Surat Gembala Uskup Ruteng Natal 2012

“Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkna-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal…” (1 Kor 1:4-5) – Berikut petikan Surat Gembala Uskup Ruteng Natal 2012.

Para imam, biarawan/biarawati dan seluruh umat beriman yang terkasih dalam Kristus!

Nada syukur Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat Korintus ini pulalah yang kiranya telah menggema dan membahana di seluruh wilayah Keuskupan Ruteng, ketika pada tahun 2012 kita merayakan Yubileum Agung 100 tahun Gereja Katolik Manggarai Keuskupan Ruteng. Secara istimewa kita telah merayakan dengan penuh sukacita kehadiran iman Katolik di bumi Manggarai dalam kelompok-kelompok umat, di stasi-stasi dan paroki-paroki, di kevikepan-kevikepan dan berpuncak pada misa agung di lapangan Motang Rua tanggal 21 Oktober 2012 yang dihadiri puluhan ribu umat. Seluruh perayaan Yubileum melantunkan puji syukur atas kebaikan Allah yang tak terbatas dalam hidup kita sekaligus menuntun kita untuk semakin menghayati iman yang semakin solid, mandiri dan solider di bumi tercinta Nuca Lale ini.

Beriman solid berarti hidup dalam kekuatan Tuhan. Itu berarti kita mengembangkan kehidupan sehari-hari dengan bertumpu pada relasi yang kokoh dan dinamis dengan Allah dan terungkap dalam ikatan persaudaraan yang tegush dengan sesama. Iman yang solid itu bagaikan sebuah pohon yang berakar kuat ke bawah dan bertumbuh rindang ke atas; atau dalam ungkapan indah bahasa Manggarai: wake calern ngger wa, saung bembangn ngger eta“. Bila kita beriman solid, bersatu dengan Allah melalui Yesus Kristus, Sang Pokok Anggur, maka hidup kita akan menjadi seperti ranting-ranting anggur yang menghasilkan buah berlimpah (bdk. Yoh 15:5)

Guna mewujudkan iman yang semakin solid ini, dalam tahun Yubileum kita telah melakukan katekese Yubileum di kelompok umat basis, rekoleksi dan retret untuk kelompok kategorial dan kelompok profesi, novena Yubileum, prosesi sakramen mahakudus di seluruh wilayah keuskupan Ruteng, adorasi, ziarah ke Gua Maria dan Gereja tua dan Kebangunan Rohani Katolik. Secara khusus kita juga merayakan setiap minggu ketiga dalam bulan, misa inkulturatif. Melalui perayaan ini, tampaklah bahwa iman katolik tidaklah asing terhadap budaya Manggarai. Malahan sebaliknya kita mengalami bahwa Yesus Kristuslah jawaban atas kerinduan dan harapan orang Manggarai akan kebahgiaan dan keselamatan sejati. Karena iman yang solid adalah iman yang berakar dalam kebudayaan setempat, maka kami menetapkan bahwa seterusnya di Keuskupan Ruteng misa inkulturasi dirayakan setiap minggu ketiga dalam bulan.

Selain beriman solid, kita juga merayakan Yubileum Agung 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai dalam arah dan semangat dasar beriman mandiri. Yaitu hidup menggereja yang aktif atas dasar kesadaran dari dalam diri. Orang sering menyebutnya juga beriman dengan berdiri di atas kaki sendiri. Kita beriman katolik bukan sekedar ikut-ikutan iman orang tua, tetapi kita sendirilah yang dengan penuh kesadaran bertanggungjawab atas iman itu. Kita pulalah yang bertanggungjawab atas kehidupan Gereja baik dalam aspek rohani maupun materiil finansial. Kita dan bukan orang lain, yang membuat kehidupan Gereja menjadi aktif dan dinamis.

Guna semakin mewujudkan iman yang mandiri ini, dalam tahun Yubileum ini kita telah melakukan banyak kegiatan yang meneguhkan persaudaraan dan persekutuan umat. Kita telah berupaya agar perayaan Yubileum dari tingkat Paroki sampai Keuskupan menjadi sebuah perayaan dari umat, oleh umat dan untuk umat. Sangatlah indah ketika kita mengalami bahwa seluruh umat Allah dari segala lapisan baik anak-anak, orang muda, orang dewasa, keluarga, maupun para rohaniwan/rohaniwati terlibat aktif dalam pelbagai perayaan, maupun dalam dukungan dana seperti kolekte dan pengumpulan sumbangan Yubileum. Pertisipasi aktif ini bahkan juga terbuka terhadap saudara-saudara kita yang bukan Katolik yang dengan caranya masing-masing telah terlibat dalam perayaan syukur Yubileum ini.

Perayaan Yubileum juga kita laksanakan dalam semangat iman yang solider yaitu iman yang bersetiakawan dengan orang miskin, lemah dan sakit bertolak dari solidaritas Allah sendiri. Kita ingin menjadi Gereja murid Kristus yang sehati dan seperasaan dengan orang-orang lemah dan terpinggirkan. Pada dasarnya tahun Yobel, tahun Yubileum adalah tahun pembebasan. Itulah yang dimaklumkan Yesus di Sinagoga Nasareth: “Aku datang untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin… dan untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk 4:18-19)

Maka dari itu dalam perayaan Yubileum kita telah berusaha mewujudkan karya pembebasan dan kerahima Allah melalui pemberian indulgensi maupun pelbagai kemurahan pastoral seperti dispensasi khusus pasangan nikah ‘tungku cu‘. Kita juga telah mengadakan kegiatan pengobatan gratis di banyak paroki, anjang sana dan sumbangan sosial bagi rumah yatim-piatu dan panti cacat. Dan sebab solidaritas itu tidak hanya terhadap manusia tetapi juga alam semesta, maka kita juga telah melakukan gerakan penghijauan menuju tercapainya keutuhan ciptaan. Ibadat ekologis yang disertai penanaman pohon di puncak Golo Lusang dalam pekan puncak perayaan Yubileum misalnya, menjadi salah satu kenangan indah penuh makna dari tahun Yubileum ini.

Gereja Katolik Manggarai Keuskupan Ruteng hidup di bumi persada nusantara yang didiami oleh orang dari berbagai suku, bahasa dan agama. Kita tidak hidup seorang diri, tetapi menjadi satu bagian mosaik indah dari kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk. Di satu pihak kita bersyukur karena boleh hidup sebagai orang Katolik dalam sebuah negara Pancasila yang mengakui keberagaman agama dan mendukung toleransi. Di pihak lain, kita orang Katolik juga telah berjuang untuk menjadi bagian yang penting dan bergua bagi bangsa Indonesia ini.

Kiprah Gereja Katolik di Indonesia tidak hanya tampak dalam bidang iman dan moral tetapi juga terwujud dalam karya pendidikan, sosial ekonomi, politik dan budaya. Itu pulalah yang menjadi salah satu tujuan dasar perayaan Yubileum Agung ini yakni menjadi 100 persen orang Katolik dan 100 persen warga Indonesia. Kehadiran Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pekan perayaan puncak Yubileum di Ruteng tanggal 18-19 Oktober 2012 merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kehadiran dan peranan penting Gereja Katolik di Indonesia. Dengan rendah hati kita boleh mengumandangkan dari RUteng ke seluruh penjuru nusantara bahwa Gereja Katolik adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia dan bahwa Gereja Katolik akan terus berjuang di masa depan mewujudkan kehidupan yang adil, damai dan sejahtera di seluruh tanah air Indonesia.

Para imam, biarawan/biarawati dan seluruh umat beriman yang terkasih dalam Kristus!

Ketika kita merayakan Tahun Yubileum, Paus Benediktus XVI mencanangkan tahun iman yang berlangsung dari tanggal 11 Oktober 2012 sampai dengan pesta Kristus Raja tanggal 24 November 2013. Kita bersyukur pada Tuhan atas penyelenggaraanNya, tahun iman yang dirayakan oleh Gereja Universal ini sesuai dengan visi dasar perayaan Yubileum Gereja loka Keuskupan Ruteng kita yakni iman yang solid, mandiri dan solider. Melalui tahun iman kita mendapat kesempatan istimewa untuk semakin memperdalam pemahaman iman dan memperkokoh persaudaraan iman.

Dalam surat apostolik Porta Fidei atau Pintu Iman, Bapa Suci mengajak kita untuk menemukan kembali bahwa Iman itu Indah. Iman Katolik bukan sesuatu yang membebani hidup kita tetapi sebaliknya membebaskan dan membawa damai dan sukacita. Dan persis, hal itu pulalah yang telah dan boleh kita alami selama tahun Yubileum 2012 ini. Kita telah merasakan betapa indahnya iman yang dihayati dan dirayakan dalam persaudaraan dan persekutuan Gereja. Kita menemukan mutiara-mutiara indah dalam ajaran-ajaran iman Katolik yang menjadi penuntun dan terang kehidupan ini. Dan secara khusus keindahan iman itu kita alami dalam perjumpaan pribadi dengan Kristus, baik dalam liturgi maupun dalam hidup sehari-hari. Kekhasan iman Katilik bukanlah pertama-tama terletak pada ajaran-ajaran iman yang indah, tetapi pada pribadi Kristus. Kita bukan percaya pada ajaran-ajaran teoretis tetapi kepada seorang pribadi yaitu Yesus Kristus. Dia adalah: “… jalan, kebenaran dan kehidupan.” (Yoh 14:6). Karena itu dia pulalah yang merupakan kepenuhan dari apa yang kita rindukan dan harapkan dalam hidup ini yaitu kebahagiaan sejati.

Para imam, biarawan/biarawati dan seluruh umat beriman yang terkasih dalam Kristus!

Iman yang indah mengandung unsur kesaksian dan perutusan. Bila orang telah berjumpa dengan Kristus dalam hidupnya, maka ia didorong oleh Roh Kudus untuk membagi pengalaman kasih Kristus itu kepada orang lain. Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata: “Celakalah aku, jika tidak memberitakan Injil!” (1 Kor 9:16). Iman Katolik yang indah itu hendaknya dinikmati oleh semua orang. Karena itu penting sekali kita secara aktif dan intensif mengadakan katekese. Sebab tanpa pewartaan, iman tidak akan ada dan juga tidak akan bertumbuh. “Iman timbul dari pendengaran (Rm. 10:17). Karena itu kami mengajak para imam dan seluruh umat beriman untuk giat berkatekese umat di kelompok, katekese penerimaan sakramen, katekese di sekolah dan katekese dalam keluarga. Kita perlu berusaha terus menerus agar anak-anak, kaum muda dan orang dewasa semakin memahami, mengenal dan menghayati pokok-pokok dasar iman Katolik.

Salah satu pokok iman yang penting adalah keterkaitan antara ekologi dan iman. Iman berkaitan juga dengan upaya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Dalam nota pastoral tahun 2012, para Bapa Uskup se-Indonesia mengingatkan kita bahwa: “alam semesta bukanlah obyek yang dapat dieksploitasi sesuka hati, tetapi merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia” (Nr.3). Bumi merupakan “rumah bagi manusia”. Karena itu kita semua diajak untuk “memperlakukan alam sebagai sesama ciptaan dan mengolahnya secara bertanggungjawab” (Nr.2). Kita semua diundang untuk terlibat aktif dalam gerakan ekologis menuju keutuhan ciptaan yang di keuskupan kita terwujud dalam pelbagai kegiatan penghijauan dan sikap tegas Gereja menolak tambang. Hanya dalam bingkai keutuhan ciptaan ini, iman Katolik yang telah ditaburi 100 tahun yang lampau di tanah Manggarai ini dapat terus berkembang subur dan menghasilkan buah berlimpah.

Akhirnya, kami mengucapkan kepada seluruh umat Allah keuskupan Ruteng, selamat merayakan pesta Natal 2012 dan bahagia tahun Baru 2013. Mari dalam semangat Natal, kita menyongsong dan membingkai masa depan Gereja Katolik Manggarai Keuskupan Ruteng dengan penuh suka cita dan dalam kegembiraan iman. Sebab Allah menjadi manusia, supaya kita “hidup dan hidup berkelimpahan” (Yoh 10:10).

Uskupmu

Mgr. Hubertus Leteng

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *