PPA Nikmati Dongeng Di LG Corner

Lebih dari 60 anggota Putra-Putri Altar PPA Lumen Gratiae Katedral Ruteng, hari Minggu (25/1) kemarin menikmati dongeng di LG Corner Ruteng dalam kegiatan “Sore Cerita – Dongeng untuk Anak”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Teater Saeh Go Lino Ruteng.

PPA Katedral Nikmati Dongeng di LG Corner Ruteng

Kegiatan Sore Cerita Pertama | Foto: Dok DPP

Pembina PPA Katedral Ruteng Kosmas Karjiin mengatakan, keterlibatan anggota PPA Katedral Ruteng dalam kegiatan ini adalah salah satu bentuk pembinaan mental dan karakter. “Selama ini semua anggota PPA memang kita libatkan dalam berbagai kegiatan, tetapi tahun kemarin masih berkonsentrasi pada pengenalan liturgi dan doa. Tahun ini kita tawarkan alternatif lain, mereka mendengar dongeng. Kita berterima kasih ada komunitas yang bisa membantu maka kita laksanakan,” jelas Kosmas. Tambahnya, dari kegiatan ini diharapkan anggota PPA belajar karakter baik dari tokoh-tokoh yang didongengkan.

Sementara itu, salah seorang pendiri Komunitas Teater Saeh Go Lino Ruteng Armin Bell menjelaskan bahwa kegiatan Dongeng untuk Anak ini bertujuan mengenalkan anak pada cerita-cerita anak dari seluruh penjuru dunia termasuk dari Manggarai. “Kita rancang kegiatan ini tahun lalu dan para pegiat seni muda di Ruteng bersedia meluangkan waktu sebulan sekali. Kami berharap ini menjadi hiburan alternatif di tengah gempuran tayangan sinetron. Anak-anak perlu mengenal dan belajar mendengar cerita agar mampu membangun imajinasinya dengan baik,” tuturnya yang pada hari pertama bersama pegiat teater Febry Djenadut dan Erick ‘Ujack’ Demang mendampingi PPA Katedral Ruteng.

Ditambahkannya, dongeng-dongeng yang dipilih untuk diceritakan adalah dongeng populer dunia seperti Grimm Bersaudara, H. C. Andersen dan lain-lain. “Dongeng nusantara akan kita masukkan termasuk dari Manggarai, tetapi untuk hari pertama kita pilih Tujuh Pangeran Gagak-nya Grimm,” jelasnya lagi. Ditambahkannya, kegiatan ini akan dilaksanakan setiap bulan pada Minggu keempat. “Kebetulan memang ada kelompok anak yang siap mendengar yakni PPA, maka kita jadikan mereka sebagai kelompok sasaran pertama. Selanjutnya kita berharap semakin banyak anak yang terlibat. Toh, kita punya tempat mendongeng yakni di Taman Baca LG Corner Ruteng ini yang sudah disiapkan paroki Katedral untuk berbagai kegiatan positif. Kita manfaatkan itu karena dari segi budget, kegiatan ini hampir tanpa biaya,” ungkap Armin.

Kisah “Tujuh Pangeran Gagak” ini didongengkan dengan sangat baik oleh seniman Erick ‘Ujack’ Demang. Aktor teater yang kerap tampil di berbagai pentasan teater ini (salah satunya di Ora The Living Legend, dipentaskan di Puncak Sail Komodo 2013, red) tampil memukau. Dongeng tersebut tidak hanya dibaca, tetapi juga diperagakan. “Konsepnya memang agak teatrikal karena saya mau anak-anak tidak hanya mendengar cerita tetapi juga belajar berekspresi. Kalau ini dilakukan terus, suatu saat mereka akan jadi pencerita yang baik. Tidak harus jadi aktor teater tetapi minimal di masa datang mereka berani tampil di depan umum dan bisa lebih baik dalam Public Speaking,” tuturnya.

Sementara itu tentang komunitas teater Saeh Go Lino, Febry Djenadut menjelaskan komunitas ini berdiri sejak tahun 2013 dengan anggota seniman-seniman muda di Ruteng. “Sebagian besar anggotanya adalah anggota OMK Lumen Gratiae Katedral Ruteng, tetapi anggota seniornya kita ajak para seniman muda yang sudah lama bergelut di teater seperti Om Ujack. Namanya memang baru diputuskan di akhir 2014 tetapi kegiatannya sudah dimulai jauh sebelum itu,” tutur penari yang pernah meraih predikat koreografer terbaik pada sebuah perhelatan di Jogja beberapa tahun silam. Febry yang juga menjadi penata tari pada pentas Opera Wajah Pertiwi (2013) menambahkan kegiatan “Sore Cerita – Dongeng untuk Anak” adalah salah satu bentuk perhatian komunitas ini pada perkembangan dunia cerita anak. “Kalau dapat, nanti kita bisa melaksanakan pentasan teater anak. Tetapi di awal, kita ajak mereka mengenal cerita dan cara mendongeng. Ini bekal yang baik untuk masuk ke tahap lain, termasuk teater,” papar tenaga pengajar Seni Drama Tari di STKIP St. Paulus Ruteng ini. (adm)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *