Surat Gembala Uskup Ruteng Natal 2013

“Datanglah, ya Raja Damai” (Bdk. Yes. 9:5)

Setiap menjelang perayaan besar gereja atau moment-moment penting lainnya, Uskup Ruteng selalu menulis Surat Gembala. Pada Surat Gembala Uskup Ruteng Natal 2013 ini, Mgr. Hubertus Leteng menulis tentang pentingnya menjaga kedamaian terutama berkaitan dengan tahun politik 2014.

Para Imam, bruder, suster, frater Bapa/ibu, Saudara/i, Umat Katolik se-Keuskupan Ruteng yang kami kasihi dalam Kristus!

Suasana indah dan penuh sukacita menyambut natal sedang kita rasakan dan alami di mana-mana. Umat di paroki dan stasi mulai sibuk menata Gereja dan mempersiapkan koor Natal. Tidak ketinggalan pula persiapan rohani dalam bentuk pengakuan dosa, rekoleksi dan retret baik untuk orang dewasa maupun untuk siswa/i sekolah. Dalam keluarga orang tua dan anak-anak sibuk membangun kandang natal. Orang-orang muda menghias jalan dengan aneka lampu yang membentuk bintang natal yang indah.

Mengapa kita begitu sibuk menjelang perayaan Natal? Jawabannya adalah karena kita sedang menyambut kelahiran seorang pribadi yang istimewa, yakni Sang Mesias, turunan Raja Daud (Mt 1:1). Dia bukan hanya sekedar tokoh besar tetapi Allah sendiri yang datang menyapa kita bahkan tinggal di tengah-tengah kita untuk menganugerahkan kita damai dan kebahagiaan sejati. Karena itu nabi Yesaya menyebutnya sebagai “raja damai” (Yes 9:5).

“Datanglah, ya Raja Damai!” demikianlah pesan natal KWI tahun 2013 ini. Kita semua diajak untuk merenungkan dan menyadari bahwa Yesus Kristus yang akan kita rayakan pesta kelahiranNya adalah raja yang membawa¬† perdamaian dalam hidup kita dan hidup dunia. Ketika Yesus lahir di Betlehem para malaikat bersorak penuh sukacita: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi. Dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lk 2:14). Yesus adalah raja damai yang tidak bertahta di singgasana tetapi hidup di antara manusia untuk mengubah hati manusia yang tegar menjadi hati yang lembut dan terbuka terhadap sabda Allah. Dia adalah raja yang tidak mewujudkan damai di bumi dengan kuasa dan kekerasan tetapi menghadirkan perdamaian melalui pengampunan dan kerahiman. Dialah pribadi satu-satunya yang dapat mengubah hidup kita dan membaharui dunia seluruhnya. Sebab Dia adalah “terang, yang datang ke dunia ini, agar setiap orang yang percaya kepadaNya, tidak tinggal dalam kegelapan” (Yoh 12:46).

Para imam, biarawan/wati dan seluruh umat beriman yang dikasihi Tuhan!

Kristus adalah damai sejahtera kita (Ef 2:14). Karena itu kita hanya dapat mengalami damai yang benar dan sejati bila kita sungguh-sungguh bersatu denganNya. Namun damai seperti apakah yang dibawa oleh sang bayi Betlehem? Damai yang diwartakan dan diperjuangkan oleh Yesus bukanlah damai yang semu. Damai bukan berarti saya tidak mengalami masalah dalam hidup, tetapi dalam pergulatan hidup saya memperoleh kekuatan dan penghiburan dari Tuhan sendiri. Damai juga bukan berarti saya hidup tenang-tenang saja dan tak ambil perduli dengan persoalan di lingkungan hidup saya. Tetapi damai berarti terlibat dalam kehidupan bersama untuk mewujudkan kejujuran, kebenaran dan keadilan.

Dan justru damai demikianlah yang sangat kita butuhkan dewasa ini dalam kehidupan bangsa kita, khususnya pada saat menjelang pemilu legislatif dan pemilu presiden yang akan dilangsungkan pada tahun 2014. Sebagai umat katolik kita dipanggil untuk menjaga suasana damai sebelum, selama dan sesudah peristiwa Pemilu itu. Lebih dari itu kita berkewajiban terlibat dalam kehidupan politik untuk mewujudkan kehidupan berbangsa yang toleran, jujur dan adil.

Damai dari sang bayi Betlehem ini juga sangat kita perlukan dalam kehidupan umat kita di Manggarai Raya ini masih sering terpecah belah karena perbedaan pilihan politik. Kita juga masih terjebak dalam politik primordial di mana orang menentukan pilihan politik maupun menyelenggarakan kekuasaan lebih berdasarkan ikatan kekerabatan. Padahal kualitas, kompetensi dan integritas moral seseorang yang mestinya menjadi kriteria penting. Damai juga kita butuhkan di Manggarai Raya ini karena kita seringkali mudah terjatuh dalam konflik karena persoalan tanah maupun kepentingan ekonomi tertentu.

Selain itu damai dari sang Mesias ini juga kita rindukan agar terwujud dalam kehidupan keluarga-keluarga kita yang dewasa ini mengalami pelbagai krisis keutuhan keluarga dan memikul beban kehidupan yang semakin memberat. Sidang KWI bulan November 2013 secara khusus membahas masalah narkoba yang kini ditengarai telah menyebar di mana-mana dan menghancurkan tidak hanya korban tetapi juga keluarganya dan masyarakat seluruhnya. Karena itu kita dipanggil untuk membantu korban dan keluarga yang menderita akibat narkoba sekaligus memerangi segala bentuk penyebaran narkoba yang kini juga sudah memasuki daerah kita.

Akhirnya damai juga dibutuhkan oleh segala makhluk dan alam ciptaan yang di mana-mana kian hari dieksploitasi dan dirusak karena keserakahan dan ketamakan segelintir orang. Kita menolak segala jenis pertambangan yang menghancurkan dalam dan membahayakan kehidupan manusia. Kita juga diajak untuk berjuang mengatasi perambahan hutan lindung yang membahayakan persediaan sumber air dan merusak lingkungan ekosistem pada umumnya.

Para imam, biarawan/wati dan seluruh umat beriman yang dikasihi Tuhan,

Tahun depan tepatnya pada tanggal 13-17 Januari 2014, kita akan mengadakan pertemuan sinode tahap pertama yang dilanjutkan dengan lima kali pertemuan sinode berikutnya dan berpuncak pada bulan Juli 2015. Dalam sinode kita ingin duduk bersama (lonto leok), berefleksi dalam terang sabda Allah untuk mencari jawaban bersama atas permasalahan yang dihadapi oleh umat keuskupan kita, misalnya masalah sosial ekonomi, budaya dan politik yang membelit kehidupan umat, masalah dalam bidang pewartaan dan liturgi, masalah dalam bidang pastoral pendidikan seperti peranan yayasan sukma, kepemilikan dan penggunaan tanah milik SDK kita, dan tema aktual lainnya.

Lebih dari itu dalam sinode ini kita ingin menyadari kembali jati diri kita sebagai Gereja, sebagai satu persekutuan yang dipanggil untuk menjadi saksi keselamatan Kristus bagi dunia. Melalui sinode kita ingin semakin mewujudkan Gereja yang SMS. Yaitu Gereja yang solid atau teguh dan soloder atau terlibat dalam perjuangan orang miskin, menderita dan lemah. Kita ingin menjadi Gereja yang peka dan ikut serta dalam suka duka hidup manusia dan bukannya Gereja yang tertutup dalam dirinya sendiri.

Dalam surat apostoliknya yang berjudul kegembiraan injil (evangelii gaudium) bertepatan dengan penutupan Tahun Iman pada tanggal 24 November 2013, Paus Fransiskus mengajak kita semua warga Gereja untuk bangkit berdiri dan berjalan keluar, untuk mewartakan Kristus kepada semua orang. Bapa Suci mengundang kita untuk keluar dari tembok Gereja, dari kenyamanan diri sendiri guna menjumpai semua orang yang lemah, menderita dan sakit. Dia menulis begini: “Bagi saya adalah lebih baik sebuah Gereja yang peot, yang terluka dan bernoda, karena ia berjalan keluar ke jalan-jalan, daripada sebuah Gereja yang sakit, yang karena ketertutupan dan kenyamanannya, terpaku pada keamanan diri sendiri.” (Nr. 49). Kita ingin mewujudkan dalam sinode III Keuskupan Ruteng ini kerinduan Bapa Suci: “Saya memimpikan sebuah keputusan misioner, yang mampu membaharui segalanya, agar kebiasaan-kebiasaan, ketenangan, rencana kerja, penggunaan bahasa dan setiap struktur gereja menjadi sebuah kanal, yang melayani evangelisasi dunia dewasa ini dan bukannya kemapanan diri sendiri” (Nr. 27).

Para imam, biarawan/wati dan seluruh umat beriman yang dikasihi Tuhan,

Kita menyambut sang raja damai, tidak sekedar saat kita menyanyikan lagu malam kudus sunyi senyap di dalam Gereja tetapi lebih-lebih ketika kita berjalan keluar dari Gereja untuk mewartakan dan memperjuangkan damai, keadilan dan kebenaran di bumi bagi semua orang. Kita mengalami damai natal yang sejati bukan saat kita terpesona oleh kerlap-kerlip lampu pohon natal yang indah, bukan dalam kenyamanan diri sendiri tetapi ketika kita berjalan keluar untuk mewartakan cahaya Kristus bagi semua orang yang berjalan dalam kegelapan (bdk. Yes:92). Selamat merayakan Pesta Natal.

SELAMAT NATAL 2013 DAN TAHUN BARU 2014

Ruteng, 4 Desember 2013

Uskupmu

Mgr. Hubertus Leteng

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *