Homili Minggu Paskah VI, Cinta Yesus

Kali ini, kami menghadirkan homili Pastor Paroki Katedral Ruteng, RD Daniel Sulbadri, Pr yang disampaikan pada hari Minggu Paskah VI di Gereja Katedral Ruteng. Romo Deny memimpin Misa kedua, jam 08.00 Wita (10/5).

Homili Minggu Paskah VI, Cinta Yesus

RD Daniel Sulbadri, Pr

Mencintai seperti Yesus

Oleh: RD Daniel Sulbadri, Pr

Umat beriman yang terkasih,

Kisah Para Rasul memberitakan tentang pewartaan rasul Petrus kepada Kornelius dan keluarganya yang menjadi percaya sehingga dibaptis. Seorang perwira Romawi dari bangsa lain, namun karena terbuka hatinya bagi Sabda Allah maka ia memperoleh keselamatan. Hal ini juga menunjukkan bahwa Allah menawarkan keselamatan. Hal ini juga menunjukkan bahwa Allah menawarkan keselamatan kepada semua orang tanpa pilih kasih. Allah tidak membedakan orang; siapa saja yang mengamalkan kebenaran ilahi, entah dari bangsa mana saja, berkenan kepadaNya.

Memang pertama-tama, berita Injil disampaikan kepada bangsa terpilih; namun kemudian tanpa perbedaan, warta gembira disampaikan juga kepada bangsa lain. Roh Kudus yang sama seperti pada Pentakosta, dicurahkan kepada Kornelius. Kasih Ilahi yang melimpah pada bangsa yang taat Hukum Taurat, tanpa bedanya diberikan juga kepada bangsa lain yang bertobat. Roh Kudus membongkar dan menghancurkan tembok pemisah, untuk kemudian menghimpun dan mengumpulkan segala bangsa menjadi satu di bawah Kristus Sang Kepala.

Umat beriman yang terkasih,

Allah adalah Kasih, selalu berarti Tuhan lebih dahulu mencintai manusia dalam segala aspek, rohani dan jasmani. Dalam penjelmaannya, Tuhan Yesus menunjukkan kasih Bapa kepada manusia. Ia menarik seluruh umat manusia untuk tinggal dalam Dia, melakukan perintahNya dan tetap tinggal di dalam kasihNya. Hal ini membuktikan bahwa Allah tidak bersemayam jauh di atas awan, menikmati sendiri kemuliaanNya dan tidak mau solider dengan situasi manusia. Justru sebaliknya, Allah memperkenalkan diri sebagai Dia yang memberi perhatian besar terhadap apa yang terjadi di dunia. Tuhan melibatkan diri dalam seluk-beluk sejarah umat manusia dan dengan kuat kuasaNya berusaha agar manusia mempunyai hidup, dalam segala kelimpahannya.

Tuhan yang mengenal manusia sejak dalam kandungan, mencintai manusia sebagai biji mataNya. Cinta Allah begitu menyeluruh, hingga jiwa-raga-hati-budi-rasa manusia “dibenamkan” dalam kasihNya.

Umat beriman yang terkasih,

Relasi cinta kita dengan Tuhan menuntut jawaban dan tanggapan, agar seluruh cinta kita juga bertumbuh dan berkembang dalam kesaksian hidup yang nyata. Karena kita dicintai Allah, maka kita pun harus mencinta sesama. Cinta kita kepada sesama, mengikuti model dan contoh Tuhan sendiri. Kita tidak boleh mencitai sesama menurut pengalaman pribadi kita sendiri atau menurut apa kata orang. Karena jika demikian, dapat terjadi pengalaman kita yang buruk mengenai cinta membuat kita trauma, marah dan anti terhadap cinta. Atau juga cnita kita tidak tulus dan murni, tidak sehat dan wajar, karena hanya mencintai orang-orang yang kita senangi dan membenci orang-orang yang tidak kita suka.

Syukurlah bahwa Yesus mengajarkan dan memberi contoh agar kita mencintai sesama seperti Dia telah mencintai kita. Kekuatan cinta telah terbukti mengubah dunia. Dengan kasih dan keramahan, dengan membuka tangan untuk menolong, rela mendengarkan orang lain adalah buah-buah kasih yang nyata dalam kehidupan kita.

Mencintai orang baik lebih mudah daripada mencintai orang yang menyakiti atau mengecewakan kita. Inilah tantangan bagi kita para pengikut Kristus. Allah sudah mengasihi kita dengan cinta kasih abadi. Mari kita tinggal di dalam kasihNya agar kita mampu mengalahkan kebencian dan balas dendam yang dapat menghancurkan kualitas hidup kita sebagai citra Allah. Semoga (*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *