Homili Minggu Paskah II, Kerahiman Ilahi

Homili ini disampaikan di Gereja Katedral Ruteng pada Hari Minggu Paskah II (Hari Raya Kerahiman Ilahi), Minggu 12 April 2015 pukul 08.00 Wita. Pada saat yang sama, 347 pelajar dari sekolah-sekolah di Katedral Ruteng dan 1 orang dewasa menerima Sakramen Komuni Pertama.

Homili Minggu Paskah II

RD Lian Angkur, Pr

“Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun Percaya”

Oleh: RD Lian Angkur, Pr

Beberapa hari terakhir, Injil secara beruntun berkisah tentang Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada para muridNya. Bagi para murid yang sedang dirundung rasa putus asa, trauma bercampur cemas dan takut, kehadiran Yesus seperti itu tentu saja menghibur, menguatkan, dan menyembuhkan. Pada umumnya Yesus menampakkan diri pada saat para muridNya berkumpul. Di sini terlihat, bahwa Yesus konsisten dengan janji dan pernyataanNya sendiri dalam Mat. 18:20; “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Secara khusus dalam Injil hari ini, kepada kita diperkenalkan seorang bernama Tomas, sosok rasul yang cukup unik. Unik karena dia tampil beda dari para murid yang lain. Untuk seseorang yang tampil beda, hampir pasti menarik perhatian siapa saja. Ada beberapa penggalan peristiwa yang menunjukkan hal itu:

Pertama, pada saat Yesus menampakkan diri dan menyerukan damai sejahtera serta menunjukkan tangan dan lambungNya kepada para muridNya, Tomas tidak ada di tempat. Dia ke mana, Injil tidak menceritakannya. Satu alasan ketidakhadiran yang paling mungkin diterima adalah, saat itu Tomas stres berat dengan kematian Yesus dan untuk sementara ia lebih memilih menyendiri dan enggan untuk bertatap muka dengan orang lain. Kedua, ketika teman-temannya menceriterakan bahwa Yesus telah bangkit dan menampakkan diri, Tomas tidak percaya. Baginya, itu terlalu indah untuk dipercaya; sesuatu yang mustahil. Ia sangat meragukannya, dengan argumentasinya, “sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Tomas tampak keras.

Keraguan Tomas berakhir ketika pada hari yang ke delapan, saat dia berkumpul bersama rekan-rekannya, Yesus kembali hadir dan menampakkan diri kepada mereka. Dan Yesus yang mengetahui isi hati dan pergulatan Tomas, segera meminta dia untuk menaruh jari pada tangan dan mencucukkan tangan ke dalam lambung Yesus. Tomas beralih menjadi percaya. Tomas butuh bukti yang nyata dan bisa diinderai, baru percaya. Karena itu, di akhir perjumpaan itu, Yesus memberikan catatan tegas kepada Tomas, “karena engkau telah melihat, maka engkau percaya” Sebenarnya secara lebih rinci Yesus katakan, “karena engkau melihat dengan mata kepala, maka engkau percaya”. Tetapi, saudaraku Tomas, “berbahagialah mereka yang tidak melihat dengan mata kepala, namun Percaya”.

Siapakah “mereka” yang dimaksudkan Yesus? Mereka adalah orang-orang beriman, generasi sesudah para rasul, yang hidup sepanjang sejarah Gereja, kita semua, termasuk adik-adik peserta komuni pertama, yang tidak menyaksikan secara langsung penampakan Yesus yang bangkit, tetapi mengimaninya. Melalui pernyataan ini, Yesus mau tekankan bahwa iman atau percaya akan kebangkitanNya, pertama-tama bukanlah semata perkara inderawi; bisa dilihat, diraba, dan didengar. Indera manusia sangatlah terbatas untuk memahami dan menyelami misteri iman. Iman itu lebih bersentuhan dengan mata hati, sikap hati-ruang batin seseorang. Pada saat yang sama, Yesus menyebut orang-orang yang percaya akan kebangkitanNya, walaupun tidak melihat, sebagai orang yang paling berbahagia. Mengapa? Karena berkat iman dan kepercayaan itu, seseorang semakin bersatu dengan Kristus, yang bersumber dan berpuncak pada Sakramen Ekaristi; dengan menyantap tubuh dan darahNya sendiri dan selanjutnya diarahkan untuk bersatu dengan sesamanya.

Antara persatuan dengan Yesus dalam Ekaristi dan persatuan seseorang dengan sesamanya selalu sejalan. Itulah yang kita namakan persekutuan (communio) bermakna ganda; bersekutu dengan Tuhan dan bersekutu dengan sesama. Keselamatan dan kebahagiaan seseorang bersumber dari persekutuan seperti itu. Orang yang hanya bersekutu atau bersatu dengan Tuhan tanpa bersatu dengan sesama, belumlah lengkap. Itulah yang terjadi pada rasul Tomas tadi.

Kita kembali ke Tomas, tokoh paling unik dalam Injil hari ini. Dia berusaha keluar dari persatuan dan kebersamaan, serta lebih memilih untuk menyendiri. Karena pilihannya ini, ia kemudian ketinggalan informasi; tidak mengalami penampakan dan kehadiran Tuhan Yesus sejak awal. Tomas tidak mendapat jatah berkat dan kebahagiaan. Malah persoalan atau keresahan berlanjut ketika dia tidak percaya akan kesaksian teman-teman dan ngotot meminta bukti.

Tidak sedikit persoalan muncul, ketika orang, atau saya, misalnya, lebih memilih menyendiri dan keluar dari kebersamaan, keluar dari persekutuan. Mulai di dalam keluarga atau komunitas (jarang bertemu atau berkumpul bersama entah untuk doa bersama, makan bersama, berbagi cerita, atau rekreasi bersama), di dalam kelompok/masyarakat, KBG atau dalam hidup berparoki (menggereja), misalnya, jarang mengikuti doa bersama, katekese, syering Kitab Suci, pertemuan kelompok, merayakan ekaristi secara bersama-sama, dan masih banyak lagi. Dengan itu, sudah hampir pasti, saya ketinggalan dalam banyak hal dan ujung-ujungnya jatuh ke dalam sikap apatis; tidak peduli dengan orang lain atau situasi sekitar. Bukan tidak mungkin juga, walaupun tidak selamanya benar, pertumbuhan iman saya pun mungkin ikut macet dan menjadi kerdil. Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi.

Agar lekas keluar atau luput dari situasi seperti ini, salah satu langkah yang tepat adalah belajar dari jemaat perdana sebagaimana yang dilukiskan dalam Kisah Para Rasul (Bc. I) tadi. Mereka selalu berkumpul untuk berdoa bersama, syering: saling memberikan kesaksian iman, solider dan berbagi suka-duka satu sama lain. Dengan itu, iman mereka bertumbuh subur dan berhasil meletakkan dasar yang kokoh bagi generasi selanjutnya sampai pada generasi kita. Menyambung pesan dari jemaat perdana ini, sekedar syering, dua hari yang lalu, saat sidang pleno DPP Katedral, saya sangat tertarik dengan pernyataan Bp Ketua DPP, Bp Erlan Yusran. Beliau katakan; “kekuatan kita sebagai orang Katolik, warga Gereja, umat KBG atau umat paroki, terletak pada keseringan kita bertemu, bertatap muka, dan berkumpul. Karena Gereja itu sendiri adalah sebuah persekutuan (communio). Di sana kita bisa saling berbagi suka dan duka, serta saling menguatkan. Singkatnya, Gereja atau kita menjadi kuat karena senantiasa meluangkan waktu untuk duduk bersama atau berkumpul.”

Namun, di atas semuanya itu, sekali lagi, tidak ada persatuan dengan sesama tanpa terlebih dahulu bersatu dengan Tuhan. Dengan kata lain, roh persatuan dengan sesama bersumber dari persatuan kita dengan Yesus yang secara sempurna terjadi dalam Ekaristi. Persatuan inilah yang akan dialami oleh anak-anak, adik-adik kita, para peserta komuni pertama hari ini. Karena itu, adik-adik sekalian adalah orang-orang yang paling berbahagia karena akan bersatu lebih erat lagi dengan Yesus yang bangkit, dengan menyantap tubuh dan darahNya. Dengan itu, kalian akan menjadi sahabat-sahabat Yesus yang sejati dan tentu pada gilirannya menjadi sahabat yang baik bagi satu sama lain. Berbahagialah adik-adik yang tidak melihat, namun Percaya akan misteri Ekaristi ini.

Dalam suatu kesempatan tatap muka dengan sejumlah anak-anak misioner di Vatikan, Bapa Suci Paus Benedisktus XVI, sempat bertanya jawab dengan mereka. Salah satu di antara mereka, Andrea, seorang gadis cilik, bertanya kepada Bapa Paus; “Bapa Suci, dalam persiapan untuk menyambut komuni pertama, guru agama mengajarkan kepada kami bahwa Yesus hadir dalam Ekaristi. Tetapi, bagaimana? Saya tidak melihat Yesus! (intermezo: saya tidak sempat telusuri lebih jauh, riwayat/silsilah Andrea ini, mungkin saja anak ini keturunan langsungnya rasul Tomas).

Bapa Suci menjawab dengan penuh kesabaran: “Benar anakku, kita tidak melihat Dia. Tetapi coba perhatikan: ada banyak hal yang tidak kita lihat, namun nyata dan pasti ada. Misalnya: kita tidak melihat budi kita, namun kita mempunyai budi! Kita tidak melihat inteligensi/otak kita, namun kita memilikinya! Singkatnya: kita tidak melihat jiwa kita, namun jiwa itu ada! Kita pun, bisa melihat dan merasakan apa yang dibuat oleh jiwa kita itu, yaitu dengan berbicara, berpikir, mengambil keputusan, dan seterusnya. Bandingkanlah dengan aliran listrik!. Alirannya tidak kita lihat, namun cahaya lampu tampak bagi kita. Demikianlah Tuhan Yesus sesudah kebangkitanNya. Kita tidak dapat melihat Dia dengan mata kepala, namun kita memperhatikan, bahwa di mana saja Yesus berada, di situ orang-orang berubah, orang menjadi lebih baik, orang lebih mampu untuk berdamai dan saling mengampuni, serta semakin bersatu dengan sesamanya, dan lain-lain.

Maka, walaupun kita tidak melihat Tuhan, namun kita melihat hasil karya Tuhan! Lalu kita menarik kesimpulan: Yesus hadir di situ. Dan sungguh, justru hal-hal yang tidak kelihatan itu adalah, yang paling berbobot dan paling penting. Maka marilah kita mendatangi Tuhan yang tidak kelihatan, namun penuh kuasa itu, yang membantu kita untuk dapat menjalani hidup dengan baik. Tuhan tidak kita lihat dalam Ekaristi, tetapi Dia hadir dan memberikan diriNya sendiri dalam sebuah cara yang hanya dapat diterima melalui iman.”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *