Masa Puasa: Peduli dan Berdamai dengan Tuhan

Masa puasa adalah kesempatan untuk bertobat, serta memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk upaya tersebut adalah dengan menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Hal tersebut disampaikan oleh Rm. Emil Jehadus, Pr dalam Misa Rabu Abu di Gereja Katedral Ruteng (13/2) jam 10.00 WITA. Perayaan Ekaristi mengawali masa puasa tersebut diikuti oleh ribuan umat yang memadati Gereja Katedral Ruteng. Sebagian umat bahkan mengikuti perayaan tersebut dari halaman Gereja.
Image dari: bimbinganmu.blogspot.com
Dalam kotbahnya, Romo Emil mengungkapkan berpuasa berarti berdamai dengan Tuhan. “Kita adalah orang-orang yang berdosa, dan pada masa puasa ini kita diajak untuk memperbaiki kembali hubungan yang rusak dengan Tuhan akibat dosa-dosa kita. Kita memohon ampun sekaligus membenahi diri. Salah satu jalan yang ditempuh adalah dengan menunjukkan kepedulian terhadap sesama,” tuturnya. Pastor yang berkarya di lembaga pendidikan SMAK St. Fransiskus Saverius Ruteng ini juga menambahkan, “Bentuk niat tobat kita itu diwujudnyatakan dengan membantu sesama saudara kita yang menderita dan berkekurangan.”
Rabu Abu
Dalam tradisi Gereja Katolik, Rabu Abu adalah hari pertama Masa Prapaska, yang menandai bahwa kita memasuki masa tobat 40 hari sebelum Paska. Angka “40″ selalu mempunyai makna rohani sebagai lamanya persiapan. Misalnya, Musa berpuasa 40 hari lamanya sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (bdk. Kel 34:28), demikian pula Nabi Elia (bdk. 1 raj 19:8). Tuhan Yesus sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai pewartaan-Nya (bdk. Mat 4:2).
Seperti dikutip dari katolisitas.org, Gereja Katolik menerapkan puasa ini selama 6 hari dalam seminggu (hari Minggu tidak dihitung, karena hari Minggu dianggap sebagai peringatan Kebangkitan Yesus), maka masa Puasa berlangsung selama 6 minggu ditambah 4 hari, sehingga genap 40 hari. Dengan demikian, hari pertama puasa jatuh pada hari Rabu. (Paskah terjadi hari Minggu, dikurangi 36 hari (6 minggu), lalu dikurangi lagi 4 hari, dihitung mundur, jatuh pada hari Rabu). Jadi penentuan awal masa Prapaska pada hari Rabu disebabkan karena penghitungan 40 hari sebelum hari Minggu Paska, tanpa menghitung hari Minggu.
Sementara itu, Abu adalah tanda pertobatan. Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, misalnya pada pertobatan Niniwe (bdk. Yun 3:6). Di atas semua itu, kita diingatkan bahwa kita ini diciptakan dari debu tanah (bdk. Kej 2:7), dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu. Olah karena itu, pada saat menerima abu di gereja, kita mendengar ucapan dari Romo, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil” atau, “Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (you are dust, and to dust you shall return).”
Di Gereja Katedral Ruteng, Misa Rabu Abu tahun ini dilaksanakan empat kali, yakni misa pertama jam 05.00 WITA, kedua jam 08.00 WITA, ketiga jam 10.00 WITA dan keempat jam 16.30 WITA. Selanjutnya, pada setiap hari Jumat dilaksanakan Ibadat Jalan Salib mengenang peristiwa passio, yakni jam 07.00 WITA, jam 09.15 WITA, jam 10.30 WITA, jam 11.30 WITA dan 17.00 WITA. (*/bell)
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *