Sejarah Gereja Katedral Ruteng

A. Awal Karya Misi (Tahun 1914-1920)

Pembaptisan  perdana umat Manggarai di Reo pada tanggal 17 mei 1912 sebanyak 6 orang mendahului pembaptisan perdana warga Ruteng di Pitak tanggal 11 Desember 1914 oleh Mgr. Petrus Neijen, SVD mengawali “penanaman” benih iman katolik di Ruteng. Pemeliharaan iman yang telah ditanam itu, untuk sementara belum mendapat perhatian yang insentif.

B. Menjadi Stasi Induk dan Pusat Misi Wilayah Manggarai Tengah (Tahun 1920-1929)

Benih iman yang telah ditabur itu terus berkembang dan membuahkan hasil. Kenyataan ini sanggup menggerakkan para misionaris perintis (Berpusat di Ende) untuk menjadikan Ruteng sebagai Stasi Induk dan pusat Karya Misi untuk wilayah Manggarai Tengah. Pater Bernhard Glaneman, SVD mulai menetap di Ruteng pada tanggal 23 september 1920. Hari ini juga ditetapkan sebagai hari berdirinya ‘Misi’ di Manggarai. Buku Paroki mulai tahun 1920, karena Paroki Ruteng mencakup seluruh wilayah Manggarai bagian tengah. Banyak stasi dibuka dalam rentang waktu ini. Pater Franc Dorn, SVD menjadi pastor paroki pada tahun 1923-1939.

C. Menjadi Dekenat (Tahun 1929-1951)

Gereja Paroki Ruteng mulai dibangun pada tahun 1929 hingga tahun 1939. Gereja ini menjadi Gereja Paroki Katedral Ruteng, dengan nama Pelindung Santa Maria Diangkat Ke Surga dan Santo Yosef. Wilayah Gereja Katolik Manggarai ditetapkan sebagai Dekenat (wilayah teritorial gerejani dibawah keuskupan) pada tanggal 29 September 1929. Pater Thomas Koning, SVD menjadi Deken pertama. Paroki Ruteng menjadi pusat Dekenat Manggarai. Pater Franc Dorn, SVD menjalankan tugas sebagai pastor parokis sejak tahun 1923 sampai tahun 1939, lalu digantikan oleh Pater Frans Mensen, SVD (1939-1946). Pater Yohanes Bala Letor, SVD juga bekerja di Paroki (1942-19446), lalu Pater Nico Bot, SVD yang dijuluki ‘Pastor Pemukul’ karena selalu membawa dan pemukul didalam saku jubahnya. Pater Markus Malar, SVD bekerja di Paroki Ruteng sekitar tahun 1950an.

Tahun 1940 dari rahim Paroki Ruteng lahir Paroki Ka-redong. Dalam rentang waktu ini juga mulai berdiri sekolah-sekolah yang mendukung karya Pastoral Paroki Ruteng, bahkan Manggarai secara keseluruhan.

D. Cikal bakal nama Paroki ‘Katedral’ (Tahun 1951-1961)

Status Dekenat Manggarai meningkat menjadi Vikariat Apostolik Ruteng pada tanggal 8 Maret 1951 dan Pater Wilhelmus van Bekkum, SVD menjadi Vikaris Apostolik pertama. Beliau ditahbiskan menjadi Uskup pada tanggal 13 Mei 1951. Gereja Paroki Ruteng yang terbesar di Manggarai itu menjadi Gereja Paroki Katedral Ruteng. Sejak itu, cikal bakal nama Paroki ‘Katedral’ Ruteng mulai diukir. Dalam rentang waktu 1951-1961 Paroki ini digembalakan oleh Pater Markus Malar, SVD, lalu Pater Karel Bale, SVD dari tahun 1957 sampai dengan 1967.

E. Periode Pendewasaan (Tahun 1961-1972)

Vikariat Apostolik Ruteng ditingkatkan statusnya menjadi Keuskupan Ruteng pada tanggal 3 Januari 1961. Mgr. Wilhelmus van Bekkum, SVD menjadi uskup pertama. Peningkatan status ini merupakan pengakuan gereja universal bahwa wilayah Manggarai tidak lagi menjadi daerah misi, melainkan gereja lokal. Paroki Katedral Ruteng yang masih meliputi seluruh kota Ruteng menjadi titik sentral gereja lokal Keuskupan Ruteng. Beberapa paroki muncul dari Paroki Katedral Ruteng: Paroki St. Mikael –  Kumba (tahun 1962), Paroki St. Fransiskus Assisi – Karot (tahun 1974), Paroki St. Vitalis – Cewonikit (tahun 1984), Paroki Kristus Raja – Mbaumuku (tahun 1984).

Pater Hilarius Gudi, SVD menjadi pastor Paroki Katedral pada tahun 1967-1970, lalu Pater Carolus Kale Bale, SVD menggantikan posisi beliau setelah itu Pater Yosef Klizan, SVD menjadi Pastor Paroki Katedral Ruteng pada tahun 1970-1972.

F. Periode Regenerasi (Tahun 1970-1984)

Mgr. Wilhelmus van Bekkum, SVD berhenti dengan hormat sebagai Uskup Ruteng pada tanggal 31 Januari 1972. Pater Vitalis Djebarus, SVD menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng dan ditahbiskan menjadi Uskup Ruteng yang kedua pada tanggal 5 Mei 1973 bersamaan dengan itu pula Rm. Max Nambu, Pr. diangkat sebagai Pastor Paroki Katedral Ruteng hingga tahun 2004.

G. Periode Pengembangan

Mgr. Vitalis Djebarus, SVD diangkat menjadi Uskup Denpasar pada tanggal 4 Januari 1981. Pater Gerardus Mezemberg, SVD mengemban tugas memimpin Diosis sebagai Vikaris Kapitularis, lalu Rm. Max Nambu, Pr. (Pastor Paroki Katedral) menjadi Administrator Diosesanus pada tanggal 15 Desember 1983.

Tahta Suci Vatikan mengangkat Pater Eduardus Sangsun, SVD sebagai Uskup Ruteng pada tanggal 3 Desember 1984. Perencanaan pembangunan Katedral baru dimulai pada tahun 1985 dan ditahbiskan tanggal 15 Agustus 2002.

Rm. Alfons Segar, Pr. menggantikan Rm. Max Nambu, Pr. (tahun 2004-2008), Rm. Laurens Sopang, Pr. (2008-10 Februari 2009).

Mgr. Eduardus Sangsun, SVD meninggal dunia pada tanggal 13 Oktober 2008. Rm. Laurens Sopang, Pr. diangkat menjadi Administrator Keuskupan Ruteng pada tanggal 16 Oktober 2008.

Rm. Daniel Sulbadri, Pr. menggantikan Rm. Laurens Sopang, Pr. sebagai Pastor Paroki Katedral sampai pada tanggal 12 Februari 2009 sampai sekarang.

Rm. Dr. Hubertus Leteng, Pr. diangkat menjadi Uskup Ruteng pada tanggal 14 April 2010.

Demikian sejarah singkat Paroki Katedral Ruteng. Ada beberapa korelasi yang erat antara perkembangan Paroki Katedral dengan kehidupan menggereja gereja lokal Keuskupan Ruteng. “Benih itu memang tumbuh dan berkembang menghasilkan buah”.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

5 gagasan untuk “Sejarah Gereja Katedral Ruteng

  1. Sebelumnya terimakasih. .Sejarahnya seperti kurang rinci. . Khususnya untuk Gereja Katedral lama(karna sudah menjadi salah satu gereja bersejarah, khsusnya di manggarai, lebih khusus lagi di Ruteng) semestinya di ceritakan awal pembangunan, siapa2 yang terlibat dalam pembangunan gereja, dananya dari mana, bahan-bahannya didatangkan dari mana, dsb. Dengan begitu cerita dalam sejarahnya lebih menarik lagi. Kalau dari pihak Gereja tidak punya artikel atau sesuatu yang bisa menjelaskan sejarahnya lebih rinci lagi, pihak Gereja mungkin bisa adakan penelitian kecilan di sekitar kota Ruteng. Saya kira masih banyak orang tua(usia lanjut) di sekitar kota Ruteng yang tau persis sejarahnya, khususnya saat pembangunan Gereja Katedral pertama. . Terimakasih

  2. Ping-balik: #KembaraNusaTenggara: Menyelami Kehidupan Nasrani di Kota Seribu Biara - Teras Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *