Romo Andy: Bongkar Kebiasaan Lama di Masa Puasa

Masa Puasa adalah waktu yang tepat untuk mulai memperbaharui diri dan mengawalinya dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Hal tersebut disampaikan oleh Rm. Andy Latu Batara, Pr saat memimpin perayaan Misa Rabu Abu di Gereja Katedral Ruteng, Rabu (5/3) jam 11.00 Wita.

Romo Andy: Bongkar Kebiasaan Lama di Masa Puasa

Rm. Andy Latu Batara, Pr | Foto: Dok. DPP

Misa tersebut adalah Misa ke tiga dari rangkaian empat kali Misa Rabu Abu di Gereja Katedral Ruteng tahun ini, yakni jam 05.00, 07.30, 11.00 dan 16.00 Wita. Rm. Andy dalam kotbahnya mengingatkan pentingnya bersikap rendah hati dan mulai mendengar, terutama mendengar Tuhan yang bicara dalam hati kita. “Kalau selama ini kita merasa diri hebat, luar biasa, memiliki kemampuan lebih sehingga kita tidak lagi menghargai orang lain, ini adalah saat yang tepat untuk berubah. Bongkar kebiasaan lama di masa puasa ini dan mulailah menjadi baru,” kata Kepala SMAK St. Fransiskus Saverius Ruteng ini.

Perayaan ekaristi tersebut diikuti ribuan pelajar SMP, SMA/SMK dan umat se-Paroki Katedral Ruteng. Sebagian dari mereka terpaksa mengikuti misa dari halaman Gereja, karena semua kursi di dalam Gereja terisi penuh. Petugas liturgi pada perayaan tersebut adalah SMP Negeri 2 Langke Rembong.

Selain mendengar, masa puasa kali ini menurut Romo Andy adalah saat yang tepat untuk menemukan kekurangan dalam diri kita melalui keberhasilan orang lain. “Kita tentu pernah bertanya mengapai dia berhasil, mengapa si itu hebat dan lain sebagainya. Saat ini, kita perlu melihat apa yang kurang atau yang belum kita lakukan selama ini yang membuat kita tidak berhasil seperti orang lain. Dengan lebih melihat diri, kita akan tahu langkah perbaikan apa yang bisa kita buat ke depannya,” jelasnya. Romo Andy menambahkan, jika hal tersebut dilakukan maka kita akan menjadi manusia baru yang berkenan di hadapan Tuhan.

Misa Rabu Abu adalah penanda awal masa puasa umat Katolik. Selama masa ini sampai pada hari Paskah, umat Katolik dihimbau untuk berpuasa dan berpantang. Tradisi ini dilakukan mengikuti teladan Yesus yang berpuasa di padang gurun selama 40 hari. (adm)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *