Homili Pentakosta, Menjadi Saksi Kristus

Hari Minggu, 24 Mei 2015 kemarin adalah hari Pentakosta; Roh Kudus turun ke atas para rasul. Perayaan ini juga sekaligus menjadi akhir lingkaran Paskah dalam liturgi Gereja Katolik. Berikut Homili Pentakosta Pastor Kapelan Katedral Ruteng, RD Lian Angkur, Pr pada perayaan misa kedua di Gereja Katedral Ruteng.

Homili Pentakosta, Menjadi Saksi Kristus

RD Lian Angkur, Pr

Menjadi Saksi Kristus

Oleh: RD Lian Angkur, Pr

Bacaan pertama, dari Kisah Para Rasul tadi (Kis 2:1-11), mengangkat peristiwa turunnya Roh Kudus ke atas para rasul pada hari Pentekosta. Peristiwa ini merupakan pemenuhan janji Yesus kepada para muridNya sebelum berpisah dengan mereka, sebagaimana yang dikisahkan dalam Injil Yohanes tadi. Menurut sejarahnya, Pentekosta adalah salah satu perayaan Yahudi, yakni hari raya perjanjian dengan Tuhan di atas gunung Sinai. Turunnya Roh Kudus digambarkan serupa dengan peristiwa Allah yang turun ke atas gunung Sinai. Namun, perbedaan yang mencolok ialah, bahwa di Sinai, Taurat hanya diberikan kepada bangsa Israel, sedangkan Roh Kudus turun ke atas “semua orang yang percaya”, yang dimulai dalam diri para rasul.

Selain itu, hampir pasti bahwa pada saat yang sama, semua umat Yahudi merayakan Pentekosta, tetapi Roh Kudus hanya turun ke atas kelompok murid Yesus. Hal ini terlihat jelas seperti yang dikisahkan bahwa pada waktu itu di Yerusalem berkumpul orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit dan semua orang yang percaya akan Yesus berkumpul di satu tempat. Ketika kelompok orang percaya ini; para rasul, dipenuhi Roh Kudus dan berbicara dalam berbagai bahasa, banyak orang dari kelompok lain di luar mereka, bingung dan berdecak kagum terhadap mukjizat itu. Pertanyaannya, mengapa mereka tidak mendapat jatah karunia Roh dan mukjizat itu?

Pertanyaan ini menjadi pintu masuk bagi kita untuk coba menelurusi riwayat atau profil singkat dari para rasul tadi. Pertama-tama mereka adalah sekelompok orang percaya, yang telah lama berada bersama Yesus. Sesudah Yesus naik ke surga, bersama Maria, mereka berkumpul untuk berdoa sambil menantikan kedatangan Roh yang dijanjikan Yesus. Berbeda halnya dari orang-orang di luar mereka, yang lebih memilih untuk tidak percaya kepada Yesus dan dengan itu menutup hati bagi kehadiran Roh Kudus. Hal ini mau mengajarkan bahwa Roh Kudus hanya turun ke dalam hati/diri orang yang percaya, ke dalam hati yang terbuka, yang terus berharap dan berdoa, serta siap bekerja sama denganNya.

Tidak bermaksud membatasi refleksi kita tentang situasi yang terjadi pada hari pentekosta itu, saya kembali mengajak kita untuk bertolak dari Injil Yohanes tadi. Injil lebih fokus pada perkataan Yesus tentang peran Roh Kudus dan ajakanNya bagi para murid untuk menjadi saksi. “Jikalau penghibur yang Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi, kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku. Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran dan akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang, yakni semua yang Ia terima dari Allah.” 

Wasiat Agung Tuhan Yesus ini ingin menegaskan bahwa peristiwa pentekosta tidak berhenti pada pencurahan Roh Kudus ke atas diri para murid, lalu selesai. Tetapi, yang menjadi sasaran atau target utamanya adalah bagaimana kehadiran Roh itu betul-betul mengubah dan memberanikan mereka untuk menjadi Saksi Kristus. Puji Tuhan, apa yang diharapkan itu sungguh terjadi. Karena Roh Kudus, mereka yang sebelumnya diselimuti rasa cemas, trauma, dan takut, beralih menjadi pribadi-pribadi yang berani dan bersukacita. Selain itu, pengaruh Roh Kudus juga tampak dalam daya tahan dan keuletan ketika mereka menghadapi kesulitan, saat mereka kehabisan kata-kata, saat mereka tidak dimengerti dan ditolak. Itulah peran dan pengaruh daya Roh Kudus yang sungguh dirasakan oleh para murid ini dalam kesaksian dan pewartaan mereka. Singkatnya, dalam kesaksian itu, para murid semata-mata adalah “alat”/”sarana” Roh Kudus dan dipimpin olehNya dan sejak itu Gereja Kristus lahir, bertumbuh, dan berkembang pesat.

Sesuai dengan janji Yesus, Roh Kudus, yang adalah Roh Penghibur dan Penolong, tidak hanya bekerja pada saat awal berdirinya Gereja, di dalam diri para rasul. Tetapi, Roh yang sama senantiasa dicurahkan kepada Gereja, umat beriman, sepanjang masa. Roh itulah yang bekerja dalam diri saksi iman, para martir, orang-orang kudus, dan semua orang beriman yang telah membaktikan hidupnya bagi Tuhan dan GerejaNya. Usia dan keberadaan Gereja yang bertahan selama ribuan tahun, dengan segala tantangan yang dihadapinya, menunjukkan bahwa Roh Kudus itu tidak pernah berhenti bekerja hingga saat ini. Lantas, sejauh mana kehadiran dan pengaruh Roh Kudus itu sungguh dirasakan dan menghasilkan buah-buah khusus dalam hidup kita? Selanjutnya seperti para rasul perdana, apakah kita bersedia dipakai dan dipimpin oleh Roh untuk menjadi saksi-saksi iman akan Kristus?

Perayaan hari ini adalah saatnya bagi kita untuk menjawab dan merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini. Lebih jauh, pertanyaan sekaligus jawaban atas pertanyaan ini menjadi sangat penting untuk direnungkan di tengah situasi dunia; kehidupan kita, yang tidak luput dari gangguan dan ancaman dari pesaing; rival abadinya Roh Kudus, yaitu Roh Jahat beserta kekuatan-kekuatan yang muncul dari padanya. Kedua roh yang berlawanan ini punya sasaran dan target yang sama, yaitu hati manusia. Dalam bahasa Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia tadi (Gal. 5:16-23), Roh Jahat itu bekerja dalam rupa keinginan dan perbuatan daging, yakni kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, percabulan, perseteruan-permusuhan, percecokan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, roh pemecah, pesta pora, kemabukan, dan sejenisnya. Dengan demikian, agar bisa menjadi saksi Kristus di tengah situasi demikian, seseorang mesti dipenuhi dengan Roh Kudus; mau tidak mau, suka tidak suka, hidupnya perlu dipimpin dan dikendalikan oleh Roh ini. Berkaitan dengan peran Roh Kudus ini, St. Agustinus mengibaratkannya dengan layar dari sebuah kapal, yang memungkinkan kapal bergerak di laut lepas menuju pelabuhan akhir, tanpa adanya usaha yang begitu besar dari awak kapal. Dengan layar yang berkembang secara bebas, maka kapal tersebut dapat mencapai tujuan akhir dengan selamat. Peran dan kerja Roh Kudus dalam diri seorang beriman sama halnya dengan fungsi layar dalam sebuah kapal tersebut.

Namun, kehadiran Roh Kudus dalam diri seseorang bukan sesuatu yang otomatis, sekurang-kurangnya jika kita merujuk pada pengalaman sekelompok rasul perdana pada hari pentekosta tadi. Roh Kudus dicurahkan ke atas mereka, setelah mereka melewati dan menekuni suatu proses yang panjang; percaya dengan sungguh akan Yesus, selanjutnya berkumpul untuk berdoa dengan penuh iman dan harap serta bersedia membuka hati dan bekerja sama denganNya. Hanya dalam sikap hati, persiapan batin, dan iman seperti itu, masing-masing kita akan dipenuhi sekaligus dipimpin oleh Roh Kudus. Dengan demikian kita mampu menjadi saksi iman akan Kristus. Sehubungan dengan kesaksian yang diberikan oleh seorang pengikut Kristus, ada satu dua hal yang perlu digarisbawahi:

Pertama, kesaksian seseorang berawal dari persatuan yang lama dan erat dengan Kristus. Para rasul adalah saksi-saksiNya karena mereka sudah bersama dengan Dia sejak awal. Tidak ada kesaksian tanpa pengalaman pribadi dengan Yesus. Kedua, kesaksian seseorang datang dari keyakinan batin. Artinya, tidak ada gunanya orang berbicara kalaui ia sendiri tidak yakin akan apa yang ia katakan. Dan sekali lagi, keyakinan batin ini berawal dari hubungan yang akrab dengan Kristus. Ketiga, kesaksian seorang beriman adalah kesaksian yang dinyatakan/diungkapkan. Seorang beriman tidak hanya mengetahui atau mengenal Kristus, tetapi juga menghendaki agar orang lain juga mengenal Kristus, lewat kesaksian atau pewartaan yang diberikan. Saya pakai ungkapan ini; setiap orang beriman adalah “Surat Kristus” yang bisa dibaca oleh orang lain dan dengan itu mereka menjadi tertarik dengan Kristus.

Hudson Taylor, seorang utusan gerejawi di Amerika Serikat selalu mengajarkan bahwa seorang Kristiani haruslah bersaksi bagi sesamanya. Dalam percakapannya dengan seorang pemuda, terjadilah dialog berikut:

“Berapa lamakah engkau sudah menjadi seorang Kristiani, hai anak muda?”

“Tiga bulan!” jawab si pemuda.

“Berapa banyak orang yang telah tahu bahwa engkau adalah seorang pengikut Kristus?”

“Oh, saya hanyalah seorang yang sedang belajar.”

“Anak muda, Allah tidak mengharapkan kamu menjadi seorang pengkotbah hebat, tetapi Ia ingin agar kamu menjadi saksi yang setia, sekecil atau sesederhana apa pun bentuk kesaksian itu. Coba jawab pertanyaanku, lanjut Taylor, kapan sebatang lilin mulai menyala? Apakah ketika batangnya sudah habis terbakar setengahnya?”

“Tidak! Segera setelah lilin itu dinyalakan.”

Sejak dibaptis, setiap pengikut Kristus, kita, sudah bisa menjadi saksi Kristus, ibarat lilin yang menyala sejak ia dinyalakan. Karena sejak saat itu, masing-masing kita sudah dibakar dengan api Roh Kudus. Artinya, setiap orang bisa menjadi Saksi Kristus tanpa melihat seberapa lama ia menjadi seorang Katolik, tanpa harus belajar teologi terlebih dahulu, tanpa harus dengan berdiri dan berkata-kata dari atas mimbar kotbah, tanpa harus bersaksi tentang kejadian luar biasa atau mukjizat, melainkan mulai dari kesaksian atau tindakan-tindakan yang biasa dan sederhana. Misalnya menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak dan keluarga, menjadi guru yang baik bagi murid-muridNya, menjadi pastor yang baik bagi umatnya, menjadi anak yang baik bagi orangtua dan keluarga, dan sebagainya.

Sekali lagi, dalam segala bentuk pengalaman-kesaksian itu, Roh Kudus senantiasa hadir dan membimbing serta memampukan kita. Akhirnya, dengan itu, melalui kesaksian tersebut, kita akan menikmati buah-buah Roh (Bc II), yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, sikap lemah lembut dan penguasaan diri. Semoga! (*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *