Penutupan Bulan Maria: Mari Berbagi!

Di Paroki Katedral Ruteng, Misa Penutupan Bulan Maria tahun 2016 ini dilaksanakan di empat Mbaru Gendang, yakni Pitak, Rowang, Waso, dan Nekang Ntala. Berikut kami bagikan Homili RD Lian Angkur saat memimpin perayaan tersebut di Mbaru Gendang Pitak, Selasa (31/5) pukul 17.00 Wita.

penutupan bulan maria: mari berbagi

RD Lian Angkur

Mari Berbagi!

Oleh: RD Lian Angkur

Perayaan penutupan Bulan Maria ini bertepatan dengan pesta Santa Perawan Maria mengunjungi Elisabet. Karena itu, saya mengajak kita sekalian untuk memusatkan perhatian pada peristiwa kunjungan Maria ini, sebagaimana yang dikisahkan oleh penginjil Lukas. Pertanyaan pokok yang perlu kita renungkan bersama adalah: Apa makna sekaligus pesan-pesan yang boleh kita petik-kita timba dari peristiwa kunjungan Maria ini, untuk selanjutnya kita bawa ke dalam kehidupan iman kita?

Diceritakan tadi bahwa setelah menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel, Maria yang sedang mengandung Putera Allah mengunjungi sanak keluarganya, Elisabet. Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa Maria merasa sangat perlu mengunjungi saudaranya Elisabet.

Pertama, Maria bermaksud untuk menceritakan kepada saudaranya Elisabet tentang apa yang terjadi pada dirinya. Maria ingin membagikan kabar gembira-berita sukacita yang diterimanya dari Malaikat Tuhan. Dalam konteks inilah, Maria dapat dianggap sebagai misionaris (utusan) pertama yang membawa kabar gembira tentang Yesus kepada orang-orang lain.

Kedua, pada saat Maria menerima kabar dari malaikat Tuhan, ia diberitahu oleh malaikat yang sama, bahwa Elisabet saudaranya, juga sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya. Siapa yang dikadung oleh Elisabet? Ia adalah orang yang kemudian akan diberi nama Yohanes Pembaptis, nabi terakhir yang mempersiapkan kedatangan Yesus. Karena itu, sebagai saudara, Maria merasa terpanggil-hatinya tergugah untuk melihat kondisi Elisabet, menghibur, dan menguatkan Elisabet yang sedang mengandung itu.

Karena dua alasan inilah, Maria rela menjumpai Elisabet di tempat/daerah yang sangat jauh. Maria bergegas ke pegunungan menuju sebuah kota di wilayah Yehuda dengan berjalan kaki. Ini perjalanan yang cukup berat apalagi pada saat itu Maria sendiri sedang mengandung Yesus. Pegunungan dan jalan berliku-liku adalah simbol tantangan yang harus dilewati. Dan Maria berhasil melewati tantangan itu karena cintanya yang begitu besar terhadap keluarga Elisabet. Memang, untuk sesuatu yang dilakukan atas dasar cinta, pasti berhasil; selalu ada jalan, walaupun ada tantangan.

Kunjungan Maria ini membawa sukacita besar, bukan saja kepada Elisabet, tetapi juga anak yang ada di dalam kandungannya sehingga anak itu pun melonjak kegirangan, bersukacita. Mengapa Elisabet dan seisi rumahnya sangat bersukacita?

Bagi Elisabet, ini bukan kunjungan biasa. Sekarang yang mengunjunginya adalah seorang Ibu Tuhan. Tentu saja, sebelumnya mereka sering bertemu dan saling berkunjung (mis. arisan, kumpul keluarga, dll). Tetapi, kunjungan kali ini sangat berbeda-istimewa. Elisabet bergembira bukan semata karena pribadi Maria, melainkan karena sekarang Maria membawa Tuhan sehingga Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus. Elisabet bergembira-berbahagia karena Bunda Maria “membawa Tuhan Yesus” ke rumah; ke tengah keluarganya. Sehingga tidak heran, ketika menerima sapaan-salam Maria itu, Elisabet berseru dengan suara nyaring: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

Dari peristiwa kunjungan ini, baik Maria maupun Elisabet, sama-sama mengajarkan sesuatu yang sangat berharga bagi kita sekalian. Pertama, dari Maria. Maria dan Elisabet adalah bersaudara. Maria tidak pernah melupakan saudara dan keluarga, walaupun kini ia sudah menyandang status baru sebagai Ibu Tuhan, orang terberkati. Kita pun diajak untuk tidak boleh melupakan keluarga; saling menghargai, saling mengunjungi, dan saling meringankan beban. Keberhasilan tidak boleh membuat kita lupa akan anggota keluarga, akan orangtua, sanak saudara, orang-orang seasal-sekampung, dan sebagainya.

Selain itu, Maria adalah pribadi yang suka berbagi. Ia tidak mau rahmat dan sukacita itu berhenti pada dirinya saja. Ia menghendaki agar orang lain juga ikut merasakan kegembiraan yang dialaminya. Tampak juga kerendahan hati Maria, di mana status barunya sebagai Ibu Tuhan, tidak membuat dia merasa diri istimewa; merasa lebih dari yang lain. Ia tetap rendah hati. Artinya, hanya orang yang rendah hatilah yang mudah peduli dan rela berbagi berkat dan kegembiran kepada orang lain. Itulah Maria.

Semoga kita juga senantiasa seperti Maria. Kita diajak untuk selalu berbagi suka dan duka; berbagi rejeki, termasuk mengunjungi sesama saudara-saudari khususnya yang sedang kesepian-yang sakit dan menderita, apa pun tantangannya. Tentu masing-masing kita juga diharapkan untuk tidak boleh menyimpan/menanggung beban hidup seorang diri. Bagilah dengan sesama. Ada kata-kata bijak bunyinya begini: “kedukaan yang dibagi-bagi akan menjadi lebih ringan, sebaliknya kegembiraan yang dibagi-bagi akan menjadi lebih besar.”

Namun, catatannya: itu akan terjadi jika kita “membiarkan Tuhan” hadir di dalam diri kita, sehingga bukan lagi kita yang hadir melainkan Tuhan sendiri. Kita hanyalah alat-sarana, perpanjangan tangan Tuhan. (Eme ite to’o nai kudu pande di’a, manga kaut cengka salang le Morin). Seperti Maria, kita pun bisa menjadi misionaris (pembawa kabar sukacita), jika kita menampakkan Yesus dari dalam diri kita dan menjadi sumber kegembiraan bagi orang-orang lain. (Neteng-neteng ite paka cengka nai kudu ba kreba dia agu pande nisang nai cama hae ata; ba tombo agu wintuk ata di’an, agu pande mberes nai cama tau, cewen kole, ase kae ata kaeng one susa).

Kedua, Seperti Elisabet, mari kita membuka hati untuk menerima kunjungan yang sama dari Bunda Maria. Dengan demikian, kita akan selalu bersukacita dan senantiasa bersyukur, karena tidak merasa sendirian. Selanjutnya, menerima Maria juga berarti bersedia menerima sesama di dalam hati dan rumah kita. Karena sesama adalah orang-orang yang juga mencintai dan dicintai Maria. Mereka adalah anak-anak Maria, sama seperti kita.

Ada yang katakan begini: rumah bagi setiap orang adalah “hati” yang menerima dan mencintainya. Apakah “hati” kita bersedia menjadi “rumah” bagi orang lain? Jika ini yang terjadi, maka kita menjadi orang-orang yang terberkati seperti Elisabet yang telah membuka pintu hati dan pintu rumahnya bagi Maria. Dengan menerima orang lain, sebenarnya kita sedang berbagi rahmat. Berbagi itu Indah. Mari kita terus berdoa; Bunda Maria, kunjungilah kami senantiasa agar kami pun selalu bersukacita karena menerima kehadiran Tuhan dan Roh Kudus dan kemudian kami terdorong untuk selalu menerima sesama serta menjadi pembawa kabar sukacita. Semoga! (*)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *