Homili Minggu Paskah IV, Minggu Panggilan

Minggu Paskah keempat, 26 April 2015 adalah hari Minggu Panggilan. Misa kedua di Gereja Katedral Ruteng dipimpin oleh Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng. Pada saat yang sama juga dilantik pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan Paroki (DKP) Katedral Ruteng bersama seluruh pengurus Wilayah dan Kelompok Basis Gerejani (KBG) periode 2015 – 2019. Berikut, Homili Uskup Ruteng pada perayaan tersebut.

Menjadi Anak-anak Allah

Mgr. Hubertus Leteng

Homili Minggu Paskah IV

Uskup Ruteng | Foto: Dok DPP

Pada hari ini kita masuk pekan IV masa Paskah kebangkitan Tuhan Yesus. Pada hari yang sama ini kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, karena melalui umat seluruhnya Tuhan telah memanggil dan memilih para anggta DPP untuk bersama pastor paroki dan kapelan melayani umat paroki katedral ini. Di dalam perayaan Ekaristi ini kita semua berdoa bagi mereka, serta sekaligus melantik dan mengutus mereka untuk menjalankan tugas pelayanan dan pengabdian di paroki katedral ini.

Peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus dari alam maut dan kematian telah mengubah dan membaharui jatidiri kita dari anak manusia menjadi anak Allah. Inilah inti sabda Allah yang kita dengar dari bacaan II rasul Yohanes hari ini. “Saudara-saudara terkasih, Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia” (1Yoh 3: 1).

Dari kata-kata Rasul Yohanes ini, Allah sebagai seorang Bapa mengasihi kita. Dalam diri Yesus Putera tunggal-Nya yang sudah wafat dan bangkit dari kematian Allah mengasihi kita dan menjadikan kita anak-anak-Nya. Dengan begitu kita tidak hanya menjadi anak-anak manusia, tetapi juga menjadi anak-anak Allah. Inilah jatidiri kita yang baru. Dengan menerima sakramen Baptis yang menyatukan kita dengan Kristus yang mati dan bangkit kita dilahirkan dan diangkat kembali secara resmi menjadi anak-anak Allah. Karena itu hendaklah kita bersikap dan bertindak, berkata dan berbuat tidak melulu sebagai anak-anak manusia, anaknya si Anton dan si Anna, anaknya si Lukas dan si Merry atau anaknya si Martinus dan si Bergita, tetapi sebagai anak-anak Allah.

Pertanyaannya, bagaimana kita bersikap dan bertindak, berkata dan berbuat sebagai anak-anak Allah? Dengan kasih atau mengasihi, Allah menjadikan dan mengangkat kita menjadi anak-anak Allah. Jadi kasih atau mengasihi adalah cara Allah melahirkan dan mengangkat kita menjadi anak-anak Allah. Karena itu sikap dan tindakan kita, perkataan dan perbuatan kita sebagai anak-anak Allah haruslah mewujudkan dan menyalurkan atau membawakan kasih. Bila kita hanya anak-anak manusia saja, kita masih bisa tawar-menawar antara kasih dan benci, antara cinta dan irihati, antara sayang dan dendam, antara baik dan jahat. Tetapi kita adalah anak-anak Allah dan pengikut-pengikut Kristus. Sebagai anak Allah dan pengikut Kristus, hanya ada satu tanda pengenal dan jatidiri kita, yakni cinta kasih. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13: 34-35).

Dengan ini sekali lagi jatidiri dan tanda pengenal kita sebagai anak Allah dan pengikut Kristus adalah cinta kasih. Maka hanya kasih atau hanya cinta kasih pulalah yang menjadi pilihan kita untuk menjiwai dan merasuki seluruh diri dan hidup kita dalam setiap sikap dan tindakan kita, dalam setiap perkataan dan perbuatan kita. Memang sesudah menjadi anak Allah dan pengikut Kristus, kita tidak lalu berarti sudah sempurna seratus prosen. Meskipun kita sudah menjadi anak Allah dan pengikut Kristus, kita tetap manusia yang biasa yang memiliki kerapuhan, kelemahan dan kekurangan. Kita pasti masih jatuh dalam dosa dan kesalahan. Akan tetapi dengan menjadi anak Allah dan pengikut Kristus, warna dasar dari pilihan sikap dan tingkah laku kita tetap adalah cinta kasih. Cinta kasih tetap merupakan optio fundamentalis dari sikap dan prilaku kita dalam hidup.

Inilah alasan mendasar mengapa Tuhan Yesus dengan tegas berkata kepada para murid-Nya dan tentu kepada kita semua: “Kamu telah mendengar firman: mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu … Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5: 38-39.43-44).

Kalau kita hanya anak-anak manusia, kita mungkin masih bisa balas dendam, marah ganti marah, emosi ganti emosi, maki ganti maki, benci ganti benci, flungku ganti flungku, tempeleng ganti tempeleng, tendang ganti tendang, parang ganti parang dan berbagai bentuk balas dendam lainnya. Ini anak manusia dan ini orang lain. Tetapi anak Allah dan murid Kristus, termasuk kita semua, tidaklah demikian. “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat!

“Orang lain berbuat jahat terhadap kita, itu orang lain, itu bukan anak Allah dan itu bukan pengikut Kristus. Tetapi kita, janganlah berbuat jahat dan jangan juga balas berbuat jahat, tetapi balaslah kejahatan dengan berbuat baik. Orang lain marah, panas dan emosi, itu orang lain. Tetapi kita, janganlah marah, panas dan emosi dan jangan juga balas marah, panas dan emosi. Kalau kita terpaksa balas, balaslah dengan wajah senyum dan tawa, wajah ramah tamah. Orang lain sombong dan angkuh sama kita, itu orang lain. tetapi kita, janganlah sombong dan angkuh dan jangan juga balas sombong dan angkuh. Kalau kita terpaksa balas, hadapilah orang yang sombong dan angkuh dengan sikap sederhana dan rendah hati. Orang lain musuh sama kita, itu orang lain. Tetapi kita, janganlah kita musuh sama orang lain dan jangan juga balas musuh sama orang lain. Kalau kita terpaksa ada musuh sama orang lain, kita harus berdoa bagi musuh kita itu. Kita tidak boleh membenci musuh kita, tetapi kita mesti mengasihi dia dan berdoa baginya.”

Pada suatu hari Nasrudin menyewakan keledainya kepada seorang musafir yang membuat perjalanan jauh. Sebagai pemilik, Nasrudin berjalan kaki menyertai keledai sewaannya itu. Sedangkan musafir itu naik di keledai menelusuri perjalanan. Dalam perjalanan itu hari bertambah siang dan sengatan terik matahari semakin terasa sakit. Sementara itu tidak ada pohon rindang yang dapat memberi keteduhan. Maka mereka berhenti untuk istirahat dan masing-masing berniat untuk berteduh di bawah bayangan keledai itu. Karena bayangan keledai itu terlalu kecil dan sempit, musafir berkata: “Pergilah menjauh dari keteduhan bayangan ini.” Nasrudin menjawab: “Bayangan ini milikku, sebab aku menyewakan keledai ini tanpa bayangannya.” Musafir itu berkata lagi: “Aku tidak mau meninggalkan tempat bayangan ini, karena aku menyewa keledai ini.” Keduanya lalu bertengkar amat seru dan kata-kata mereka semakin keras dan kasar. Mendengar itu, keledai menjadi sangat ketakutan, lalu lari terbirit-birit hingga tidak dapat lagi dikejar bersama dengan bayangannya. Sejak saat itu mereka sadar bahwa sebenarnya tidak pantas mereka bertengkar tentang bayangan. Karena kalau mereka merebut bayangan, hal yang sebenarnya amat dibutuhkan malah justru menghilang pergi. [Bdk., Muhamad Yasir, Humor Sehat ala Ustadz, Penerbit Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, 2012, pp. 221-222.]

Bertengkar, berkelahi dan bermusuhan bukan merupakan wujud cinta kasih sebagai tanda pengenal dan jatidiri kita selaku anak Allah dan pengikut Kristus. Dari pertengkaran, perkelahian dan permusuhan, tidak ada hal yang positif atau yang baik yang kita peroleh. Sebaliknya dengan bertengkar, berkelahi dan bermusuhan, hal-hal yang amat dibutuhkan untuk kehidupan kita akan rusak dan hancur, akan hilang dan musnah. Semoga kita semua, secara khusus para anggota DPP yang dilantik dan diutus pada hari ini benar-benar menjadi anak Allah dan murid Kristus yang menghayati dan melaksanakan amanat cinta kasih dalam seluruh hidup, pelayanan dan pengabdian kita ke depan. Dengan demikian, hal yang terjadi dan terpelihara dalam kehidupan keluarga dan Gereja, KBG-KBG, lingkungan dan wilayah, paroki dan masyarakat hanyalah kedamaian dan keamanan, kenyamanan dan ketenteraman, persatuan dan kerjasama, dan bukan lagi pertengkaran dan perkelahian, permusuhan dan perebutan harta atau kekuasaan. (*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *