KPPK 2013 di Paroki Katedral Ruteng

Sakramen tobat yang dikenal juga sebagai sakramen pengakuan memiliki manfaat yang sangat penting dalam kehidupan umat Katolik. Sakramen ini juga sering disebut sakramen perdamaian karena bertujuan memperbaiki hubungan yang rusak, manusia dengan Tuhan dan dengan sesama ciptaan-Nya.Hal tersebut disampaikan oleh Rm. Daniel Sulbadri, Pr saat pada Kursus Persiapan Perkawinan Katolik KPPK di Paroki Katedral Ruteng, Jumat (26/4). Kepada 84 peserta KPPK, Pastor Paroki Katedral ini menyajikan materi Sakramen Tobat dalam Kehidupan Keluarga. 
Paul Hasiman saat membuka sesi KBA oleh Sr. Robertilde (foto: Kaka Ited)

Menurutnya, ada tiga manfaat besar dari sakramen pengakuan bagi peniten (orang yang mengaku dosa) yakni berdamai dengan Tuhan, berdamai dengan Gereja yang adalah umat Allah dan sebagai persiapan untuk pengadilan terakhir. “Dengan menerima sakramen pengakuan, kita memperbaiki hubungan yang rusak dengan Allah sebagai akibat dari dosa kita. Kita juga menjadi berdamai dengan sesama, dan tentu saja pada pengadilan terakhir –ketika Anak Manusia itu datang– kita diluputkan,” papar Romo Deny. 
Sakramen Tobat dalam Keluarga adalah salah satu materi yang disiapkan oleh Seksi Pastoral Keluarga sebagai penanggungjawab pelaksanaan KPPK di Katedral Ruteng berdasarkan pleno. Ketua seksi Pastoral Keluarga M. Paulus Hasiman mengatakan materi-materi yang disampaikan pada KPPK adalah hal-hal penting  yang dapat menjadi bekal bagi peserta dalam hidup berumahtangga sebagai keluarga Katolik. “Para peserta mendapatkan materi-materi menarik, seperti Hukum dan Moral Perkawinan Katolik, Gender, Hukum Perkawinan Adat, Hukum Perkawinan Sipil, PKDRT dan HPA, Doa dan Kitab Suci dalam Keluarga, Tanggung Jawab Hidup Menggereja, Kesehatan Keluarga & HIV/AIDS, Sakramen Perkawinan Katolik, Pendidikan Anak dalam Keluarga, Ekonomi Rumah Tangga, Menyambut buah hati & KBA serta Sakramen Tobat dalam Keluarga,” kata Paul. 
Sebagian peserta KPPK 2013 di Paroki Katedral Ruteng
Lanjutnya, para pemateri dipilih berdasarkan kemampuan dan kapasitas mereka dalam hidup bermasyarakat dan menggereja. “Untuk materi Hukum Adat Perkawinan misalnya, kita memilih Bapak Petrus Janggur yang adalah tokoh penting dalam inkulturasi kebudayaan Manggarai dan Gereja,” jelas Paul yang juga menjadi pemateri pada sesi Gender. Sementara itu pemateri lainnya adalah praktisi hukum Erlan Yusran untuk materi Hukum Perkawinan Sipil, Penanggulangan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Hak Perlindungan Anak, Bapak Petrus Jehamun untuk materi Tanggung Jawab Hidup Menggereja dan dr. Hardian Gunardi pada materi Kesehatan Keluarga dan HIV/AIDS.Pasutri Nimus dan Fin serta pasutri Paul dan Imel juga ikut berbagi pengalaman pada materi Pendidikan Anak dalam Keluarga dan Ekonomi Rumah Tangga. Tokoh KBA di Keuskupan Ruteng, Sr. Robertilde, SSpS juga hadir dan memberikan materi Menyambut Buah Hati & KBA. 

Sementara itu, Pastor Kapelan Katedral Ruteng Rm. Beben Gaguk, Pr berkesempatan materi Sakramen Perkawinan Katolik dan materi Hukum dan Moral Perkawinan Katolik. “Perkawinan adalah ikatan antara seorang pria dan wanita yang didasarkan kesepakatan untuk membentuk persekutuan seluruh hidup, yang secara kodrati terarah pada kesejahteraan suami-istri, serta kelahiran dan pendidikan anak, antara orang yang dibaptis  yang oleh Tuhan diangkat sebagai sakramen,” ungkapnya. Romo Beben menambahkan, perkawinan sebagai Sakramen, berarti Perkawinan merupakan tanda kehadiran Allah. Hal ini menunjukkan bahwa perkawinan adalah suatu hal yang luhur. “Karena itu, dalam kehidupan perkawinan sikap saling menghargai peran, istri kepada suami dan suami kepada istri adalah hal yang utama,” jelasnya.  KPPK tahun 2013 di Katedral Ruteng berlangsung selama dua hari, yakni Kamis dan Jumat 25 dan 26 April 2013. (bell)

Baca juga:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *