Teater Api Tuturkan Sejarah Gereja Katolik Manggarai

Perjalanan 100 tahun Gereja Katolik Manggarai diceritakan secara menarik melalui panggung teater. Di hadapan Uskup Ruteng, para imam, biarawan-biarawati dan ribuan umat, para pelakon dari Kelompok Teater Api SMAK St. Fransiskus Saverius Ruteng bergerak dalam dialog-dialog memukau dan menampilkan kisah dimulainya karya Gereja Katolik di Manggarai.

Sejarah Gereja Katolik Manggarai

Teater Api dalam latihan Sketsa Teatrikal Yubileum | Foto: Armin Bell

Teater Yubileum adalah bagian utama dari pentas seni dalam rangka peringatan 100 tahun Gereja Katolik Manggarai. Pementasan dilaksanakan pada hari Jumat, 19 Oktober 2012 jam 20.00 WITA di panggung pentas Lapangan Parkir Katedral Ruteng. Selama sekitar dua jam, para penonton disuguhkan dengan dialog kisah, apresiasi dan kritik atas perjalanan Gereja Katolik Manggarai.

“Gereja tidak hanya mengurus hal-hal rohani, tetapi juga pada setiap sendi kehidupan umat. Gereja bersama pemerintah sama-sama berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan kita. Upaya apapun yang dilakukan, tidak akan berhasil jika masyarakat atau umat bermental ngende (mengemis. red),” demikian beberapa penggal dialog dalam pertunjukan tersebut. Hal lain yang menjadi sorotan dalam sketsa teatrikal tersebut adalah karya dari para Uskup yang pernah memimpin Keuskupan Ruteng. Mgr. Wilhelmus van Bekkum dikenal sebagai perintis upaya inkulturasi, Mgr. Vitalis Djebarus dengan kerjasamanya dengan Pemerintah, Mgr. Eduardus Sangsun memberi perhatian pada kelompok-kelompok kategorial dan Mgr. Hubertus Leteng dengan niat besar untuk pemberdayaan ekonomi umat dan lingkungan hidup.

Naskah teater tersebut ditulis oleh Rm. Beben Gaguk, pastor muda yang baru saja menerbitkan buku kumpulan naskah drama bersama Mantovany Tapung berjudul Pastoral Panggung. Romo Beben mengungkapkan, Teater Yubileum tidak hanya menampilkan cerita sejarah, tetapi terutama menitipkan pesan kepada Umat Katolik Manggarai agar menghargai jasa para pendahulu serta mengambil bagian dalam membangun Gereja di wilayah ini. “Ajakan-ajakan tersebut muncul dalam dialog seperti: jangan bermental ngende; membayar Iuran Gereja Mandiri; kaum muda harus diberi kepercayaan; dan dialog-dialog lainnya yang ditampilkan dengan sangat baik oleh pelakon,” ungkap Pastor Kapelan Katedral Ruteng yang juga Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Ruteng ini.

Pentasan tersebut disutradarai oleh Pembina Teater Api Sian Warut. Usai pentasan Sian Warut menyampaikan terima kasih kepada para pelakonnya yang telah bermain dengan sangat baik, penulis naskah Romo Beben Gaguk dan asisten sutradara Arta Hadi dan Armin Bell, penata IT Kaka Ited dan Kepala Sekolah SMAK St. Fransiskus Saverius Ruteng Rm. Andy Latu Batara Pr, yang mendukung kegiatan tersebut. Sementara itu para penonton terlihat sangat puas dan berharap Teater Yubileum bisa ditampilkan sekali lagi. (bell)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *