Surat Gembala Uskup Ruteng Natal 2014

Surat Gembala Uskup Ruteng Natal 2014:

Membagi Sukacita Natal dalam Keluarga

Bapak Mgr. Mikhael Anggur OFM, Romo Vikjen, Para Vikep, Para Imam, Bruder, Suster, Frater dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan.

Allah selalu menyapa kita dalam kehidupan nyata. Dia menjadi manusia tidak dalam sebuah ruangan yang hampa tetapi dalam kehidupan keluarga yang konkret, Maria dan Yusuf. Karena begitu besar kasihNya, maka Dia mengutus putraNya yang tunggal untuk sehati dan sejiwa dengan kita dalam pergulatan hidup keluarga sehari-hari (bdk. Yoh 3:16). Justru karena itulah kita dapa mengalami kehadiran Allah dalam keluarga. Kita dapat berjumpa dengan sang bayi natal dalam persekutuan cinta, perdamaian dan sukacita keluarga.

Hal ini pulalah yang telah dialami oleh para gembala Betlehem. Mereka dituntun Allah untuk menjumpai sang Mesias dalam sebuah keluarga yang berasal dari Nasaret. Setelah mendengar warta Malaikat, injil menceritakan bahwa “mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu” (Luk 2:16). Dengan demikian peristiwa Natal menegaskan makna istimewa kehidupan keluarga. Keluarga tidaklah merupakan paguyuban sosial manusiawi belaka, tetapi juga rahim yang melahirkan dan membesarkan kehidupan ilahi, yang tampak dalam diri Sang Bayi Betlehem. Hal ini diungkapkan oleh Surat Gembala Natal KWI tahun 2014 demikian: “Natal menyadarkan kita akan kekudusan keluarga…. Natal adalah kesempatan untuk memahami betapa luhurnya keluarga dan bernilainya hidup sebagai keluarga karena di situlah Tuhan yang dicari dan dipuji hadir. Keluarga sepatutnya menjadi baitu suci di mana kesalahan diampuni dan luka-luka disembuhkan.”

Atas dasar pentingnya kehidupan keluarga dalam perspektif iman Kristiani inilah, maka Sinode III Sesi III Keuskupan Ruteng tanggal 22-25 September 2014 secara khusus membahas tema Pastoral Keluarga, termasuk di dalamnya Pastoral Anak-anak dan Kaum Muda. Sinode menyadari bahwa keluarga Kristiani memiliki dimensi ilahi yang sangat mendalam sebab persekutuan ini dibentuk dan dihayati dalam persekutuan kasih Allah Tritunggal Mahakudus. Allah Bapalah yang telah menciptakan dan memanggil pria dan wanita menjadi ‘satu daging’ (Kej 2:24), suami-istri dalam persekutuan cinta ang terbuka terhadap kelahiran baru (Kej 1:28). Lebih lanjut, meskipun keluarga terjerat dalam kerapuhan dan dosa, Allah Putra, Yesus Kristus telah menebus keluarga dan mengangkatnya menjadi mempelainya yang agung (bdk. GS 48-49). Akhirnya, dalam pergulatan hidup di tengah-tengah dunia, baik dalam “untung maupun malang”, dan “dalam sehat dan sakit”, persekutuan keluarga selalu dituntun oleh kekuatan cinta Allah Rohkudus. Karena itulah keluarga Kristiani dipanggil untuk menjadi tanda dan sarana penyelamatan Allah Tritunggal. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa “keselamatan pribadimaupun masyarakat manusiawi dan Kristiani erat berhubungan dengan kesejahteraan perkawinan dan keluarga” (GS 47).

Namun betapapun luhurnya martabat panggilan Kristiani persekutuan keluarga, para peserta Sinode III Sesi III juga menyadari dan menemukan bahwa dewasa ini keluarga-keluarga Katolik di Keuskupan Ruteng dalam situasi zamana yang sangat menantang dan terjerat dalam pelbagai krisis dalam kehidupan. Masalah-masalah yang menerpa kehidupan keluarga itu bersifat multidimensional. Hal ini dimulai dari komunikasi yang kurang harmonis dan semakin sulitnya mendidik anak sampai dengan kemerosotan penghayatan iman dan kerusakan moral dalam keluarga yang bahkan tidak jarang membahayakan keharmonisan dan kesatuan keluarga.

Guna mengatasi problem-problem itu, Sinode III Sesi III mengajak seluruh keluarga Katolik untuk menyadari dan menghayati jatidirinya sebagai “ecclesia domestica“, Gereja Rumah Tangga (bdk LG 11; FC 21) yaitu Paguyuban murid-murid Yesus yang dirajut oleh kasih ilahi dan dibangun dalam ikatan cinta, kesetiaan tanpa batas, pengampunan, kemurahan hati dan solidaritas. Dalam keluargalah, Gereja sebagai persekutuan cinta terwujud. Untuk itu, perlulah dibangun dan dikembangkan secara intensif pola komunikasi dan relasi dalam keluarga yang menerima, menghargai dan mendukung martabat pribadi yang setara dan unik dari setiap anggota. Suami dan istri dalam segala kesibukan masing-masing hendaknya selalu menyediakan waktu dan perhatian yang berlimpah untuk pasangannya. Dalam segala situasi apa pun suami dan istri hendaknya selalu berdialog satu sama lain. Hal ini semakin mendesak di tengah-tengah situasi kemajuan teknologi, di mana hubungan yang hangat dan manusiawi pasangan suami istri telah diganggu bahkan digantikan oleh ketertarikan pada alat-alat media masa modern. Demikian pula hubungan orangtua dan anak-anak mesti diperbaharui. Anak-anak janganlah diperlakukan sebagai subyek yang selalu bertanya dan mencari tahu. Hendaknya anak memiliki ruang kondusif dalam keluarga untuk mengekspresikan dirinya.

Dewasa ini anak-anak dan remaja sangatlah dipengaruhi dan dibius oleh alat komunikasi modern seperti televisi, internet dan HP. Tentu di satu pihak teknlogi IT ini sangat penting untuk pengetahuan, teknologi dan relasi. Tetapi di lain pihak hal ini telah membawa dampak negatif melalui penyebaran pornografi, tayangan film kekerasan dan dorongan gaya hidup konsumtif-materialistis. Karena itu orang tua perlulah dengan bijaksana mengatur pemakaian HP dan Internet bagi anak-anak sesuai dengan usia layak mereka dan mengawasi penggunaannya. Paroki, sekolah dan pemerintah hendaknya mendukung orangtua dalam menyelenggarakan pendidikan media yang kritis dan selektif bagi anak-anak dan remaja. Sejalan dengan itu perlu pula digalakkan secara luas dan terus menerus pendidikan nilai di dalam keluarga, sekolah, asrama dan paroki.

Fenomena lain yang mencemaskan dalam kehidupan sekarang ini adalah terjadinya kemerosotan kehidupan iman. Hal ini kelihatan jelas melalui hilangnya kebiasaan doa bersama di tengah keluarga, menurunnya kehadiran dalam doa rosario dan katekese di KBG dan rendahnya partisipasi keluarga dalam misa hari Minggu. Iman dalam keluarga yang merosot itu tampak juga dalam melemahnya nilai-nilai moral yang terungkap dalam orientasi materialistis-hedonistis serta semakin rendahnya solidaritas dan pengorbanan dalam keluarga. Selain itu semakin menguat fenomena ketidakjujuran dan ketidaksetiaan terhadap pasangan yang tak jarang berujung kepada kehancuran keluarga.

Untuk mengatasi hal ini Sinode mewajibkan Gereja partikular Keuskupan Ruteng untuk merancang dan mewujudkan Pastoral Keluarga yang kontekstual dan integral. Pastoral Keluarga janganlah seperti selama ini hanya berlangsung pada momen pra nikah dalam kursus persiapan perkawinan ata hanya menjadi “pemadam kebakaran” ketika telah terjadi masalah kritis dalam keluarga. Pastoral Keluarga ke depan mesti dimulai saat pra-nikah dan mesti berlangsung terus dalam masa pasca-nikah melalui berbagai kegiatan pembinaan dalam aspek spiritual, moral, psikologis dan sosial. Tidak kalah pentingnya adalah pembentukan kelompok pasutri keluarga Kristiani serta perlunya keluarga didorong untuk terlibat dalam pelbagai paguyuban rohani. Melalui wadah-wadah ini para pasutri dapat saling meneguhkan, mensyeringkan pengalaman iman dan dapat memberikan kesaksian tentang indahnya kehidupan keluarga yang dibangun dan dihayati dalam nilai-nilai Kristiani. Hanya melalui usaha-usaha demikian, kita dapa mewujudkan pengharapan Sinode tentang lahirnya musim semi Pastoral Keluarga di Keuskupan Ruteng.

Para Imam, Biarawan/wati dan seluruh Umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Sinode III Sesi III juga secara khusus membahas Pastoral Kaum Muda. Sinode menegaskan pentingnya Gereja meneladani Yesus, Sang Gembala yang Baik (Yoh 10:1-10) dalam melaksanakan pendampingan kaum muda. Itu berarti Gereja perlu berjalan bersama kaum muda (bdk. Luk 24:13-35), dan terlibat dalam suka duka, kecemasan dan pengharapan mereka (bdk. GS 1) dalam ziarah menuju kepenuhan hidup. Untuk itu Paus Yohanes Paulus II mengajak kita untuk “melihat orang muda sebagai subjek dan bukan sebagai masalah; memfasilitasi mereka belajar dari pengalaman mereka sendiri dan bukan dari jawaban yang sudah tersedia, melibatkan orang muda dalam proses pengambilan keputusan, bukan hanya meminta mereka untuk melaksanakan keputusan yang dibuat orang lain.” (FABC, 2000). Gereja Kaum Muda adalah Gereja “yang tahu bagaimana berbicara dengan kaum muda, menyentuh hati mereka dengan cinta dan memotivasi mereka dengan kegembiraan Injil dan kekuatan Ekaristi” (Paus Yoh. Paulus II, Kotbah Doa Panggilan Sedunia 1995).

Pastoral Kaum Muda dewasa ini sangatlah mendesak, karena orang-orang muda ditantang oleh arus deras gaya hidup materialistis, konsumtif, hura-hura, santai dan instan. Karena itu Gereja perlu mempromosikan etos kerja keras dan gaya hidup sederhana yang dimulai dari pemimpin Gereja dan tokoh umat. Gereja perlu memotivasi kaum muda untuk mengembangkan gaya hidup alternatif sesuai dengan nilai-nilai Injili. Kaum muda hendaknya dituntun untuk menemukan kebahagiaan hidup yang sejati tidak dalam materi, kuasa dan hal duniawi lainnya tetapi dalam perjumpaan yang mendalam dengan Yesus Kristus (bdk. Luk 18-23). Selain itu kaum muda perlu didorong untuk menemukan wajah Kristus dalam diri sesama yang menderita (mat 25) serta melalui gerakan ekologis demi keutuhan ciptaan.

Masalah lain yang melilit kaum muda dewasa ini adalah rendahnya keterlibatan kritis profetis dalam kehidupan bergereja, bermasyarakat dan berbangsa. Tidak sedikit kaum muda yang bersikap apatis terhadap pelbagai kerusakan moral dalam penyelenggaraan kehidupan bersama seperti korupsi, kolusi dan nepotisme atau bahkan terjerumus dalam praktek kotor demikian. Karena itu Gereja perlu mendorong kesadaran sosial kritis kaum muda melalui pendidikan nilai spiritual dan moral di tengah keluarga dan sekolah serta program masif kaderisasi melalui wadah-wadah orang muda. Secara khusus Sinode mewajibkan setiap paroki untuk membentuk dan memberdayakan OMK. Wadah persekutuan kaum muda ini mesti dapat menggerakkan kaum muda untuk menjadi agen-agen pastoral yang terlibat aktif dalam kehidupan internal Paroki dan sekaligus menjadi kader-kader kritis profetis dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Para Imam, Biarawan/wati dan seluruh Umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Setelah membahas Pastoral Keluarga, Anak-anak dan Kaum Muda dalam sesi III, maka dalam sesi IV bulan Januari 2015, Sinode III Keuskupan Ruteng akan menggumuli tema Pastoral Kelompok Basis Gerejawi baik yang berdimensi teritorial (KBG) maupun kategorial khususnya wadah paguyuban rohani. Tema ini sesungguhnya berkaitan dengan hal yang paling hakiki dari kehidupan Gereja yakni communio atau persekutuan. Gereja menurut Konsili Vatikan II adalah persekutuan yang dibangun dalam, diresapi oleh dan terarah kepada persekutuan ilahi Allah Tritunggal Mahakudus (LG 1-4). Jadi Gereja bukanlah organisasi sosial manusiawi tetapi persekutuan ilahi yang terwujud dalam sejarah hidup nyata manusia.

Kita bersyukur kepada Tuhan, bahwa selama ini persekutuan kelompok umat berkembang dengan pesat di seluruh Keuskupan Ruteng. KBG dewasa ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Paroki dan merupakan perwujudan diri Gereja Umat Allah yang partisipatif. Demikian pula organisasi-organisasi rohani hidup dan berkembang di mana-mana. Oleh tuntutan Roh Tuhan mereka telah menjadi kekuatan pembaharuan dalam Gereja. Karena itu kami mengajak seluruh umat untuk mempersembahkan kepada Allah seluruh Kelompok Basis Gerejawi dan terlibat secara aktif dengan cara masing-masing dalam seluruh proses sinode ini. Dengan demikian tampaklah bahwa persekutuan Umat Allah Keuskupan Ruteng dibentuk dalam satu iman akan Yesus Kristus, diresapi oleh Rohkudus dalam semangat cinta kasih dan dituntun dalam satu pengharapan menuju persatuan dengan Bapa dalam kemuliaan Yerusalem Surgawi. Sebab Sang Sabda telah menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita (Yoh 1:14) untuk menghantar kita menuju kepenuhan hidup yang sejati dalam persatuan dengan Allah (bdk. Yoh 10:10).

Akhirnya, kami mengajak umat untuk melanjutkan tradisi yang baik di Keuskupan kita tahun-tahun terakhir ini dengan menghias Gereja, jalan-jalan, tempat-tempat umum serta rumah-rumah keluarga dengan nuansa natal yang indah tetapi sederhana. Hal ini merupakan ungkapak syukur dan sukacita kita akan peristiwa kehadiran Allah dalam kehidupan keluarga kita. Namun seperti ajakan para gembala KWI dalam pesan Natal 2014, sukacita natal ini hendaknya dibagikan kepada yang lain khususnya mereka yang lemah, rapuh, miskin dan sengsara. “Natal mendorong kita untuk meneruskan sukacita keluarga sebagai rumah bagi setiap orang yang sehati-sejiwa berjalan menuju Allah, saling berbagi satu sama lain hingga merekapun mengalami kesejahteraan lahir dan batin. Natal mengundang keluarga kita untuk menjadi oase yang menyejukkan, di mana Sang Juru Selamat lahir.”

Selamat merayakan Pesta Natal 2014 dan Tahun Baru 2015.

Ruteng, 8 Desember 2014
Uskupmu

Mgr. Hubertus Leteng

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *