Homili Paskah: Berlari-lari Mewartakan Tuhan

Uskup Ruteng Mgr. Hubertus Leteng memimpin Misa Minggu Paskah 2016 di Gereja Katedral Ruteng. Dalam homili Paskah tahun ini, Uskup menyampaikan tentang pentingnya memiliki semangat atau spirit kebangkitan. Selamat menyimak!

homili paskah: berlari-lari mewartakan tuhan

Paskah di Katedral Ruteng | Foto: Kaka Ited

Homili Paskah Uskup Ruteng:

Berlari-lari Mewartakan Tuhan

Kis 10: 34a.37-43; Kol 5: 1-4; Yoh 20: 1-9 

Pada hari ini kita bersama Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan pesta kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Kebangkitan Tuhan bukanlah sebuah seremoni atau perayaan sekedar untuk diperingati dan dikenang, tetapi untuk dihayati dan diwartakan. Sesudah kembali atau pulang dari kubur, Maria Magdalena yang telah mengalami kebangkitan Tuhan “berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus” (Yoh 20: 2). Selain Maria Magdalena, Petrus dan seorang murid yang lain juga “berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur” (Yoh 20: 4). ‘Berlari’ atau ‘berlari-lari’ sesungguhnya menunjukkan dinamisme dan semangat, tanda aktif dan tanda hidup dalam diri manusia. Dalam arti ini, ada dua hal yang perlu kita renungkan, kita sadari dan kita hayati dalam kaitan dengan kebangkitan Tuhan bagi kita manusia.

Pertama, kita harus memiliki semangat atau spirit kebangkitan. Maria Magdalena, Petrus dan murid yang lain ‘berlari-lari’ pasti tidak lain karena kebangkitan Tuhan memberikan dan menumbuhkan semangat baru atau spirit baru dalam diri mereka. Dengan kata lain Tuhan yang bangkit membuat mereka memiliki semangat baru atau spirit baru dalam diri dan hidup mereka. Sebagaimana Maria Magdalena, Petrus dan murid yang lain itu, hendaklah kebangkitan Tuhan memberikan suatu semangat baru, gairah baru atau spirit baru dalam diri dan hidup kita. Perkembangan dan kemajuan hidup lahir dari suatu gairah hidup, semangat hidup dan spirit hidup yang selalu baru.

Mengapa kita perlu spirit baru?

Sebagai manusia, tidak ada dari kita yang hidup sempurna. Kita pasti memiliki kekurangan, kerapuhan dan kelemahan. Dalam diri dan hidup kita pasti ada hal-hal yang sebetulnya tidak boleh terjadi dan tidak boleh dilakukan, tetapi toh terjadi dan kita lakukan, entah kita mau atau tidak mau, kita sadar atau tidak sadar. Seringkali kita gagal untuk mempertahankan hal yang baik dan gagal pula untuk melakukan apa saja yang menjadi cita-cita dan rencana, janji dan komitmen hidup kita yang baik dan benar. Kita lalai menjalankan tugas dan pekerjaan kita. Kita malas dan tidak disiplin dalam hidup dan dalam pekerjaan. Segala bentuk kelemahan dan kekurangan ini, segala bentuk kelalaian dan kegagalan ini dalam hidup tentu saja tidak boleh bertahan dan dipertahankan. Kita harus menyesali dan memperbaiki semuanya itu. Untuk itulah kita mesti memiliki semangat atau spirit kebangkitan. Dengan kebangkitan-Nya Tuhan Yesus telah memberikan kepada kita semua dan kita masing-masing semangat, gairah dan spirit baru itu dalam diri dan hidup kita.

Maka ketika kita jatuh, gagal atau menghadapi banyak tantangan dan persoalan, janganlah kita pernah putus asa atau putus harapan. Sebaliknya lihatlah dan carilah Tuhan Yesus yang bangkit. Percayalah kebangkitan-Nya, ambillah dan milikilah semangat kebangkitan-Nya itu menjadi sebuah spirit baru, semangat baru dan gairah baru untuk semakin memperbaiki, menyempurnakan dan memajukan mutu hidup kita, mutu profesi dan pekerjaan kita di dunia ini. Mutu hidup, mutu profesi dan mutu pekerjaan kita akan berubah menjadi baik, bila kita tetap bertahan dalam kelemahan dan kekurangan kita, dalam kelalaian dan kegagalan kita. Perubahan dan peningkatan mutu terjadi hanya jikalau kita memiliki gairah, semangat dan spirit hidup yang baru.

Kedua, marilah kita bergerak keluar dari diri dan hidup kita sendiri. ‘Berlari-lari’ seperti yang dilakukan oleh Maria Magdalena, Petrus dan murid lain menunjukkan sebuah aksi atau suatu gerakan keluar. Mereka berangkat meninggalkan tempatnya untuk menemui dan menjumpai murid-murid yang lain dan mewartakan kebangkitan Tuhan kepada mereka. Seperti Maria Magdalena, Petrus dan seorang murid lain itu, kita mesti berani meninggalkan tempat atau zona nyaman hidup kita untuk mewartakan kebangkitan kepada orang lain. Yang mesti bangkit dalam hidup bukan hanya Kristus dan kita tetapi juga begitu banyak orang lain. Mereka masih menunggu kehadiran kita, perhatian dan cinta kita agar mereka bisa bangkit dari kondisi hidup mereka yang kurang menguntungkan. Untuk membangkitkan mereka itulah, kita harus berani keluar dari diri kita, keluar dari lingkungan kita menuju orang lain. Bila kita hanya tinggal di tempat, orang lain tidak akan berubah, karena mereka tidak mendengarkan kabar gembira tentang kebangkitan Tuhan.

Dalam sebuah penerbangan antar negara, ada penumpang yang berasal dari Amerika, Arab dan Indonesia. Sambil menikmati waktu penerbangan dan memanfaatkan waktu di dalam pesawat, Nadus penumpang yang berasal dari Amerika menunjukkan kebolehan dan kemewahannya. “Kami adalah negara adikuasa yang kara raya. Tidak satu negara pun bisa mengalahkan kekuatan kami.” Dia pun mulai mengambil lembaran-lembaran dollar dari petinya, kemudian membuang lembaran-lembaran dollar itu melalui kaca jendela pesawat. Ketika orang-orang bertanya kepadanya, mengapa ia melakukan itu, dengan enteng ia menjawab: “Biasa, di Amerika sudah kebanyakan dollar, jadi dibuang-buang pun tidak akan membuat kami miskin.”

Melihat kesombongan itu, Nabas yang berasal dari Arab tidak mau kalah, ia berkata: “Kami adalah negara yang kaya dengan minyak, semua negara menggantungkan nasib minyaknya pada kami. Kami juga merupakan penghasil buah kurma terbesar di dunia.” Dia pun mulai mengambil kurma-kurma dari dalam kardus, lalu membuangnya ke bawah. Ketika orang bertanya kepadanya, mengapa dia melakukan itu, dengan santai dia menjawab: “Itu sudah biasa di negara kami. Kurma adalah makanan sehari-hari, dan kami adalah negara penghasil kurma terbesar di dunia ini.” Penumpang terakhir Nasrudin yang berasal dari Indonesia tidak mau kalah dengan penumpang lain. Dia pun segera memboyong temannya yang sedang tidur nyenyak, lalu membuangnya keluar dari atas pesawat. Ketika ditanya mengapa dia melakukan itu, dengan santai ia menjawab: “Amat biasa, di Indonesia sudah terlalu banyak orang tidur dan ketiduran.”

Banyak tidur atau banyak ketiduran hanyalah salah satu contoh kondisi atau situasi hidup kita yang kurang menguntungkan. Dari kondisi hidup seperti inilah kita perlu bangun dan kita harus bangkit. Maka marilah kita menjadikan kebangkitan Kristus sebuah spirit, sebuah semangat atau sebuah gairah baru untuk selalu berusaha membangun hidup kita dalam semua aspeknya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, dari tahun ke tahun. (*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *