Homili Pembukaan BKSN 2015

Minggu, 6 September 2015 adalah Minggu Biasa XXIII. Saat yang sama juga menjadi minggu pembukaan Bulan Kitab Suci Nasional BKSN 2015. Pada perayaan ekaristi pembukaan BKSN 2015 tersebut, RD Lian Angkur mengingatkan tentang kekuatan sabda: Sabda itu Mengubah! Simak homili Pastor Kapelan Katedral Ruteng tersebut berikut ini.

homili pembukaan bksn 2015

Sabda itu Mengubah

Oleh: RD Lian Angkur

Di dalam dan bersama Yesus, segala sesuatu menjadi lain. Ia mengubah atau menjadikan segala-galanya baik. Salah satunya terungkap melalui mukjizat dalam Injil, tentang seorang tuli dan gagap-bisu dibawa kepada Yesus. Ia tidak bisa mendengar dan berbicara selama bertahun-tahun. Sudah pasti orang ini sulit berinteraksi dengan masyarakat atau lingkungan sekitar. Itu berarti, dia mengalami dua penderitaan-tekanan sekaligus yaitu bergulat dengan keterbatasan fisiknya dan juga tekanan-penderitaan sosial; merasa terisolasi dan terasing dari lingkungan masyarakat. Singkatnya, ia betul-betul lumpuh secara fisik, rohani, dan sosial. Di tengah situasi serba terbatas seperti itu, orang ini tentu sangat mendambakan yang namanya perubahan; dari tuli dan bisu menjadi orang yang bisa mendengar dan berbicara. Karena hanya dengan itu, ia dapat hidup secara penuh sebagai manusia, sebagai citra Allah sejati.

Di dalam Yesus, kerinduan orang cacat tadi terjawab. Mukjizat terjadi. Yesus membuka telinga dan pengikat lidahnya sehingga semuanya berubah; ia kemudian bisa mendengar dan berbicara dengan sangat baik. Pertanyaannya; Apa persisnya yang Yesus lakukan terhadap orang ini?

Jika dibandingkan dengan mukjizat lain, hemat saya, ada satu dua aksi Yesus yang tergolong unik-khas terhadap orang yang satu ini.

Pertama, Yesus memisahkan orang ini dari kerumunan orang banyak sehingga hanya mereka berdua sendirian, diikuti dengan sentuhan Yesus pada telinga dan lidahnya. Di sini, Yesus ingin menyapa dan berjumpa dengan orang ini secara pribadi; dari hati ke hati. Dengan itu, Yesus mau meyakinkannya bahwa ia adalah pribadi yang berharga. Perjumpaan seperti ini tentu menyembuhkan orang ini dari dalam; di mana sekarang ia merasa disapa dan diterima kembali sebagai manusia sejati. Perjumpaan pribadi dengan Tuhan memang sangat penting untuk sebuah pertumbuhan iman dan kemerdekaan serta kegembiraan batin.

Kedua, pada bagian puncak penyembuhan itu, Yesus menengadah ke langit, untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya pertolongan itu datang dari Allah. Lalu Ia mengucapkan satu kata; Effata! Terbukalah!. Seketika itu juga, terbukalah telinga orang itu dan telepas pulalah pengikat lidahnya, sehingga ia bisa berkata-kata dengan baik. Itu berarti, telinga dan mulut orang itu terbuka bukan semata karena jamahan tangan Yesus, tetapi lebih karena Sabda penuh kuasa, Effata, yang keluar dari mulut Yesus. Di situlah letak keistimewaan atau nilai lebihnya. Penginjil Markus tentu tidak sekedar menceriterakan orang bisu-tuli bisa mendengar dan berbicara, tetap lebih mau menyampaikan kekuatan Firman-Sabda Allah; firman atau sabda yang membebaskan. Sekali lagi, poin penting dari mukjizat ini adalah bagaimana Sabda Tuhan itu berdaya guna sekaligus bekerja sangat hebat di dalam diri orang cacat itu. Sabda Tuhan; Effata! berhasil mengubah orang yang sebelumnya tuli dan bisu menjadi orang yang bisa mendengar dan berbicara dengan baik.

Jika direnungkan lebih jauh, “tuli” adalah gambaran kehidupan manusia yang secara rohani menutup diri, menutup “telinga” terhadap sapaan Tuhan dan terhadap jeritan serta kebutuhan orang lain; suka masa bodoh atau pura-pura tidak tahu. Sedangkan “gagap/bisu” adalah gambaran kehidupan manusia yang lebih memilih “bisu” dan enggan mewartakan Sabda Allah dan lebih memilih diam ketika diminta untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan; berlaku sangat permisif, membiarkan sesuatu yang buruk terjadi dengan prinsip sejauh itu tidak merugikan saya, dan lain-lain. Dengan kata lain, Saudara-saudariku terkasih! Dalam arti yang sangat luas, tuli dan bisu boleh dipahami sebagai situasi krisis dalam hidup beriman.

Setiap orang beriman, termasuk kita sekalian tentu tidak mau terperangkap di dalam ketulian dan kebisuan seperti itu. Walaupun terlanjur terperangkap, kita pasti ingin berubah. Lantas, apa dan siapa yang mengubah atau yang mengeluarkan kita dari perangkap itu? Saudara-saudariku terkasih! Berangkat dari pesan inti mukjizat tadi, untuk keluar dari perangkap itu, tidak ada pilihan lain selain mengandalkan kekuatan Sabda Tuhan. Karena, “manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”.

Untuk konteks kita, ajakan ini dirasa begitu penting bahkan sangat urgen, karena dunia kita sekarang boleh dikatakan dikuasai dan ditentukan oleh media masaa-audio, video, dunia maya semisal facebook-twwiter, dan sejenisnya. Media massa atau juga media sosial sangat besar pengaruhnya dalam membentuk pendapat umum, cara berpikir, gaya hidup, bahkan termasuk kepercayaan-keyakinan orang. Dalam keadaan seperti ini, kita perlu menggali kekuatan Sabda Allah yang mampu memberi “hidup” kepada kita. Selanjutnya Sabda yang kita baca dan dengar bukan hanya memberi makan kepada budi kita, tetapi semestinya berperan sebagai daya yang membaharui kehidupan: “Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firmanKu yang keluar dari mulutKu…” (Yes. 55: 10). Sabda Allah tidak hanya informatif (memberitahu-menerangkan), tetapi berdaya transformatif (mengubah-membarui).

Peter V. Deison, dalam bukunya The Priority Of Knowing God (Mengutamakan Pengenalan Akan Allah) mengisahkan tentang seorang India bernama Ramad. Ia adalah anggota geng perampok. Pada suatu hari, ketika mereka mengadakan aksi perampokan di sebuah rumah, Ramad memperhatikan sebuah buku kecil berwarna hitam dengan lembaran- lembaran halaman yang sangat tipis, sehingga tampaknya cocok untuk membuat lintingan rokok (pembungkus tembakau). Ia pun mengambilnya. Setiap sore ia menyobek satu halaman untuk melinting tembakau, dan mulai merokok. Ketika ia melihat bahwa tulisan kecil-kecil dalam buku itu, tertulis dalam bahasanya, ia mulai membacanya terlebih dahulu sebelum digunakan untuk melinting rokoknya. (Kita bisa tebak, buku apa yang ia ambil tadi, yaitu Alkitab. Tetapi ia sendiri tidak tahu bahwa itu adalah Alkitab; kitab suci.)

Suatu sore, pada saat mulai membaca, matanya langsung tertuju pada ayat Injil (Mat. 9: 13b), yang berisi kata-kata Yesus yang berbunyi: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa”. Usai membaca itu, hatinya sungguh tersentuh dan tersentak bercampur haru; segera berlutut dan berseru kepada Tuhan Yesus agar mengampuni dosanya dan menyelamatkannya. Selanjutnya, yang membuat banyak orang tercengang adalah ketika kemudian ia menyerahkan diri kepada polisi. Ramad, perampok itu, kini menjadi tahanan milik Yesus Kristus. Selama dalam penjara, ia membawa banyak orang kepada sang Juruselamat itu. Roh Kudus yang bekerja dalam Injil Kristus dan dalam diri Ramad telah menjadi kekuatan Allah yang mengubah, membebaskan, dan menyelamatkan dia. Sabda Tuhan itu telah membuka telinga dan mulut Ramad.

Pada saat kita bergaul dengan Kitab Suci, sebenarnya saat itu Tuhan sedang menyapa dan menjumpai kita secara pribadi dan merencanakan yang indah bagi hidup kita; berniat mengubah dan membaharui hidup kita; membuka telinga dan mulut hati kita bagi SabdaNya. Sekarang, tinggal bagaimana masing-masing kita menyediakan waktu khusus untuk membaca, mendengarkan, dan merenungkan serta untuk selanjutnya menghayati Sabda Tuhan itu. Karena toh, Sabda Allah semakin berkuasa atas diri sekaligus mengubah kita menjadi lebih baik, sejauh ada relasi dan waktu khusus untuk membaca atau mendengarkanNya.

Untuk maksud ini, mau tidak mau, ada saatnya, kita harus memisahkan diri dari orang lain (arti positif), menarik diri sejenak dari kesibukan untuk sendirian bersama Tuhan. Yakinlah, dengan memandang Tuhan di halaman-halaman Kitab Suci, dan dengan berserah kepada kuasa Roh Kudus, kita akan menjadi pribadi yang berbeda dan senantiasa bersukacita dalam iman. Inilah semangat yang mau kita bangun pada saat kita mengawali bulan penuh rahmat; bulan kitab suci nasional (BKSN) tahun 2015 ini. Mari kita mulai dari lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga-rumah kita masing-masing, agar Sabda Tuhan betul-betul menjiwai kehidupan dan pelayanan kita sehari-hari. Semoga! (*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

2 gagasan untuk “Homili Pembukaan BKSN 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *