Rangka Baja Aula Sudah di Ruteng

Pembangunan aula baru Paroki Katedral Ruteng memasuki tahapan baru setelah rangka baja yang dikerjakan di Surabaya tiba di Ruteng. Seperti diketahui proses pengerjaan rangka baja dilakukan di oleh PT Gemilang berdasarkan rancangan dari konsultan perencana Arta Prima Konsultan. Pengiriman dari Surabaya dilakukan melalui jalur laut menuju Pelabuhan Kedindi Reo selanjutnya melalui darat menuju Ruteng.

Tumpukan rangka baja di lokasi pembangunan aula (foto: Dok. DPP)
Saat ini, rangka baja tersebut telah ada di lokasi pembangunan aula (di bagian Selatan Gereja Katedral Ruteng. Tibanya rangka baja tersebut diikuti oleh kewajiban panitia untuk membayar cicilan kepada PT. Gemilang. “Pada tahap ini kita (panitia. red) harus membayar cicilan tahap ketiga sebesar Rp. 200.000.000,-. Berhubung ketersediaan dana pembangunan tidak mencukupi jumlah tersebut, kita berusaha mendapatkan pinjaman dari pihak lain sehingga proses ini tetap berjalan sesuai rencana,” kata Ketua DPP Katedral Ruteng Erlan Yusran.

Menurut Erlan, cara itu ditempuh sambil tetap mengingatkan umat Katedral yang belum mulai mencicil uang pembangunan aula berdasarkan kesepakatan tahun 2007 untuk mulai mencicil atau melunasinya. Seperti diketahui, tahun 2007 silam lahir kesepakatan dalam Pleno DPP bahwa setiap kepala keluarga di Katedral Ruteng menyumbang Rp. 450.000,- untuk pembangunan aula. Sampai saat ini, yang telah terkumpul sekitar 38 %. “Dana yang sudah terkumpul sudah dipakai untuk membiayai proses pembangunan selama ini sehingga untuk proses selanjutnya kita membutuhkan tambahan dana,” jelas Bendahara DPP Helena M. Palu.
Beberapa upaya telah dilakukan oleh panitia untuk mendapatkan dana termasuk proposal dan permohonan donasi kepada pihak-pihak yang peduli dan sebagian sudah menyumbang, sebagian lain memberikan sinyal akan membantu. “Kita terus berupaya agar proses ini berjalan sesuai rencana dan semoga semakin banyak pihak yang peduli,” kata Erlan Yusran.
Pembangunan aula baru di Paroki Katedral Ruteng dilakukan dengan beberapa pertimbangan termasuk pemenuhan kebutuhan riil umat akan tempat pertemuan yang memiliki daya tampung besar dan representatif. Selain itu, aula ini juga akan menjadi aset atau sumber pemasukan bagi Paroki dan Keuskupan dalam rangka kemandirian finansial. (bell

Baca juga:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *