Seksualitas Pilar Kedua dalam Relasi Pasutri

Seksi Pastoral Keluarga DPP Katedral Ruteng, tanggal 19 dan 20 Juli lalu melaksanakan kegiatan Rekoleksi Pasutri dengan tema Pasutri Potensial, bekerjasama dengan Marriage Encounter atau ME Keuskupan Ruteng. Rekoleksi tersebut mendatangkan pemateri dari ME Indonesia yakni Pasutri Elly dan Rusli Prakarsa didampingi oleh Romo Kasmir, SMM.

Pasutri Elly dan Rusli bersama Romo Kasmir saat sharing | Foto: Armin Bell

Pasutri Elly dan Rusli bersama Romo Kasmir saat sharing | Foto: Armin Bell

Dalam kesempatan tersebut kepada para peserta, Pasutri yang telah 40 tahun menikah dan pernah menjadi Koordinator Nasional ME tahun 1999 – 2001 memaparkan empat pilar penting dalam kehidupan rumah tangga. “Seksualitas pilar kedua dalam relasi pasutri,” tutur mereka lalu menjelaskan empat pilar yang mereka maksudkan adalah sebagai berikut:

Pertama, Doa/Rohani;

Pilar ini menekankan pentingnya doa bersama dalam keluarga. “Kita tetap harus berdoa secara pribadi, tetapi doa bersama Pasutri itu penting. Dalam doa bersama, kita bisa saling mendoakan. Istri mendoakan suami pun sebaliknya. Doa juga bisa berarti sharing, sehingga kita bisa memahami apa yang menjadi persoalan pasangan kita untuk kita doakan,” jelas mereka. Romo Kasmir menambahkan, banyak keluarga atau pasutri saat ini yang mulai melupakan atau bahkan tidak pernah berdoa bersama, padahal doa bersama adalah kesempatan yang baik untuk curhat bersama kepada Tuhan tentang persoalan dalam relasi pasutri. Selain itu, doa bersama juga adalah kesempatan untuk bersyukur. “Banyak orang lupa bersyukur bahwa sampai saat ini mereka masih hidup,” tutur Romo Kasmir.

Kedua, Seksualitas;

Pilar ini menekankan pentingnya kehidupan seksual yang sehat dalam hubungan pasutri. Seksualitas di sini harus dimaknai tidak sebatas sex intercourse tetapi lebih luas. “Jangan hanya berpikir tentang hubungan di kamar tidur, tetapi sentuhan fisik seperti menggandeng pasangan ketika berjalan atau mencium pasangan sebelum berangkat kerja adalah bagian dari pilar ini,” tutur Elly. Sementara itu menurut Romo Kasmir, perselingkuhan sering terjadi karena pilar ini tidak dipelihara dengan baik. “Pilar ini juga bicara tentang saling menghargai, tidak ada paksaan dan memberikan diri seutuhnya kepada pasangan. Tidak hanya hubungan fisik semata tetapi perasaan cinta. Jika seksualitas dalam relasi pasutri terjaga maka perselingkuhan tidak akan terjadi,” jelasnya.

Ketiga, Komunikasi;

Komunikasi adalah salah satu pilar penting dalam relasi Pasutri. “Semua hal harus dibicarakan dengan pasangan, termasuk hal yang paling kecil. Kalau kita sudah mulai memutuskan sesuatu tanpa berdiskusi dengan pasangan, biasanya akan timbul persoalan,” kata Rusli yang juga menambahkan dengan menjaga komunikasi yang baik kita akan lebih memahami pasangan kita. Elly menambahkan, “Pasutri itu punya latar belakang yang berbeda sehingga untuk bisa saling mengerti maka komunikasi dengan pasangan menjadi wajib untuk dilakukan. Jangan berharap pasangan bisa mengerti keinginan kita kalau kita sendiri tidak pernah membicarakannya.” Romo Kasmir juga mengingatkan pentingnya kebiasaan berkomunikasi dengan pasangan sebagai modal membangun komunikasi dengan anak-anak, keluarga besar dan lingkungan.

Keempat, Komunitas;

Pilar ini menjelaskan pentingnya bergabung dengan komunitas atau lingkungan yang baik agar relasi Pasutri tetap terjaga. “Usahakan kita hidup dalam komunitas yang baik. Biasanya kalau hidup dengan penjudi, kita punya kecendrungan menjadi penjudi demikian juga sebaliknya,” kata Romo Kasmir. Pasutri Elly dan Rusli menyetujui pandangan tersebut. Meski demikian, mereka juga menyadari bahwa lingkungan kita tidak selalu baik. “Kadang teman-teman kita itu memang tidak baik, tetapi tidak boleh lantas meninggalkan lingkungan itu. Sebisa mungkin kita menjadi garam dan terang, tetapi tentu saja dengan cara yang santun. Jangan berkotbah tetapi memberi contoh,” jelas Elly.

Jika keempat pilar tersebut diperhatikan dan dilaksanakan dengan baik, maka hampir pasti relasi Pasutri akan terjaga dan harmonis. “Pertengkaran atau beda pendapat itu pasti terjadi, tetapi tidak akan berakibat buruk jika keempat pilar tadi dijalankan dalam kehidupan keluarga,” demikian Pasutri Elly dan Rusli mengakhiri sesi Rekoleksi Pasutri ini. (adm)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *