Surat Gembala Uskup Ruteng Natal 2015

Tanggal 4 Desember 2015, Uskup Ruteng mengeluarkan Surat Gembala Uskup dalam rangka Advent dan Natal 2015. Dalam surat Gembala Natal ini, Mgr. Hubertus Leteng berbicara tentang berbagai hal termasuk pencanangan 2016 sebagai tahun implementasi Sinode III dengan tema: “Liturgi: sumber kerahiman ilahi dan puncak kehidupan umat beriman”. Uskup juga menyinggung tentang Pilkada di Manggarai dan Manggarai Barat. Berikut Surat Gembala Uskup Ruteng selengkapnya.

surat gembala uskup

Mgr. Hubert bersama RD Lian Angkur dan RD Daniel Sulbadri | Foto: Kaka Ited

Surat Gembala Uskup Ruteng – Advent dan Natal 2015

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Para Imam, Biarawan/wati dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Warta sukacita inji Yohanes ini dengan tepat mengungkapkan makna dasar Natal yang tidak lama lagi akan kita rayakan bersama. Natal adalah peristiwa cinta mesra Allah kepada kita manusia. Karena cinta, Allah menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita (Yoh 1:14). Karena KasihNya yang begitu besar, Dia rela senasib dengan kita manusia, terlibat dalam suka duka hidup kita untuk menghantar kita menuju kepenuhan hidup ilahi. Karena belaskasihNya, Dia tidak segan masuk dalam lumpur kehidupan kita yang penuh dosa, untuk menyucikan kita dan memberikan kepada kita masa depan baru yang indah.

Belas Kasih Allah yang tanpa batas ini pulalah yang menjadi tema Yubileum Luar Biasa Kerahiman Ilahi yang dicanangkan oleh Paus Fransiskus untuk Gereja Katolik di segala penjuru dunia dari tanggal 8 Desember 205 sampai 20 November 2016. Menurut Bapa Suci Fransiskus, Natal adalah peristiwa kerahiman ilahi yang merupakan jawaban Allah atas dosa manusia: “terdorong oleh kasih, Allah berpaling kepada Maria, yang kudus dan tak bernoda (bdk. Ef 1:4), dengan memilih dia menjadi Bunda Penebus manusia. Belas kasihan Allah akan selalu lebih besar daripada dosa apa pun, dan tidak seorang pun dapat memasang batas pada kasih Allah yang selalu siap untuk mengampuni” (Bulla, Nr. 3).

Injil tidak henti-hentinya mengisahkan belas kasih ilahi yang menjiwai seluruh hidup dan pelayanan Yesus. Ketika melihat banyak orang yang letih, telantar dan sesat, hati Yesus tergerak oleh belas kasihan kepada mereka (bdk. Mat 9:36). Terdorong oleh api cinta penuh belas kasih, Yesus menyembuhkan orang sakit (bdk. Mat 14:14), dan memberikan makan orang banyak yang kelaparan (bdk. Mat 15:37). Tergerak oleh hati yang penuh belas kasih terhadap kesedihan dan penderitaan mendalam sang janda dari Nain, Yesus membangkitkan putra tunggalnya (Luk 7:15). Juga perumpamaan-perumpamaan Yesus seperti anak yang hilang (Luk 15:1-32), domba yang hilang, dan dirham yang hilan, mengungkapkan kerahiman Allah yang melampaui dosa manusia sekaligus menampilkan wajah Allah yang penuh sukacita ketika Dia memberikan pengampunan.

Pesan gembira injil tentang kerahiman ilahi ini perlu kita kumandangkan dewasa ini, terlebih-lebih dalam kerapuhan hidup kita manusia yang penuh dosa, dan dalam situasi dunia yang masih dilanda oleh racun kebencian, kekejaman dan kekerasan. Paus Fransiskus mengajak kita dalam tahun Yubileum Agung Kerahiman Ilahi ini untuk “mempercayakan Gereja, segenap umat manusia, dan seluruh alam semesta kepada Tuhan Yesus Kristus, sambil memohon kepadaNya supaya mencurahkan kerahimanNya atas kita ibarat embun pagi, sehingga semua orang dapat bekerja sama membangun masa depan yang lebih cerah…. sehingga kita dapat menyapa setiap orang dengan membawa kebaikan dan kasih Allah” (Nr. 5)

Para Imam, Biarawan/wati dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Sejalan dengan tahun Yubileum Agung Kerahiman Ilahi, Gereja lokal Keuskupan Ruteng telah mencanangkan tahun 2016 sebagai tahun pertama implementasi Sinode III dengan tema: “Liturgi: sumber kerahiman ilahi dan puncak kehidupan umat beriman”. Sinode III Keuskupan Ruteng yang dimulai dari tahun 2013 dan ditutup dengan perayaan puncak tanggal 13-19 Juli 2015 telah menetapkan araha dasar Keuskupan Ruteng, yaitu; persekutuan Umat Allah yang beriman solid, mandiri dan solider (SMS). Iman yang solid, mandiri dan solider ini ingin kita wujudkan melalui aneka gerakan dan program pastoral tahunan dalam lingkaran 10 tahun. Dan dalam tahun pertama 2016, kita memusatkan diri pada liturgi. Sebab liturgi menurut Konsili Vatikan II merupakan sumber sekaligus puncak kehidupan Gereja (SC 10). Liturgi adalah “puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja”. Seluruh karya pastoral Gereja terarah kepada persatuan mesra Allah dengan umatNya. DI lain pihak, perjumpaan dengan Allah dalam liturgi menjadi sumber kekuatan hidup umat Allah sehingga “sehati-sejiwa dalam kasih” dan dapat mengamalkan kasih Allah dalam hidup sehari-hari.

Dengan demikian liturgi yang kira rayakan sungguh-sungguh berkaitan erat dengan kehidupan konkret setiap hari. Liturgi bukanlah ritual atau upacara belaka, tetapi sebuah peristiwa perjumpaan dengan Allah yang penuh belas kasih. Pengalaman akan cinta Allah inilah yang menjadi dasar dan sumber kekuatan umat beriman dalam menyalurkan kerahiman ilahi kepada dunia. Di lain pihak persatuan dengan Allah yang dirayakan dalam liturgi merupakan mahkota dan puncak dari seluruh kehidupan umat beriman dalam pergulatan hidup sehari-hari untuk membangun masyarakat dan dunia yang lebih adil, solider dan damai. Maka liturgi tidaklah terasing dari hidup harian, tetapi ia meresapi dan menggerakkan suka duka kehidupan dalam cinta dan kerahiman Allah.

Dalam rangka mengisi tahun liturgi 2016 ini, kita semua diundang untuk terlibat dalam berbagai gerakan dan program pastoral liturgi dalam tingkat keuskupan, kevikepan, paroki, stasi, KBG, dan keluarga maupun dalam lingkungan pekerjaan dan pendidikan. Dalam gerakan bersama seluruh umat Allah ini, kita ingin menghidupkan kembali kebiasaan doa angelus dalam kehidupan harian, menggalakkan kebiasaan doa malam dalam keluarga, melakukan ibadat sabda kerahiman ilahi di KBG, meningkatkan perayaan sakramen tobat, mengadakan adorasi kerahiman ilahi mingguan di paroki, melaksanakan katekese umat, rekoleksi dan retret tentang kerahiman ilahi. Dalam lingkup kelompok yang lebih kecil, kita juga akan mengadakan pelatihan pemimpin ibadat sabda tanpa imam serta pelatihan lektor dan akolit. Dengan pelatihan-pelatihan demikian kita ingin agar perayaan liturgi semakin dijiwai dan diresapi oleh Sabda Allah serta kaum awam lebih terlibat aktif dalam memimpin ibadat-ibadat di stasi dan KBG.

Kerahiman ilahi adalah anugerah Allah yang diberikan kepada kita dengan cuma-cuma. Oleh sebab itu apa yang kita terima secara gratis, hendaknya dapat pula kita bagi-bagikan dengan murah hati kepada sesama khususnya yang sakit, menderita dan  berkekurangan. Karena itu dalam pelbagai kegiatan rohani, kita juga akan mengumpulkan kolekte kerahiman ilahi untuk berkarya sosial kemanusiaan di paroki. Kita juga diajak dalam tahun Yubileum ini untuk melakukan kegiatan-kegiatan belas kasih seperti mengunjungi orang sakit, membantu yang miskin dan menderita, membela korban ketidakadilan dan memperjuangkan kelestarian alam dan keutuhan ciptaan.

Paus Fransiskus berkeyakinan: “Belas kasihan adalah dasar dari kehidupan Gereja. Semua kegiatan pastoral Gereja hendaknya diwarnai kasih sayang kepada umat beriman; setiap kotbah dan kesaksian Gereja kepada dunia hendaknya selalui dilengkapi dengan belas kasihan. Kredibilitas Gereja tampak dalam cara-cara ia menunjukkan kasih yang murah hati dan penuh belas kasih” (Nr. 10).

Maka marilah dalam tahun Yubileum Agung ini, kita semua terlibat dalam gerakan dan program pastoral untuk mewujudkan kemurahan hati Bapa dalam kesaksian hidup kita sehar-hari (Luk 6:36). Marilah kita semua dengan penuh sukacita mengisi tahun liturgi 2016 sebagai momentum untuk merasakan dan memancarkan kerahima Allah yang meluap-luap dalam hidup kita. Marilah kita jadikan nyata, apa yang dirindukan oleh Paus Fransiskus: “Di paroki-paroki, komunitas basis, persekutuan umat, dan gerakan-gerakan kita, pendek kata, di mana pun orang Kristiani, di sana setiap orang harus menemukan oasis belas kasihan (Nr 12).

Secara khusus berkaitan dengan peristiwa pemilukada di kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat, kami mengajak agar belaskasih Allah ini nyata dalam semangat persaudaraan di antara kita. Jangan ada kebencian dan permusuhan. Kita dukung hasil pemilukada dengan jiwa besar. Yang menang harus siap mengabdi dan merangkul semua demi kemajuan masyarakat. Yang kalah tak berkecil hati dan siap mendukung kegiatan pembangunan yang berkelanjutan.

Selamat merayakan pesta Natal, perayaan kelahiran kerahiman ilahi dalam hati kita!

Ruteng, 4 Desember 2015

Uskupmu

Mgr. Hubert Leteng

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *