Kosmas Karjiin, dari Bengkel ke Sakristi

Di Gereja Katedral Ruteng, sosok Kosmas Karjiin begitu familiar. Hampir setiap hari, pemilik Bengkel Rahayu Ruteng ini setia mendampingi kelompok kategorial PPA.

Kisah hidupnya yang menarik, direkam dengan baik oleh Della Perry dan Evan Lahur dalam catatan ini. Selamat membaca…

kosmas karjiin dari bengkel ke sakristi

Kosmas Karjiin, Pendamping PPA Katedral Ruteng | Foto: Frans Joseph

Kosmas Karjiin, dari Bengkel ke Sakristi

Oleh: Della Perry dan Evan Lahur

Kosmas Karjin, biasa disapa Om Kosmas atau Pak Karjiin adalah seorang tukang bengkel yang juga menghabiskan sebagian waktu hariannya di Gereja. Beliau mendampingi kelompok kategorial Putra-putri Altar atau misdinar yang tergabung dalam PPA Lumen Gratiae Katedral Ruteng.

Ada yang menarik dari sosok ini. Ia terlahir bukan Katolik. Ia pun bukan orang berdarah Manggarai tetapi Jawa tepatnya daerah Jombang, Jawa Timur. Kosmas dikenal sebagai pribadi yang lebih banyak diam kecuali jika sedang di ‘lapangan’ takkala sedang melatih dan mendampingi para putra-putri altar. Sedikit informasi ini setidaknya dapat menjadi pengantar bagi para pembaca dalam mengenal lebih dekat sosok penyuka bakso kelahiran 28 September 1962 ini.

Ada yang Berubah di Ruteng

Oleh sebagian besar warga Manggarai, Ruteng dikenal sebagai kota seribu gereja dan kota dingin, juga kota pelajar. Tetapi bagi Kosmas, Ruteng bukan hanya sekadar kota dengan identitas-identitas tadi. Kota kecil ini menjadi tempat penuh sejarah dalam kehidupannya. Kota Ruteng menjadi tonggak perubahan dinamika kehidupan Kosmas khususnya kehidupan rohani.

Ada dua awalan yang cukup memberi pengaruh baginya hingga saat ini. Pertama, kota tempatnya merantau dari Jawa Timur, dan kedua kota khusus yang menandakan perpindahan kepercayaan Kosmas dan sang istri. Karena dua hal inilah, Ruteng menjadi kota penuh cerita baginya dan seluruh keluarga.

Cerita perubahan yang terjadi tentunya tidak terlepas dari ikatan perkawinan yang terjadi antara Kosmas bersama istri tercinta. Adalah Elisabeth Rohmini yang menjadi labuhan hatinya. Wanita kelahiran Surabaya, 2 oktober 1965 menjadi perempuan yang beruntung dapat menjadi pendamping sosok penuh inspiratif dari Jombang ini.

Mengenai istrinya, ada cerita yang menarik. “Jadi ketika awal-awal masih pacaran, saya sering berkunjung ke rumah istri saya. Satu hari saya lupa hari apa itu, saya berkunjung ke rumah istri saya. Saat bertemu dengan kaka ipar, saya pun langsung menanyakan pertanyaan menarik, ada rok mini? Pengalaman ini tak akan pernah saya lupakan,” kenang Om Kosmas tentang kekeliruannya menyebut nama istrinya.

Selain perkara rok mini, hal menarik dari kisah pernikahan mereka adalah bahwa ketika menikah mereka menggunakan tatacara Islam, agama yang dianut istrinya saat itu. Kosmas sendiri memeluk agama Kristen Protestan. “Saat menikah saya memang masih menganut kepercayaan Kristen Protestan. Saat itu saya menikah secara sadar melalui tata cara Islam. Keluarga istri saya tidak mengetahui hal tersebut. Secara pribadi pun saya tak mengalami keberatan apa-apa. Toh saat menikah pun saya dapat dikatakan beragama hanya di kartu identitas saja” terangnya.

Dia menambahkan kehidupan hariannya di Jawa ketika itu memang agak jauh dari agama.

Biduk rumah tangga pun dimulai. Perjalanan mengayuh sampan keluarga pun dimulai ketika keputusan untuk merantau ke kota kecil di ujung barat pulau Flores diambil. Tahun 1986, Kosmas pindah ke kota Ruteng.

Saat pertama kali  menetap di Ruteng, bersama istri dan anak pertamanya tinggal di sebuah mess yang di daerah Mbaumuku, dan Kosmas bekerja di bengkel Ranaka Jaya. Panggilan menjadi seorang Katolik terjadi di masa-masa itu.

Kisah Istri

Cerita tentang perpindahan Kosmas Karjiin dan keluarga menjadi Katolik diawali oleh peristiwa iman sang istri. “Kebetulan saat itu kami sedang mengalami masalah. Seekor burung merpati datang, hinggap dan terasa menepuk pundak saya kemudian terdengar sebuah suara ‘mengapa kamu merasa sedih dan menangis’. Saya pun langsung bersujud mengarah ke gereja Katedral,” tutur istrinya mengenai peristiwa itu. Keesokan paginya, sang istri pergi ke Gereja Katedral dan mengikuti misa pagi.

“Jika membayangkan peristiwa itu sampai sekarang saya tak tahu, apa dorongan yang menuntun saya ke gereja. Bayangkan saja, perjalanan dari Mbaumuku ke Watu. Saat itu beberapa ekor anjing berkeliaran di sepanjang jalan. Belum lagi udara yang dingin dan saya harus menggendong anak sulung kami,” kenang istrinya.

Di Katedral (kini Gereja St. Yosef), Rohmini mengikuti setiap tata aturan perayaan ekaristi. “Kalau berdiri yah saya berdiri. Duduk yah duduk. Namun saat menerima komuni suci saya tetap duduk di tempat” tuturnya.

Sejak saat itu ada perubahan iman yang terjadi. Melalui jasa Bapak Albert Manggol sekeluarga, keluarga Kosmas sering diajak mengikuti doa bersama di lingkungan, meski saat itu Rohmini belum mengetahui apa-apa mengenai agama Katolik. Diawali oleh kebiasaan doa bersama, Ketua KBG di wilayah tempat tinggal mereka yakni Bapak Linus Janggu berdasarkan kesediaan Pak Kosmas dan istrinya, mendaftarkan mereka menjadi katekumen di Paroki Katedral. Saat itu yang menjabat pastor paroki Rm. Max Nambu, Pr.

Menjadi Katolik

Kurang lebih selama setahun mereka menjadi katekumen. Mengenai pengalaman menjadi katekumen ini, Kosmas Karjiin punya cerita tersendiri. “Wah, saat itu saya merasakan sekali kasih dan perhatian dari Pastor Paroki. Saat itu kami sekeluarga merasakan pengalaman yang jarang dirasakan oleh umat lainnya. Kami sering diajak oleh Rm. Max mengitari kota Ruteng. Ke STKIP saat itu saya masih ingat dan beberapa tempat lainnya. Memang Rm. Max saat itu baik sekali sama kami” tuturnya.

Rentetan proses inilah yang kemudian meyakinkan Kosmas Karjiin untuk memutuskan menjadi Katolik. Saat itu tahun 1988. “Yah, saat itu kami berdua menerima tiga sakramen sekaligus, sakramen Permandian, sakramen Komuni Pertama dan sakramen Perkawinan,” paparnya.

Ditambahkannya, “Setelah kami berdua resmi memeluk agama Katolik, saya merasakan kedamaian yang sungguh indah. Kedamaian yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sampai saat ini saya meyakini peristiwa tersebut merupakan peristiwa iman. Aduh Nana, saat itu damai sekali hati ini, sungguh damai.”

Kosmas Karjiin tak dapat menutupi kegembiraan hatinya selama proses wawancara ini berlangsung. Wajahnya senantiasa tersenyum ketika menceritakan peristiwa iman ini. Memeluk Katolik membuat Kosmas menjadi pribadi yang damai.

“Pada saat awal awal menganut agama katolik, sejak saat itu saya mengalami kedamaian. Malahan saya berubah pikiran dan merubah diri melalui perilaku sikap. Jadi yang dulunya begitu kasar bertengkar dengan istri, marah-marah anak, terus pelan pelan berubah menjadi berkurang. Bisa tanya anak saya, belum pernah anak saya kena pukul kecuali satu hal yang sangat saya tidak suka yaitu mencuri. Tapi kalau hal-hal yang lain seperti cara mendidik saya tidak pernah banyak omong. Cuma dengan tantangan mata saja anak anak sudah takut,” tutur Kosmas. Sejak saat itulah, perjalanan hidupnya berubah. Di Ruteng semuanya dimulai.

Tukang Bengkel

Hal menarik yang ada pada diri sosok ini adalah karena pekerjaannya sebagai tukang bengkel tidak menghalanginya menjadi pengurus gereja; tukang bengkel merangkap Koordinator PPA. Bayangkan, hari-harinya bergaul dengan mesin kendaraan tiba-tiba diminta menjadi koordinator PPA yang nota bene mengharuskan kehadirannya di gereja setiap waktu.

Awalnya pada tahun 2012, ketika dirinya menerima undangan dari Paroki untuk mengikuti kegiatan pembentukan kelompok Putra-putri Altar. Namun undangan tersebut sebenarnya tidak ditujukan kepada Pak Kosmas, tetapi kepada koordinator misdinar Yohanes B. Beo. Om Bangker berhalangan dan menyilakan dirinya mengikuti kegiatan tersebut.

Karena rasa ingin tahu yang tinggi, Kosmas memutuskan untuk mengikuti kegiatan itu walaupun hanya dengan melihat-lihat saja, dan tidak terlibat aktif. “Tetapi setelahnya Romo Beben (Moderator PPA dan Pastor Kapelan Katedral Ruteng saat itu RD Beben Gaguk), memberikan kesempatan untuk mendampingi. Saya bingung. Saya sendiri tak tahu menahu tentang PPA. Tapi yah karena prinsip hidup sambil belajar saya pun menerima tugas baru tersebut” tutur Kosmas.

Di tahun berikutnya, Kosmas mulai aktif mengikuti kegiatan rohani mewakili Paroki Katedral. “Saat ada retret Leadership, Romo langsung menunjuk saya. Kegiatan ini diadakan oleh Keuskupan di Wae Lengkas. Kegiatan ini diikuti oleh utusan setiap paroki. Paroki Katedral saat itu saya dan Hendro. Namun terakhir Hendro ada halangan. Akhirnya saya yang ikut saat itu. Jadi saya peserta paling tua.” Saat hari terakhir retret , pemimpin retret mengatakan, “Saya memberi tugas kepada Om Kosmas untuk menghidupkan kembali Doa Angelus di Paroki”.

Namun menurut Kosmas, ia tak tahu menahu apa arti pesan itu tetapi hanya tahu melakukannya. Sampai saat ini, di paroki Katedral lonceng Angelus selalu rutin dibunyikan.

Mengenai pengalaman mendampingi kelompok PPA ini Kosmas memiliki pandangan sendiri. “Ada tiga hal yang harus dimiliki yaitu kesempatan, niat, dan kerelaan”. Kesempatan dalam hal ini  adalah tentang bagaimana orang mau berkarya. Yang kedua niat. Kesempatan tidak disertai niat, tidak dapat membuahkan sesuatu.

Dan yang terakhir yaitu kerelaan. Dalam hal kerelaan waktu dan tenaga; dia kadang harus meninggalkan pekerjaan dan keluarga demi mendampingi kelompok PPA. Tentang ini, istrinya bercanda. “Kadang-kadang saya rasa iri kapan Bapak ada untuk keluarga. Jadi sering minta, Pa, izin ka satu dua kali,” tutur sang istri. Kosmas hanya tertawa kecil mendengar penuturan sang istri.

Mengenai keinginannya terhadap anak muda, Kosmas punya kerinduan. “Keinginan saya, anak muda jangan tinggalkan gereja. Jika ada yang  punya niat, punya kerelaan monggo sama-sama saya. Artinya silahkan sama-sama saya, kita sama-sama jalan. Mau siapa saja, kita kumpulkan untuk kita ajak mereka bersama-sama. Karena anak mudalah yang memiliki kerajaan Allah. Jangan sampai waktu sekolah mereka rajin karena tugas dari guru agama. Mereka harus minta tanda tangan sesudah misa. Itu suatu keterpaksaan. Untuk anak muda juga, kalau sudah keluar dari sekolah yah lanjut. Maksud tujuan saya, jadilah anak muda yang memiliki iman yang berakar dan tumbuh. Jadi anak PPA yang sekarang sesudah PPA wajib mengikuti OMK. Kalau tidak minat di PPA yah langsung beralih ke kelompok kategorial OMK” jelasnya.

Perhatiannya yang besar terhadap perkembangan anak muda khususnya PPA di paroki Katedral menjadi cerita inspirasi yang sangat baik bagi kita semua. Hingga saat ini, jika para pembaca memiliki kesempatan mengikuti perayaan Ekaristi di Gereja Paroki Katedral, sempatkan diri lima menit mengunjungi sakristi. Pasti ada suara Om Kosmas di sana.

Dengan gayanya khasnya, ia mengatur dan memberi arahan kepada setiap Putra-putri Altar sebelum menjalankan tugas. Tugas ini ia lakukan praktis setiap ada perayaan ekaristi. Itulah sosok Kosmas Karjiin, orang bengkel yang mau ngurusin gereja, dari bengkel ke sakristi. (*/adm)

Catatan: Della Perry dan Evan Lahur adalah anggota OMK Lumen Gratiae Katedral Ruteng. Mereka juga menjadi pengurus mading LG Magz.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *