Katedral Ruteng Kembangkan Pertanian Organik

Sejak bulan April 2013, Paroki Katedral Ruteng kembangkan pertanian organik di kebun paroki. Bekerjasama dengan LSM Ayo Indonesia, saat ini sudah dibuat trap atau petak-petak untuk pertanian sayur-mayur, dan beberapa trap telah ditanami sawi, tomat, pakcoi, buncis dan brokoli. Sedangkan jenis lainnya sedang disemai dan akan ditanam dalam waktu dekat. Sebelum memulai proses ini, seluruh karyawan paroki diajak untuk meninjau lokasi pertanian organik yang sudah dikembangkan oleh LSM Ayo Indonesia di Lao.

Karyawan paroki saat meninjau kebun sayur organik di Lao

Karyawan paroki saat meninjau kebun sayur organik di Lao (foto: Dok. DPP)

Ferdinandus Sampur, salah seorang karyawan Paroki Katedral yang terlibat dalam pengembangan pertanian organik tersebut menuturkan, kegiatan ini melalui beberapa tahap, mulai dari pembukaan lahan sampai penanaman. “Jadi, kita mulai dengan pembukaan lahan di kebun paroki. Di tahap ini yang kita lakukan adalah membuat trap/petak dengan ukuran lebar 100 cm – 120 cm utk 1 trap sedangkan panjangnya disesuaikan dengan ketersediaan lahan. Petak kemudian digali dengan kedalaman 50 – 60 cm, kemudian diisi daun hijau atau daun kering, ditimbun kembali dan diratakan. Selain itu Lalu, juga dibuat got keliling trap sebesar lebar 40 cm, kedalaman 40 cm,” tuturnya. 

Lanjutnya, setelah tahapan tersebut langsung dilakukan pemilihan bibit, beberapa jenis disemai sedangkan yang lainnya langsung ditanam. Nandez juga menambahkan, “Pertanian organik ini sangat baik, selain hemat biaya karena memakai pupuk organik, sayur organik juga aman dikonsumsi karena tidak mengandung unsur kimia yang bisa merusak kesehatan. Yang menarik adalah dengan sistem trap seperti ini, kita tidak akan kesulitan ketika hendak membersihkan lahan, karena tidak akan menginjak lahan, cukup membersihkan dari got saja.” 

Sementara itu, Ketua DPP Katedral Ruteng Erlan Yusran mengatakan keputusan mengembangkan pertanian organik di kebun paroki dilakukan karena beberapa alasan. “Pertama, kita memang punya lahannya dan kebetulan Pak Tarsis (Tarsis Hurmali Direktur LSM Ayo Indonesia, red) mau membantu menyiapkan tenaga pendamping yakni Om Sant Denggot yang kebun sayurnya kita kunjungi beberapa waktu lalu. Yang paling penting adalah kita melihat pertanian organik sebagai hal yang sangat positif, karenanya Paroki mau memberi contoh dengan harapan akan ada umat yang mau belajar dan mulai mengembangkannya. Kalau bukan untuk membantu perekonomian, minimal agar kita mampu menyediakan sayur yang sehat untuk kebutuhan rumah tangga sendiri dengan memanfaatkan lahan di sekitar rumah,” paparnya. 

Untuk pemasaran hasilnya, pada tahap pertama sasarannya adalah umat Katedral Ruteng. “Sudah dipikirkan kerjasama dengan beberapa pihak untuk pemasaran lebih luas jika kegiatan ini berhasil dengan baik,” tambah Erlan. Menurut Nandez, dalam waktu satu bulan ke depan, panenan tahap pertama bisa dilakukan dan lahannya bisa ditanami lagi tanpa harus memulai pengolahan dari awal. “Trap yang sudah kita buat ini disiapkan untuk masa tanam sampai lima tahun. Yang kita lakukan selanjutnya hanya menyirami lahan dengan pupuk kandang sebelum ditanam dan menyiapkan pupuk bokasi,” ungkapnya. (adm)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *