Homili Minggu XXVII, Gereja Rumah Tangga

Salam jumpa! Rubrik Homili kembali hadir ke hadapan anda, kali ini berbicara tentang “Gereja Rumah Tangga“. Ini adalah Homili Minggu Biasa XXVII, 4 Oktober 2015 yang dibawakan oleh Pastor Kapelan Katedral Ruteng RD Lian Angkur pada Misa pertama di Gereja Katedral Ruteng. Selamat menyimak.

Gereja Rumah Tangga

Oleh: RD Lian Angkur

Sejak awal penciptaan, Allah memandang dan menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai dua sosok yang sama, sederajat, setara. Lebih jelas dalam Bacaan Pertama (Kej. 2:18-24), dibicarakan tentang hubungan antara keduanya. Allah sendiri berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Dua kata kunci yang perlu kita camkan di sini: penolong dan sepadan, yang memunculkan dua gagasan utama yaitu:

  1. Kesepadanan-kesetaraan antara laki-laki dan perempuan: tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah martabatnya.
  2. Saling menolong: laki-laki dan perempuan adalah penolong satu sama lain. Kesetaraan dan kesatuan mereka terungkap jelas dalam kata-kata manusia sendiri, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” Kadar kesetaraan, kesatuan, dan persahabatan antara laki-laki dan perempuan bisa menjadi begitu erat, sehingga mereka sungguh-sungguh satu, sehati-sejiwa.

Namun, dalam sejarah kehidupan manusia hingga saat ini, kenyataan kadang bahkan sering berbicara lain. Tidak sedikit kasus yang berlawanan atau keluar dari pandangan dan maksud Allah itu. Sebagian orang terpenjara di dalam kebiasaan, tradisi, atau budaya yang merugikan pihak lain, khususnya perempuan. Ini yang banyak kali terjadi dan berdampak pada munculnya perlakuan tidak adil; ada kekerasan, pelecehan, hak-haknya kurang dihargai, suaranya kurang didengarkan, jarang diberi peran-tugas atau posisi strategis di dalam lingkungan pergaulan. Khusus dalam hidup perkawinan, ada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan perceraian secara sepihak. Dan masih banyak contoh lain.

Injil hari ini mengangkat satu kasus yang terjadi di lingkungan kehidupan sosial-budaya Yahudi pada zaman Yesus. Orang Farisi sebagai utusan warga Yahudi, datang mencobai Yesus untuk berdiskusi tentang perceraian. Jelas untuk kita, bahwa, mereka sekedar mencobai Yesus. Sebenarnya mereka sudah tahu jawabannya, bahwa menurut perintah Musa, orang boleh menceraikan istrinya dengan membuat surat cerai. Dengan kata lain, pada saat itu, perceraian sebenarnya sudah marak terjadi di sana. Dan sekarang mereka meminta pendapat Yesus.

Dari dialog atau diskusi yang terjadi, tibalah kita pada satu dua kesimpulan penting. Bagi Yesus, akar atau sebab utama dari tindakan perceraian itu adalah masih kuatnya pandangan, pola pikir, dan perilaku yang keliru, yang umumnya, masih melihat kaum perempuan sebagai anggota kelas atau warga masyarakat nomor dua. Dengan itu, ada sesuatu yang pincang-tidak beres di sana. Selanjutnya kepincangan dan pandangan atau pola pikir yang tergolong sesat ini, juga bisa terbaca dari rumusan pertanyaan yang diajukan kepada Yesus: “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?” 

Dari rumusan pertanyaan ini, terlihat sangat jelas bagaimana seorang suami, yang adalah laki-laki hadir sebagai pihak yang aktif menceraikan istrinya. Sebaliknya, seorang istri, yang adalah perempuan sepertinya dijadikan sebagai “obyek” yang bisa diatur begitu saja, yang lemah dan mudah diperdaya. Tentu ceritanya menjadi lain, jika rumusan pertanyaannya diubah atau dibalik: “Apakah seorang istri diperbolehkan menceraikan suaminya”? Tetapi, mengapa bukan bentuk pertanyaan seperti ini yang muncul? Sekali lagi, bagi Yesus, perlakuan tidak adil terhadap perempuan termasuk dalam hal perceraian terjadi, ketika setiap orang tidak lagi melihat laki-laki dan perempuan sebagai pribadi yang setara-sederajat, yang wajib hukumnya untuk saling menghormati dan menghargai. Justru di sini letak persoalannya.

Selanjutnya, Yesus mengakhiri diskusi dengan orang Farisi tadi dengan sebuah pernyataan yang pasti dan tegas: “..Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”. Pertama-tama, penegasan Yesus ini, bertolak dari komitmen Yesus tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang berlaku sejak awal penciptaan dan untuk segala bidang kehidupan. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Hal kedua, melalui jawaban tersebut, Yesus sedang menjunjung tinggi yang namanya hidup perkawinan; sebuah ikatan hidup suami istri. Dengan maksud bahwa, sebagai sebuah ikatan hidup yang direstui oleh Allah, keutuhan perkawinan itu tidak boleh dipandang remeh atau dipermainkan begitu saja oleh manusia.

Atas dasar itu, setiap orang atau keluarga diharapkan untuk menjaga keutuhan perkawinan yang ditandai dengan kesatuan fisik-hidup bersama dan kesatuan rohani; ada ikatan emosional yang kuat; sehati-sejiwa. Namun, sekali lagi, sejalan dengan pesan utama bacaan hari ini, keutuhan tersebut akan terwujud jika setiap orang/anggota keluarga sadar akan kesetaraan antara satu dengan yang lain; antara suami terhadap istri atau sebaliknya, antara orangtua dengan anak-anak, antara laki-laki dan perempuan. Kesadaran ini perlu dipertahankan karena sangat menentukan utuh-tidaknya hidup keluarga-perkawinan. Perceraian yang marak terjadi di kalangan bangsa Yahudi pada zaman Yesus terjadi karena absennya kesadaran akan kesetaraan ini. Besar harapan kita agar situasi ini tidak menimpa keluarga-keluarga kita.

Sehubungan dengan pentingnya menjaga keutuhan dan keharmonisan ini, St. Yohanes Christotomus pernah menyebut keluarga Kristiani sebagai ecclesia domestica: gereja kecil; gereja rumah tangga. Keluarga adalah tempat Yesus Kristus hidup dan berkarya untuk keselamatan manusia dan berkembangnya Kerajaan Allah. Selanjutnya, sebagai gereja rumah tangga, keluarga menjadi tempat yang baik bagi setiap orang untuk mengalami kehangatan cinta yang tidak mementingkan diri sendiri; kesetiaan, dan sikap saling menghargai, saling menghormati, dan saling menolong.

Tidak ada diskriminasi atau melihat yang lain lebih rendah. Inilah panggilan khas keluarga Kristiani yang telah dimeteraikan dengan sakramen perkawinan, yang menjadikannya sebagai sebuah persekutuan yang menguduskan, di mana orang belajar menghayati kelemahlembutan, keadilan, belas kasihan, kasih sayang, kemurnian, kedamaian, dan ketulusan hati, serta bertumbuh di dalam kebaikan dan cinta kasih. Singkatnya, karena keluarga adalah Gereja Rumah Tangga, maka sudah selayak dan sepantasnyalah setiap anggota keluarga terpanggil dan bertanggung jawab untuk menjaga keutuhannya.

Pastor Yoseph Sarto, yang kemudian menjadi Paus dengan nama kepausannya Paus Pius X. Ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1858. Selanjutnya diangkat menjadi Uskup Mantula, Italia. Dalam perayaan Ekaristi pentahbisan Uskupnya, ibunya yang sudah usia lanjut, hadir di dekat altar. Pada akhir misa ada acara mencium cincin uskup baru. Maka ia berpikir bahwa ibunya yang istimewa akan diberi kesempatan pertama untuk mencium cincin uskupnya. Ia mendekati ibunya dan dengan bangga ia berkata; “Ibu, engkau mendapat kehormatan pertama untuk mencium cincin uskupku. Apa yang ingin engkau katakan, ketika anakmu ini mengenakan cincin ini? Anakmu sekarang telah menjadi uskup.

Bagaimana perasaanmu? Untuk diketahui, ibunya telah berusia lebih dari 70 tahun. Ia menjalani hidup yang miskin dan sederhana. Menariknya, pada kesempatan yang mulia itu, ia mengenakan cincin nikah di tangannya. Ia mengangkat kepalanya dan dengan spontan berkata kepada anaknya, “Yang Mulia, engkau terlebih dahulu mencium cincin nikahku ini, sebelum aku mencium cincin uskupmu. Karena kalau cincin nikahku ini tidak ada di jariku, cincin uskupmu itu tidak mungkin ada di jarimu!” Uskup baru itu sangat terharu dan gembira mendengar perkataan yang keluar dari mulut ibunya. Artinya, jika sang ibu belum menerima sakramen perkawinan, Bapa Uskup tadi pasti belum dilahirkan dan kemudian menerima tahbisan uskup.

Tak satu pun yang menyangkal bahwa, hidup perkawinan-hidup keluarga: dalam cerita tadi disimbolkan dengan cincin pernikahan sang ibu, adalah tempat pertama dan utama bagi bertumbuhnya seorang manusia dengan kebaikan-kebaikan yang terpancar daripadanya dan tempat berseminya Kerajaan Allah dalam rupa hidup dalam kasih dan kedamaian, ada respek-menghargai dan menghormati satu sama lain.

Dari cincin nikah sang ibu atau orangtua, lahirnya cincin uskup. Dari keluarga, yang adalah Gereja Rumah Tangga, lahir dan bertumbuhlah orang-orang baik, apa pun profesi atau status dan jabatannya, yang siap dipakai Tuhan untuk menegakkan Kerajaan KasihNya di dunia ini.

Sekarang, pertanyaan untuk kita; Sudah sejauh mana kita menyadari keberadaan keluarga-keluarga kita sebagai Gereja Kecil; Gereja Rumah Tangga, sekaligus berusaha dengan sekuat tenaga menjaga keutuhan dan keharmonisannya? Apakah kita sudah memandang dan memperlakukan sesama anggota keluarga sebagai pribadi yang sederajat dan sepadan, layak dihargai dan dihormati, dan menjadi penolong satu dengan yang lain? (*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *