Liturgia – Bernyanyilah dengan Indah!

Salam. Kolom Liturgia kali ini hadir dengan informasi tentang nyanyian dalam perayaan ekaristi. Topik ini sebelumnya adalah salah satu halaman di buletin milik Katedral Ruteng bernama Swardika. Buletin tersebut tidak lagi terbit, dan karenanya kami memindahkan beberapa bagian dari Swardika di website katedralruteng.id.

bernyanyilah dengan indah

Foto: Frans Joseph, Ruteng

Liturgia sendiri berisi catatan tentang sikap-sikap liturgi, hal-hal yang harus diketahui umat Katolik agar dapat mengikuti ritus-ritus Gereja Katolik dengan baik. Di Swardika, kolom ini diasuh Romo Beben Gaguk. Edisi ini akan berisi tentang nyanyian liturgi.

Liturgia – Bernyanyilah dengan Indah!

Salah satu unsur yang menonjol dalam liturgi adalah auditif; yakni semua yang bisa di dengar. Liturgi akan indah, kalau semua unsur yang mesti didengar, dibawakan dengan baik dan penuh penghayatan. Nyanyi- an adalah satu hal yang patut didengar dalam liturgi.

Artinya, nyanyian dalam liturgi mesti terdengar bagus dan indah serta semarak.

Ada dua jenis nyanyian dalam perayaan Ekaristi: nyanyian umat dan nyanyian koor. Biasanya yang kita nilai indah atau tidak indah hanyalah nyanyian yang dibawakan koor. Kalau koor bagus, kita bilang nyanyiannya bagus.

Bagus tidaknya koor diketahui setelah lagu post comunio dinyanyikan. Jika umat spontan bertepuk-tangan, berarti koornya mantap. Tetapi, kalau tidak terjadi ada reaksi, berarti koornya belum mantap.

Padahal bukan saja nyanyian koor, nyanyian umat pun bisa indah dan bagus dan harus bagus. Tentu saja tuntutan indahnya nyanyian umat berbeda dengan tuntutan indahnya nyanyian koor.

Nyanyian umat terdengar indah kalau terdengar semarak. Seluruh umat ikut bernyanyi dengan kompak dan sepenuh hati. Nyanyian umat juga dikatakan indah dan bagus kalau dibawakan dengan selaras dengan jiwa nyanyian, seperti: gembira, agung, megah atau haru, sedih dan lain-lain.

Dengan demikian, sebuah perayaan akan terasa hambar, kering, membosankan dan tidak agung-berwibawa, jika perayaan dihadiri ribuan umat, namun yang menyanyi cuma beberapa orang. Dapat dibayangkan, seandainya dalam perayaan Ekaristi mingguan, semua umat–misalnya di gereja sebesar katedral Ruteng, bernyanyi dengan penuh semangat; betapa setiap perayaan menjadi semarak dan agung.

Dalam konteks ini, koor menyanyi indah bukan untuk dirinya sendiri. Koor menyanyi indah justru untuk memperindah nyanyian umat. Maka dalam upaya mewujudkan nyanyian misa yang indah, koor tidak boleh mengabaikan umat. Jika ada lagu yang dinyanyikan koor, sebisa mungkin, nyanyian tersebut juga diketahui oleh umat.

Atau jika dengan alasan tertentu, misalnya lagunya baru atau tidak memungkinkan dinyanyi kan bersama umat, maka hendaknya dibuat pembagian yang seimbang. Misalnya, koor untuk lagu proprium (pembuka, persembahan, post comunio dan penutup), sedangkan lagu ordinarium, Kyrie, Gloria, Sanctus, Agnus Dei, dinyanyikan bersama umat demikian sebaliknya. Dengan demikian, kelompok koor tidak memboyong semua nyanyian dari awal sampai akhir.

Kelompok koor justru berperan menopang nyanyian umat, sehingga mereka bisa menyanyi dengan semangat, stabil dan dinamis. Di sini dirigen memainkan peran kunci untuk menunjukkan mana bagian koor, mana bagian umat; kapan koor menyanyi dan kapan umat menyanyi.

Dirigen bukan saja berfungsi untuk memimpin nyanyian koor. Dia juga mesti memimpin nyanyian umat. Dalam memimpin nyanyian umat, justru kepiawaian dirigen dituntut dan diuji. Karena daya tangan dirigenlah umat bisa menyanyi dengan kompak, semangat dan gembira sesuai dengan tempo dan jiwa lagu. Kalau dirigen sungguh tampak memperhatikan dan memimpin umat, umat akan tergerak pula untuk menyanyi sesuai dengan panduan dirigen.

Last but no least, umat bisa ikut bernyanyi dengan baik, kalau membawa buku nyanyian seperti Yubilate, Madah Bakti dan Dere Serani. Ketiadaan buku nyanyian seringkali menjadi alasan untuk tidak menyanyi.

Namun saya yakin, bukannya umat tidak memilikinya, tetapi seringkali lupa untuk membawanya pada saat mengikuti perayaan Ekaristi; padahal kalau lupa HP, pasti buru-buru pulang untuk mengambilnya, bukan?

Oleh: Romo Beben Gaguk, Pr

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *