Liturgia – Ucapkan Amin!

Salam. Kolom Liturgia hadir lagi. Kali ini kita diajak untuk mengucapkan Amin dengan lantang usai menyambut tubuh dan darah Kristus dalam Ekaristi. Selamat menikmati.

liturgia ucapkan amin

Komuni Pertama di Katedral Ruteng | Foto: Dok. DPP Katedral Ruteng

Liturgia adalah kolom di katedralruteng.id yang berisi bahasan tentang sikap-sikap-sikap liturgi. Kolom ini diasuh Romo Beben Gaguk. Pada edisi ini, kita akan diajak untuk mengenal (kembali) kata Amin dalam Ekaristi.

Liturgia – Ucapkan Amin!

Seorang anak baru saja menerima komuni pertama. Pada minggu berikut, ia mengikuti misa bersama dengan ibunya. Setelah menerima tubuh Kristus, Si anak bertanya, ”Ma, kenapa pada waktu menerima Hosti, mama tidak menjawab Amin? Padahal ibu guru pernah bilang, kalau om Romo mengatakan Tubuh Kristus, kamu harus menjawab amin!” “Ibu bilang Amin tadi, Nak,” jawab ibunya dengan malu-malu. “Tapi di dalam hati.” “Oh,” gumam si anak dengan wajah kebingungan.

Mungkin kita pun pernah mengalami peristiwa yang sama. Menerima komuni tanpa menjawab Amin. Entah karena lupa, atau sudah biasa, atau mungkin karena tidak mengetahui makna dari ucapan tersebut.

Yang pasti, Amin, sebagai sebuah jawaban meski diucapkan dengan lantang, bukan dengan ‘diam-diam’ di dalam hati. Sebagai pembanding, jika kita menerima sesuatu dari orang lain, pastilah dengan suara yang lantang kita ucapkan terima kasih. Apalagi dalam konteks ini, yang kita terima adalah Tubuh Tuhan sendiri.

Setiap merayakan ekaristi, entah pada hari Minggu ataupun pada kesempatan lain, kita hadiri Misa untuk mengambil bagian dalam perayaan ekaristi, Ketika kita berkomuni, kita sadar bahwa kita besatu dengan Tubuh Kristus dalam keutuhanNya dan kemuliaanNya. Tubuh Kristus yang kita santap merupakan anugerah terbesar Tuhan bagi umat manusia.

Dalam dokumen Sacrosanctum Concilium tentang Hidup Liturgi No 4: ’Bunda gereja mengingatkan dengan sangat agar orang beriman tidak hanya mengikuti misa, sebagai penonton bisu dan pasif, tetapi ia harus ambil bagian secara aktif.’ Ambil bagian secara aktif artinya melibatkan diri dengan apa yang dirayakan. Salah satunya dengan menucapkan “Amin” dengan lantang, ketika Imam memberi Hosti Kudus sambil berkata “Tubuh Kristus”.

St Agustinus mengingatkan, Ketika kamu datang untuk menyambut Yesus, imam menunjukkan kepadamu Hosti Kudus dan berkata Tubuh Kristus dan kamu menjawab Amin.

Mengucapkan kata “Amin” bukan tanpa makna. Amin menurut Agustinus harus dipahami secara baik. Kata Amin yang diucapkan itu adalah seperti “tanda tangan” [subsignatio est], yang berarti telah ditandatangani, disetujui. Seperti kita menandatangani satu dokumen resmi, maka dokumen itu menjadi milik kita dan kita harus bertanggungjawab atas dokumen itu secara penuh; maka, ketika menjawab Amin itu menunjukkan keyakinan dan persetujuan iman, bahwa Hosti yang kita terima adalah Tubuh Kristus sendiri.

Keyakinan iman yang terungkap dalam kata Amin ini serentak menuntut tanggungjawab untuk memelihara dan menjaga keluhuran Tubuh Kristus sebagai sakramen yang menyelamatkan. Lebih dari itu, dengan berkata Amin saat menyambut Hosti Kudus, kita menerima Tubuh Kristus sebagai milik kita seutuhnya.

Inilah anugerah terbesar dari Tuhan kepada kita. Sebab, kata Amin menunjukkan sukacita iman, di mana Tuhan tinggal dalam diri kita dan meresapi dimensi kemanusiawian hidup manusia dengan rahmat keilaiahian. Maka, kebersatuan Yesus dan kita melalui penerimaan hosti Kudus juga menandakan bersatunya surga dan dunia.

Oleh: Romo Beben Gaguk, Pr.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *