Jelang AYD 2017, Catatan dari AYD 2014 di Korea Selatan 1

Asian Youth Day akan kembali dilaksanakan. Tahun 2017 ini, pada penyelenggaraannya yang keenam, Indonesia terpilih sebagai tuan rumah.

Tahun 2014 silam, Wilhelmina Da Rossy menjadi salah seorang peserta yang mewakili Keuskupan Ruteng mengikuti 6th AYD di Daejeon, Korea Selatan.

jelang ayd 2017 catatan dari ayd 2014 di korea selatan 1

Wilhelmina Da Rossy, anggota OMK Katedral Ruteng di Korea Selatan | Foto: Dok. Pribadi

Sebagai bagian dari persiapan jelang 7th Asian Youth Day yang akan dilaksanakan di Jogjakarta – Indonesia, katedralruteng.id meminta Rossy yang adalah anggota OMK Lumen Gratiae Paroki Katedral Ruteng untuk membuat catatan seputar perjalanannya ke Korea Selatan tiga tahun silam.

Catatan tersebut akan kami sajikan dalam beberapa bagian secara berurutan.

Jelang AYD 2017, Catatan dari AYD 2014 di Korea Selatan (Bagian Pertama)

Oleh: Wilhemina Da Rossy

Dari Ruteng ke Jakarta

Awalnya seperti mimpi saja ketika RD Beben Gaguk, Ketua Komisi Kepemudaan di Keuskupan Ruteng, Manggarai meminta saya untuk bertemu dengannya hari itu. Kira-kira pertengahan Desember 2013. Ia mengatakan bahwa setelah melalui banyak pertimbangan ia ingin mengutus saya sebagai salah satu wakil dari Keuskupan Ruteng untuk mengikuti kegiatan epemudaan di Korea Selatan.

Saya lalu memutuskan untuk mengikuti 6th AYD ini, sebab ini merupakan kegiatan besar yang pertama kali saya ikuti dan saya yakin akan mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran baru yang berhubungan dengan OMK, sebuah wadah kaum muda Katolik yang saya ikuti selama ini.

Nah apa itu AYD? Asian Youth Day (AYD) atau hari orang muda asia adalah perjumpaan orang muda Katolik se-Asia. Acara ini diselenggarakan tiap tiga tahunan dan dihadiri kurang lebih seribu sampai tiga ribu OMK perwakilan dari berbagai negara di Asia. Dalam acara inilah berbagai kegiatan menumbuhkan semangat pewartaan dibuat.

AYD digagas oleh pembina OMK se-Asia dan disetujui oleh Federasi Konferensi Uskup-uskup se-Asia (FABC) di bawah kantor komisi Keluarga dan Kerawam bagian kepemudaan.

6th AYD di Korea Selatan mengangkat tema “ASIAN YOUTH! WAKE UP! The Glory of the Martyrs Shines on You (Orang Muda Asia, Bangunlah ! Kemuliaan Para Martir Bersinar Padamu.). Tema ini juga dihubungkan dengan perikop “We have died with Christ, we believe that we shall also live with him” – “Kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan dia.” (Roma 6:8).

Puncak kegiatan Asian Youth Day yang keenam ini dilaksanakan pada tanggal 10 sampai 18 Agustus 2014 dengan melibatkan semua keuskupan dalam kegiatan live in, di mana peserta AYD dibagi ke setiap keuskupan untuk melakukan kegiatan selama 4 hari. Di tempat tersebut para peserta tinggal bersama host parent atau orang tua angkat. Kegiatan inti dari AYD ini berlangsung di Daejeon selama 5 hari.

Tujuan dari kegiatan 6th AYD 2014 ini adalah untuk mengingat kembali dasar-dasar dari iman, menemukan kembali nilai-nilai iman yang hilang dan berjalan bersama sebagai saksi dengan Yesus dan para martir. Dari tujuan ini tersirat bahwa menjadi saksi dalam iman Katolik merupakan sebuah rahmat atau anugrah yang harus selalu di lakukan sebagai orang muda yang beriman serta percaya pada Kristus.

Perjalanan peserta AYD dari Keuskupan Ruteng dimulai pada tanggal 6 Agustus 2014. Penerbangan dari Labuan Bajo menuju Bali kurang lebih dua jam dan dilanjutkan dari Bali menuju Jakarta kurang lebih 1 jam 45 menit. Pada hari itu, seluruh delegasi Orang Muda Katolik se-Indonesia yang akan berangkat menuju The 6th Asian Youth Day (AYD) di Korea Selatan akhirnya berkumpul untuk mengadakan persiapan terakhir sebelum keberangkatan mereka.

jelang ayd 207 catatan dari ayd 2014 di korea selatan 1

Sebagaian delegasi Indonesia pada 6th AYD di Korea Selatan | Foto: Dok. Pribadi

Dengan wajah gembira, 75 peserta yang berasal dari hampir seluruh keuskupan di Indonesia bergabung bersama di Museum Listrik, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta untuk retret persiapan bersama pada 7 – 8 Agustus 2014. Seolah tak kenal lelah, peserta yang baru tiba dari daerah-daerah yang jauh di Nusantara langsung tenggelam dalam sukacita kebersamaan sebagai delegasi Indonesia.

Tim kerja delegasi Indonesia untuk AYD membuka rangkaian retret dengan perkenalan dan dilanjutkan dengan penjelasan mengenai Korea serta jadwal-jadwal kegiatan selama di Korea Selatan. Sebagai lanjutan refleksi bersama untuk mendalami tema-tema seputar kemartiran yang menjadi fokus AYD kali ini, maka usai sesi terakhir, seluruh peserta secara khusus diajak untuk merenungkan sabda-sabda terakhir Yesus.

Dalam keheningan malam, secara berkelompok para peserta melakukan renungan, refleksi dan simulasi yang didasarkan pada sabda-sabda Yesus yang terakhir. Tak hanya itu, peserta juga diajak dan diarahkan untuk merefleksikannya pada hal-hal yang relevan yang akan dihadapi pada AYD nanti, entah itu kesulitan, tantangan, konflik, kekurangan, realitas yang berbeda dengan ekspektasi, masalah-masalah sebagai upaya ikut merasakan “sengsara dan wafat” Yesus.

Puncaknya, pada permenungan Sabda Yesus: “Bapa ke dalam tangan-Mu, kuserahkan nyawa-Ku..”, peserta diajak untuk menyerahkan seluruh harapan-harapan mereka kepada Tuhan untuk menyongsong kebangkitan bersama Yesus dalam AYD. Para peserta yang secara berkelompok sebelumnya memanggul balok-balok kayu, akhirnya diminta membentuk salib besar secara bersama dan menyalakan lilin-lilin kecil di sekitarnya dalam keheningan dan gelap malam.

Senandung lagu “Jesus Christ You Are My Life, “Emmanuel”, dan “Kristus Jaya, Kristus Mulia” turut mengantar doa-doa dan permenungan para peserta.

Di akhir ibadat ini, RD. Yohanes Dwi Harsanto, Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI menandaskan bahwa keteguhan Yesus dalam sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya, menunjukkan bahwa Allah yang kita ikuti bukanlah Allah yang “murahan”, atau Allah “yang mencari konstituen”. Semangat itu yang harus kita hidupi selama mengikuti AYD.

Dalam kesempatan ini, setelah ibadat usai, para peserta diberikan kesempatan untuk melakukan pengakuan dosa dan kemudian beristirahat.

Pada hari terakhir persiapan 08 Agustus 2014, peserta AYD mengikuti team building, dan kemudian diberi kesempatan untuk melakukan berbagai persiapan acara dan teknis menjelang keberangkatan ke Korea. Sebagai pamungkas, para peserta secara resmi juga diutus sebagai Delegasi Indonesia dalam Misa Perutusan yang dipimpin oleh Mgr. John Philip Saklil, Ketua Komisi Kepemudaan KWI sebelum berangkat menuju Bandara Internasional Soekarno – Hatta.

Akhirnya ke-75 anggota Delegasi Indonesia siap diutus dengan nama INDONESIAN PILGRIMS. dan mereka siap untuk “Wake Up!”menanggapi seruan tema AYD kali ini untuk mengalami sengsara, wafat dan bangkit bersama Kristus, Sang Martir Agung. Bersambung.

Bagian selanjutnya: Dari Jakarta ke Daejeon, Korea Selatan

Editor: Armin Bell

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *