Homili Uskup saat Pelantikan Vikep Ruteng

Pada hari Minggu, 24 April 2016 kemarin, Uskup Ruteng Mgr. Hubertus Leteng melantik Vikep Ruteng yang baru menggantikan RD Kanisius Ali yang mendapat tugas baru di Amerika. Adalah RD Gerardus Janur yang kini menjadi Vikep Ruteng. Berikut homili Uskup saat pelantikan tersebut.

homili uskup saat pelantikan vikep

Mgr. Hubertus Leteng | Foto: Kaka Ited

Saling Memuliakan dengan Kasih

Kis 14: 12b-27; Why 21: 1-5a; Yoh 13: 31-35

Pada hari Minggu Paska V ini kita melantik dan mengutus Vikep yang baru, yakni Rm Gerardus Janur Pr untuk menggantikan Vikep yang lama, yakni Rm Kanis Ali Pr. Rm Kanis Ali mendapat panggilan dan tugas perutusan baru untuk melayani umat Indonesia di Amerika dan sekaligus untuk membangun jaringan relasi, komunikasi dan kerjasama antara Keuskupan Ruteng dengan Keuskupan Los Angeles di USA. Kita berharap dan berdoa, agar misi yang dijalankan oleh Romo Kanis Ali akan membawa berkat dan manfaat bagi kepentingan keuskupan kita di masa-masa yang akan datang.

Dengan kepergian Romo Kanis, Tuhan tidak mau agar Gereja-Nya atau umat di kevikepan Ruteng ini ketiadaan seorang gembala atau Vikep untuk mengkoordinir seluruh pelayanan pastoral di wilayah Kevikepan Ruteng ini. Atas dasar inilah kita memilih dan mengangkat kembali Rm Gerardus Janur untuk menjadi Vikep di wilayah Kevikepan Ruteng ini. Rm Gerardus sudah menjadi vikep sebelumnya, dan karena itu pasti tidak asing lagi bagi dia tugas pelayanan sebagai vikep. Kerangka dasarnya sudah ada, tinggal rinciannya saja yang masih harus dipikirkan dan disempurnakan. Dengan bahasa tehknologi komputer, paling Rm Gerardus tinggal copy paste saja tugas pelayanan sebelumnya, maka pasti rasanya tidak terlalu berat meskipun masih harus rangkap dengan tugas lain yang juga amat penting untuk pelayanan Gereja di Keuskupan kita ini (Romo Gerardus saat ini menjabat sebagai Ketua Yayasan STKIP St. Paulus Ruteng, ed.).

Apa sabda Tuhan bagi kita hari ini, khususnya berkaitan dengan pelantikan dan perutusan Vikep hari ini?

Menjelang kenaikan-Nya ke surga, Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya sebagaimana kita dengar dalam Injil hari ini: “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera” (Yoh 13: 31-32). Dalam sabda-Nya ini, Tuhan Yesus dan Allah Bapa-Nya saling memuliakan. Itu artinya Bapa dan Putra saling meninggikan dan meluhurkan, saling menghargai dan menghormati, saling mengangkat dan saling mendukung.

Dalam hidup dan tugas pelayanan apa pun pasti Tuhan juga menghendaki agar kita saling memuji dan memuliakan, saling mengangkat dan meninggikan, saling menghargai dan saling menghormati, saling menopang dan mendukung. Kehidupan kita di dunia akan maju bila kita saling memuji dan memuliakan, saling mengangkat dan saling meninggikan, saling menghargai dan menghormati, saling menopang dan mendukung. Tetapi bila kita saling menghina dan merendahkan, saling memotong dan menjatuhkan, kita pasti tidak memiliki semangat dan gairah hidup, komitmen dan tanggung jawab untuk memajukan hidup dan melaksanakan tugas kewajiban kita.

Karena itu, hendaklah kita menerima dan mendukung Romo Vikep kita yang baru ini dengan segala apa adanya. Jangan biarkan dia bekerja sendiri, bergumul sendiri dan berjuang sendiri dalam tugas pelayanannya. Begitu juga sebaliknya, hendaklah Romo Vikep mendukung dan menopang kehidupan umat dan pastor dalam pekerjaan, profesi dan tugas mereka masing-masing. Jangan biarkan umat hidup dan bekerja tanpa cinta, dukungan doa dan perhatian dari kita para imam, khususnya dari Romo Vikep. Cinta dan perhatian, dukungan dan doa dari kita imam-imam pasti akan selalu memberi kekuatan dan semangat, kegembiraan dan sukacita kepada umat dalam pergumulan hidup mereka setiap hari.

Agar kita mau dan mampu saling memuji dan memuliakan, saling menghargai dan menghormati, saling menopang dan mendukung, kita mesti saling mengasihi. Saling mengasihi adalah kaidah emas atau perintah emas yang Tuhan Yesus tinggalkan bagi para murid-Nya sebelum Ia naik ke surga. “Hai anak-anak-Ku, hanya seketika lagi Aku ada bersama kamu. (Maka) Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13: 33-34). Dalam hal ini, Tuhan Yesus tidak mau menyia-nyiakan saat paling akhir atau detik paling ujung kebersamaan dengan para murid-Nya. Ia tidak mau meninggalkan para murid-Nya tanpa apa-apa.

Hal yang Tuhan Yesus tinggalkan bagi para murid-Nya bukanlah harta kekayaan fisik seperti uang yang berlimpah, rumah yang mewah atau tanah yang berhektar-hektar, tetapi kunci emas kehidupan, yakni cinta kasih. Hukum cinta kasih melebihi segala harta kekayaan fisik apa pun seperti uang, rumah atau tanah. Di dunia ini kita boleh memiliki segala jenis harta kekayaan fisik, namun tanpa cinta kasih segala jenis harta kekayaan fisik tidak dapat membangun kehidupan yang baik dan benar, adil dan sejahtera. Secara spiritual, cinta kasih membuat kita mampu untuk saling memuji dan memuliakan, saling mengangkat dan meninggikan, saling menghargai dan menghormati, saling menopang dan mendukung, meskipun tanpa harta kekayaan fisik. Sebaliknya meskipun kita memiliki banyak harta kekayaan fisik, tetapi tanpa cinta kasih kita tetap sulit untuk saling memuji dan memuliakan, sulit untuk saling mengangkat dan meninggikan, sulit untuk saling menghargai dan menghormati, sulit untuk saling menopang dan mendukung.

Suatu hari Nasrudin bertengkar hebat dengan istrinya. Pertengkaran begitu hebat sampai akhirnya istrinya Nina amat meledak amarahnya. “Kalau bukan karena uang saya, komputer ini tidak ada di rumah ini. Kalau bukan karena uang saya, video ini tidak ada di sini. Kalau bukan karena uang saya, semua perabot rumah tangga tidak ada di rumah ini. Kalau bukan karena uang saya, tidak ada AC di rumah ini.” Setelah istrinya selesai menyebut semua harta di rumah yang datang dari uang miliknya, dengan tenang suaminya Nasrudin menjawab: “Memang benar sayang, kalau bukan karena uangmu, aku tidak akan ada di sini.”

Seperti Nina istrinya Nasrudin, kita mungkin memiliki banyak harta kekayaan seperti uang dan sudah banyak juga berbuat baik dengan membeli itu membeli ini bagi keluarga sendiri atau bagi orang lain. Akan tetapi tanpa cinta kasih, apa saja yang tampaknya amat baik itu atau yang merupakan kebajikan itu hanya menjadi sumber kesombongan dan sering membuat kita hanya membanggakan diri sendiri, namun merendahkan atau menghina orang lain. Oleh sebab itu, milikilah cinta kasih, agar kita saling memuji dan memuliakan, saling mendukung dan menopang baik dengan harta kekayaan fisik maupun tanpa harta kekayaan fisik apa pun.

(*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

2 gagasan untuk “Homili Uskup saat Pelantikan Vikep Ruteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *