab bahwa kita sudah yakin lewat pelbagai pengalaman hidup bahwa pada Kristus terdapat sabda kehidupan, bahwa Kristus bisa memberikan pedoman hidup bagi kita yang menghantar kepada kebahagiaan, kepada kesungguhan hidup?

Dapatkah kita katakan bahwa Kristus dan sabdaNya berada di tengah hidup kita dan dalam segala keputusan yang penting kita mencari orientasi dan pedoman pada Kristus?

Yesus menantang kita untuk menentukan sikap yang tepat terhadapNya.

Bagi kita, Kristus adalah cahaya sebab terpisah dariNya hanya ada kegelapan. Kristus adalah kehidupan, sebab tanpa Dia hanya ada kematian. Kristus adalah kekuatan kita, karena tanpa Dia hanya ada kelemahan. Kristus adalah cinta kita, sebab tanpa Dia hanya ada kebencian. Dialah sabda kehidupan kekal. (*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *