Homili Minggu Paskah V, Pokok Anggur

Minggu Paskah kelima, RD Lian Angkur, Pr dalam homilinya berbicara tentang “Pokok Anggur yang Benar.” Berikut naskah homili yang disampaikan pada Misa Sabtu Sore (3 Mei 2015).

Minggu Paskah V, Pokok Anggur

Pokok Anggur

Pokok Anggur yang Benar

Oleh RD Lian Angkur

Dalam Injil hari ini, Yesus menyebut diriNya sebagai pokok anggur yang benar. Pertama-tama kita coba mencermati gambaran tentang pohon anggur. Pokok dari pohon anggur adalah batang utamanya yang menancap ke tanah dengan akar-akarnya. Dan dari pohon anggur muncul ranting-ranting dan daun. Lewat akar, pokok anggur menyerap sari makanan dari bumi dan menyalurkannya ke semua ranting dan daun.

Yesus mengambil tanaman ini sebagai sebagai perumpamaan: Dia pokok anggur, dan kita, para pengikutNya, adalah ranting-rantingnya. Ranting-ranting sangat tergantung pada pokok karena semua makanan yang ia butuhkan untuk bertumbuh dan berbuah datang dari Pokok. Dengan demikian, jika ranting terlepas dari pokok (misalnya: dipotong), ia akan kering dan mati. Sekali lagi, Tuhan Yesus adalah pokok anggur yang benar dan seseorang bisa hidup bersemi bila menjadi ranting-ranting hidup yang tumbuh dari pokok itu. Bila terlepas atau terpotong dariNya, seseorang akan binasa.

Selanjutnya dalam pembicaraan Yesus tentang ranting-ranting, disebutkan dua kelompok/dua jenis ranting, yakni ranting yang berbuah dan ranting yang kering dan tidak berbuah. Kita mulai dari ranting yang tidak berbuah dan kering. Yesus katakan bahwa ranting jenis ini adalah orang yang tidak tinggal di dalam Yesus, sehingga ia dibuang keluar seperti ranting kering dan tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih jauh, siapakah yang dimaksudkan Yesus, ketika Dia mengatakan tentang ranting-ranting yang tidak berbuah?

Pertama, sesuai dengan konteks pembicaraan waktu itu, kata-kata ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi. Memang sesuai dengan gambaran para nabi, pada mulanya mereka adalah ranting-ranting dari pokok anggur Allah. Akan tetapi mereka menolak untuk mendengarkanNya; mereka tidak menerima Yesus, putera Allah; karena itu mereka adalah ranting-ranting yang sudah layu dan tidak ada gunanya lagi.

Kedua, Yesus berbicara tentang sesuatu yang sifatnya lebih umum. Kata-kata yang sama ditujukan kepada orang-orang Kristen, para pengikut Yesus yang mengimaniNya hanya dalam kata-kata, tanpa diikuti dengan perbuatan. Lebih parah lagi, orang boleh saja bersemangat menerima Dia sebagai Tuhan, tetapi kemudian waktu menghadapi kesulitan, segera meninggalkan Dia.

Selanjutnya kita merenungkan tentang ranting yang berbuah. Ranting yang berbuah adalah orang yang tinggal di dalam Yesus dan Yesus di dalam dia sehingga berbuah banyak. Ranting akan berbuah sejauh ia menyatu dengan pokoknya. Kita, para pengikut Yesus (yang adalah ranting) akan senantiasa berbuah jika tetap tinggal di dalam Yesus Kristus. Pertanyaannya, apa yang dimaksudkan dengan tinggal di dalam Kristus?

Kalau kita sejenak menelusuri kehidupan Yesus, kita akan menemukan bahwa rahasia kehidupan Yesus ialah kontakNya/hubunganNya dengan Allah; tiap kali Dia menarik diri dari kesibukan dan pergi ke tempat yang sunyi untuk bertemu dengan BapaNya. Dengan itu, sebagai ranting-rantingNya, setiap orang beriman perlu memelihara kontak dengan Yesus. Contoh, berdoa pada waktu pagi, walau dalam waktu yang singkat, tetapi dapat memberi daya tahan sepanjang hari; sebab selama seseorang berada dalam situasi itu, ia tidak akan mudah pasrah dan jatuh ke dalam hal-hal yang jahat. Untuk maksud itu, seseorang perlu mengatur pola hidup, mengatur waktu doa, saat teduh, sehingga tidak pernah ada satu hari di mana seseorang melupakan Tuhan.

Dengan demikian, maka yang terjadi adalah: Seseorang akan memperkaya hidupnya sendiri; kontak dengan Yesus membuat dia berbuah dan pada saat yang sama seseorang sedang memuliakan Allah, karena bila orang lain melihat cara hidupnya, mereka ingat akan Allah yang telah menjadikannya demikian. Dengan kata lain, Allah dipermuliakan jika seseorang berbuah banyak dan membuktikan diri sebagai ranting-murid-murid Yesus.

Menjadi cukup jelas bagi kita bahwa, tinggal di dalam Kristus tidak lain adalah membina kontak, kesatuan dengan Yesus. Membina kesatuan atau tinggal dan berada dalam Yesus berarti membuat rumah kita dalam Dia dan membiarkan Yesus membuat rumahNya dalam diri kita. Dengan tinggal di dalam Dia, kita menghasilkan buah, memberikan hidup kepada orang lain. Saat itulah Allah sedang menggunakan kita masing-masing sebagai jalan dan sarana rahmat, melalui kata-kata, sikap, kehadiran, dan doa-doa kita. Dengan cara itu pula, kita sedang ikut ambil bagian dalam karya penciptaan Allah memberikan hidup.

Akhirnya, satu dua pertanyaan untuk kita renungkan? Bagaimana relasi kita sebagai ranting dengan Yesus sebagai Pokok? Apakah kita erat melekat pada pokok? Apakah kita menjadi ranting yang bersih? Yang berbuah? Banyak? atau Sedikit? Atau tidak berbuah sama sekali?

Bacaan kedua tadi (1 Yoh. 3: 18-24), menyarankan satu cara untuk mempererat ikatan kita dengan Kristus sebagai pokok: “…menuruti segala perintahNya dan berbuat apa yang berkenan kepadaNya…yakni supaya kita percaya akan nama Yesus…dan saling mengasihi sesuai dengan perintahNya…Barangsiapa menuruti segala perintahNya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia sehingga seseorang berbuah banyak. (*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *