Homili: Tak Ada Masa Depan Tanpa Pengampunan

Pastor Kapelan Katedral Ruteng RD Lian Angkur menyampaikan homili ini pada Misa Minggu Prapaska IV -Minggu, 6 Maret 2016-, di Gereja Katedral Ruteng. Selamat mengikuti!

homili tak ada masa depan tanpa pengampunan

RD Lian Angkur

Homili Minggu Prapaska IV

Injil hari ini berisi perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang. Pertama-tama, perumpamaan ini sengaja diangkat untuk menanggapi reaksi miring sekelompok orang Farisi dan ahli Taurat terhadap sikap Yesus yang menerima-bergaul dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mereka tidak setuju dengan sikap Yesus yang demikian. Lebih jauh, hal yang mau ditonjolkan Yesus dari perumpamaan ini adalah sikap belas kasihan dan kerahiman Allah terhadap orang berdosa yang bertobat. Dalam perumpamaan ini, sikap Allah tampak dalam sosok Ayah, sedangkan manusia berdosa diwakili oleh si anak bungsu.

Perilaku anak bungsu diperhadapkan dengan sikap seorang ayah yang baik dan murah hati. Kebaikan ayah itu sudah muncul sejak awal, yaitu ketika ia menuruti permintaan anak bungsu itu untuk mengambil jatah harta warisannya. Ayah sungguh menghargai hak dan kebebasan anaknya. Namun, apa yang terjadi kemudian dengan anak itu? Ia jatuh ke dalam dosa. Karena itu, ia mendapat gelar baru sebagai “anak yang hilang”.

Pertanyaan awal untuk direnungkan; Mengapa anak ini jatuh ke dalam dosa? Ia berdosa karena memanfaatkan kebebasan dan harta yang diberikan oleh ayahnya, secara salah. Di tengah kebebasan yang dimiliknya, ia lebih memilih untuk menjual seluruh bagian hartanya lalu pergi ke negeri yang jauh dan di sanalah ia menyalahgunakan hasil penjualan itu dengan hidup berfoya-foya. Anak ini jatuh ke dalam dosa dan hidup melarat karena memilih menjauh dari rumah, menjauh dari ayahnya. Tentu ceriteranya berbeda atau sedikit lain, seandainya si anak bungsu ini tetap tinggal di rumah dan berada di bawah pantauan sang ayah.

Dosa sering kali terjadi ketika seseorang memilih menjauhkan diri dari Tuhan, menjauhkan diri dari Agama, dari Gereja, dari kegiatan rohani, dari kegiatan atau kebersamaan yang positif, dan lain-lain. Perlu diingat bahwa, jarak yang begitu jauh antara seseorang dengan Tuhan merupakan peluang emas bagi roh jahat-iblis untuk melancarkan aksinya termasuk mempengaruhi seseorang menyalahgunakan harta yang ada. Harta itu bisa berupa uang-materi-atau kekayaan lain, termasuk jabatan atau kedudukan. Di situlah harta bukan lagi semata sebagai penunjang hidup, tetapi beralih menjadi bumerang. Singkatnya, karena dan demi harta, orang bisa berdosa.

Inilah risiko yang diterima ketika seseorang memilih pergi ke negeri yang jauh; menjauh-pergi dari Tuhan. Tentu di sini, ‘jauh’ tidak sebatas berarti jauh secara fisik-geografis tetapi juga jauh dalam arti rohani. Artinya, boleh saja seseorang secara fisik berada dekat; sering berada di dalam Bait Allah, sering terlibat dalam kegiatan rohani, tetapi hati dan perbuatannya jauh dari Allah. Itu yang terjadi dengan orang Farisi dan ahli Taurat, atau si anak sulung tadi, yang selalu dekat dan berada di rumah bapa; rumah Tuhan, kerap berdiskusi tentang kitab suci serta mengajar banyak orang, tetapi hati dan perbuatan mereka jauh dari yang dikehendaki Allah dengan memandang remeh, menolak, dan mengucilkan sesama yang berdosa. Ini yang patut disayangkan.

Aspek penting berikut yang perlu kita renungkan sekaligus pelajari dari si “anak hilang” adalah rasa sesal dan semangat tobat yang tumbuh dari dalam dirinya. Ia sungguh menyesal dan bertobat, segera kembali ke rumah ayahnya, diterima kembali, dan mereka bersukacita. Kita pun akan diampuni-diterima kembali oleh Allah, jika dalam diri kita, tumbuh rasa sesal dan mau bertobat; berbalik. Lebih dari itu, jika Allah sudah mengampuni kita, maka kita pun hendaknya bersedia mengampuni sesama yang bersalah kepada kitaInilah salah satu buah pertobatan sejati dan tanda kedewasaan-kematangan iman seseorang.

Dalam kaitan dengan maaf-memaafkan atau ampun-mengampuni atau hati yang penuh belas kasih ini, saya teringat akan sepenggal kisah hidup salah seorang tokoh dunia, yang tidak asing lagi bagi kita, Nelson Mandela, seorang pejuang sekaligus korban politik apartheid di Afrika Selatan, yang dipenjara puluhan tahun. Ketika ia ditanya oleh sekelompok orang dengan nada menghasut apa reaksinya terhadap perlakuan kasar dan tidak adil dari para penjajah? Mungkin ada niat untuk aksi balas dendam? Dengan tenang ia menjawab: “Kita tidak perlu membalas-apalagi dengan kekerasan. Saya siap memaafkan/mengampuni mereka”. Mandela punya satu prinsip hidup yang luar biasa; “There is no Future, without Forgiveness”; Tidak ada masa depan, tanpa pengampunan.

Melalui pengampunan sang ayah, si anak bungsu tadi kembali memiliki masa depannya. Itulah yang kita peroleh setelah Allah menerima dan mengampuni kita. Hal yang sama tentu terjadi ketika di antara manusia, di antara kita, senantiasa tumbuh semangat saling memaafkan-saling mengampuni. Saat itulah kita saling memberikan secercah harapan baru dan masa depan satu dengan yang lain. Semoga!

(*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *