Liturgia – Saat-saat Hening

Kali ini kolom Liturgia di katedralruteng.id  mengajak kita mengenal saat-saat hening selama mengikuti perayaan ekaristi atau misa. Selamat mengikuti…

liturgia saat saat hening

Liturgia – Saat-saat Hening | Foto: Kaka Ited, Ruteng

Liturgia adalah kolom yang membahas sikap-sikap-sikap liturgi. Pada edisi ini, kita akan diajak untuk mengenal beberapa momen di mana umat diajak untuk hening pada saat mengikuti misa.

Liturgia – Saat-saat Hening

Apa yang bakal terjadi ketika sebuah perayaan Ekaristi sedang berlangsung, tiba-tiba nada panggilan masuk HP berbunyi? Jika ini punya kita, mungkin dengan sigap mendiamkannya, atau bisa jadi keluar sebentar meninggalkan perayaan, untuk melayani obrolan dengan si pemanggil. Atau?

Kalau handphone yang berbunyi di tengah misa itu adalah milik orang lain, mungkin kita bereaksi seperti mengerutu sambil mbecik di dalam hati. Atau diam-diam saja karena hal itu biasa kita alami?

Terganggunya situasi hening dalam perayaan Ekarsti atau ibadat lainnya, bukan hanya karena HP. Bisa juga karena anak yang tiba-tiba menangis, umat yang jalan-jalan–entah kenapa umumnya pas kotbah. Apakah Homili menjadi sesuatu yang tidak penting bagi umat?

Situasi hening merupakan saat yang penting dalam ibadat. Terutama perayaan Ekaristi. Sebab Ekaristi, merupakan kesempatan bagi kita untuk berjumpa dengan Tuhan. Tuhan tidak ditemukan dalam keramaian, hingar-bingar, huru-hara ataupun bisik-bisik yang menumbulkan kegaduhan. Tuhan disapa dalam keheningan. Pengalaman Para nabi dan Yesus sendiri membuktikan hal ini.

Musa berjumpa dengan Tuhan dalam keheningan gunung Horeb, di mana Allah hadir dalam rupa semak yang bernyala dan berbicara dengannya. Elia pun berdialog dengan Allah dalam keheningan gunung Horeb juga. Allah hadir bersama angin sepoi-sepoi basah. Yesus pun selalu mencari keheningan untuk berdoa setelah Ia menjalankan tugas dan pelayanannya. Ketiga tokoh di atas, sama-sama mengalami perjumpaan dengan Allah dalam keheningan.

Ekaristi sebagai momen perjumpaan dengan Allah membutuhkan keheningan. Ini menjadi sesuatu yang sangat penting, terutama pada beberapa bagian dalam Perayaan Ekaristi.

Sebelum Perayaan Ekaristi Dimulai

Kita membutuhkan waktu hening sebelum merayakan Ekaristi. Ini merupakan kesempatan bagi kita untuk berdoa. Kita memohon Roh Kudus meanungi kita agar dapat mengikuti Ekaristi dengan penuh iman. Kadang ada yang bilang, kita sulit mengikuti Ekarsti karena masih memikirkan masalah-masalah yang terjadi dalam hidup.

Apakah itu berarti masalah itu, kita tinggalkan di pintu gereja dan kita masuk ke gereja sebagai manusia yang bebas dari segala masalah? Tentu tidak. Masalah dan beban hidup itulah yang ingin kita persembahkan kepada Tuhan. Saat hening, sebelum perayaan Ekaristi merupakan kesempatan bagi kita untuk “curhat” dengan Tuhan, agar memperoleh kekuatan dan kelegaan rohaniah dalam Ekaristi.

Sebelum Pernyataan Tobat

Imam mengajak umat untuk hening sejenak, mengingat dan menyesali dosa dan kesalahan yang telah dibuat. Mengisi saat hening ini dengan sikap tobat dan saling mengampuni adalah syarat untuk mengikuti kurban Ekaristi.

Tuhan Yesus mengatakan, “Jikalau engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mesbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkan persembahanmu di mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”

Setelah Ajakan Doa Pembuka

Imam berkata, Marilah berdoa. Diikuti hening sejenak. Pada saat itu, umat mengucapkan permohonan dan intensi pribadi. Selanjutnya, doa umat beriman tersebut disatukan dalam doa pembuka oleh imam. Karenanya, saat hening sebelum Imam menyampaikan doa pembuka, mesti diisi dengan baik.

Saat Mendengarkan Bacaan dan Homili

Melalui pewartaan Sabda dan homili, umat mendengarkan Sabda Tuhan. Agar bisa mendengarkan Sabda Tuhan, kita membutuhkan keheningan. Sehingga, kita mampu mendengarkan dan meresapi Sabda Tuhan. Untuk itu, segala gerak-gerik, termasuk jalan-jalan saat homili, tentu amat menggangu situasi hening ini.

Setelah Komuni

Kita memanfaatkan waktu hening setelah komuni untuk berdoa dan bersyukur kepada Tuhan atas Tubuh dan DarahNya yang telah kita terima. Pada saat ini, kita pun menyampaikan ”niat suci” yang hendak kita buat dalam hidup kita sehari-hari.

Thomas Merton, seorang terapis, mengatakan, “Silence is the womb of the words.” Keheningan adalah rahim yang melahirkan kata-kata.

Dalam konteks ini, keheningan adalah kesempatan saat untuk berkata-kata, berdialog atau curhat dengan Tuhan. Dan yakinlah Tuhan akan menjawab doa kita, bukan di tengah kegaduhan, tetapi secara diam-diam, seperti angin sepoi-sepoi basah, seperti dialami Elia.

Oleh: Romo Beben Gaguk, Pr

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *