Surat Gembala Uskup Ruteng Paska 2016

Berikut kami hadirkan Surat Gembala Uskup Ruteng, Prapaska dan Paska 2016. Di Gereja Katedral Ruteng, Surat Gembala Uskup ini telah dibacakan pada salah satu misa Minggu Prapaska. Selamat membaca.

surat gembala uskup ruteng paska 2016

Uskup Ruteng | Foto: Ist

Surat Gembala Uskup Ruteng, Prapaska dan Paska 2016

“Allah itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya” (Kel 34:6)

Para Imam, Biarawan/wati dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Pertobatan dalam masa prapaska tahun ini sangatlah istimewa karena kita jalankan dalam momentum perayaan Yubileum Agung Kerahiman. Dalam tahun berahmat ini, Paus Fransiskus mengajak kita, untuk menghayati pertobatan secara lebih mendalam “sebagai saat istimewa, untuk merayakan dan mengalami kerahiman Allah” (MV, 17). Kini tibalah saatnya bagi Gereja untuk “mengabdikan dirinya pada pewartaan penuh sukacita tentang pengampunan. Inilah saatnya, untuk kembali kepada yang dasariah dan menerima sesama kita dalam kelemahan dan kesulitan hidupnya. Pengampunan adalah sebuah kekuatan, yang membangkitkan kehidupan baru dan memberikan keberanian untuk menatap masa depan dengan penuh harapan” (MV, 10).

Pertobatan manusia dan kerahiman Allah sangatlah terkait erat satu dengan yang lain. Kerahiman Allah adalah dasar pertobatan. Pertobatan mengalir dari sumber kerahiman Allah, yang “berlimpah kasih setia-Nya”. Selanjutnya kerahiman Allah ini mengubah hati manusia untuk merasakan pengalaman cinta sejati dan memampukannya untuk berbelas kasih kepada sesama. Dengan demikian, pertobatan dalam masa prapaska yang kita hayati sejak Rabu Abu bukanlah sekedar sebuah ritual atau upacara liturgis belaka. Tetapi apa yang dirayakan dalam simbol-simbol liturgi mesti terwujud dalam praksis belas kasih dalam hidup sehari-hari. Ungkapan tobat di hadapan Allah haruslah mencerminkan belas kasih dan tindakan solider dengan yang menderita dan sengsara (bdk. Hos 6:6). Karena nabi Yesaya mengkritik pedas praktik puasa yang seremonial belaka, “Inilah berpuasa yang Kukehendaki,… supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya… supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah” (Yes 58: 5-7).

Praktik ibadat yang terpisah dari kesaksian hidup nyata ini pulalah yang direfleksikan dalam Sinode III Keuskupan Ruteng. Salah satu problem utama dalam kehidupan Gereja partikular kita adalah perayaan liturgi yang masih terbelenggu para seremoni atau upacara, sehingga terasing dari kehidupan sehari-hari. Ibadat di seputar altar Gereja belum sungguh selaras dengan perjuangan hidup di tengah dunia. Karena itulah dalam tahun 2016 Gereja Keuskupan Ruteng mencanangkan program pastoral yang berfokus pada liturgi sebagai sumber kerahiman ilahi dan puncak kehidupan umat beriman. Hal ini selaras dengan ajaran Konsili Vatikan II bahwa liturgi adalah “puncak yang dituju dalam kegiatan Gereja, dan serta merta sumber segala daya kekuatannya” (SC 10). Liturgi atau persatuan mesra Allah dengan umat-Nya adalah muara dari semua kegiatan hidup kita sehari-hari. Sebaliknya, perjumpaan dengan Allah dalam liturgi menjadi sumber kekuatan bagi umat beriman sehingga dapat bersatu dan sekaligus menjadi “garam” dan “terang” dunia.

Pertobatan Holistik

Para Imam, Biarawan/wati dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Apa yang kita rayakan dalam liturgi termasuk perayaan tobat, hendaknya mengungkapkan pergumulan suka duka sehari-hari sekaligus menjadi sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih manusiawi. Karena itulah Sinode III Keuskupan Ruteng mengajak kita untuk membangun pertobatan yang holistik (integral).

Pertama-tama, pertobatan itu tidak hanya menyangkut pembaharuan hubungan Allah tetapi juga relasi dengan sesama. Mengasihi Allah berarti berdamai dan berlaku adil dengan yang lain. Maka dari itu, seluruh perayaan ibadat tobat dan sakramen pengakuan dosa mesti terungkap dalam kehidupan yang saling mengampuni dan penuh persaudaraan. Oleh karena itu, khususnya dalam konteks pertentangan dan perpecahan Pilkada yang baru lewat, kami mengajak seluruh umat untuk mengulurkan tangan pengampunan dan meretas jalan bersama untuk membangun tanah Nucalale tercinta ini dalam semangat persaudaraan dan persatuan seperti yang diajarkan oleh para leluhur kita “ipung ca tiwu, teu ca ambo”.

Kedua, pertobatan itu meliputi diri pribadi manusia yang utuh dalam aspek rohani dan jasmani. Pertobatan hendaknya terwujud dalam pembaharuan hati manusia tetapi juga dalam askese dan pantang yang nyata terhadap kesenangan dan kenikmatan ragawi. Itu sebabnya dalam masa Prapaska ini Gereja mengajak kita untuk berpuasa dan berpantang. Melalui hal-hal ini kita tidak hanya melatih pengendalian diri tetapi juga berjuang melepaskan diri dari ikatan-ikatan duniawi sehingga dapat mengerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan membiarkan hati kita dijamah dan diresapi oleh belas kasih ilahi.

Demikian pula pertobatan yang holistik terungkap dalam tindakan nyata terhadap sesama yang menderita. Untuk itu Paus Fransiskus dalam pesan Prapaska 2016 mengajak kita untuk menggalakkan karya-karya kerahiman yang sudah dikenal lama dalam tradisi Gereja. Hal-hal itu mengingatkan bahwa “iman kita mesti terwujud dalam tindakan-tindakan nyata sehari-hari, dengan tujuan untuk membantu sesama secara rohani dan jasmani”. Kita diajak dalam Tahun Yubileum Kerahiman untuk menggiatkan karya kerahiman yang bersifat jasmani, seperti: memberi makan dan minuman kepada orang lapar dan haus, pakaian kepada yang telanjang, tumpangan kepada orang asing, mengunjungi orang sakit, melawati orang di penjara, dan menguburkan orang mati. Hal-hal ini dapat kita lakukan baik secara pribadi maupun bersama di Paroki dan KBG.

Selain yang bersifat jasmani, tradisi Gereja Katolik juga mengenal karya-karya kerahiman yang bersifat rohani, seperti: memberi nasihat bagi orang yang bimbang, mengajar orang yang tidak tahu, menasihati orang yang berdosa, menolong orang yang tertindas, mengampuni yang bersalah, menanggung dengan sabar orang-orang yang melukai kita dan berdoa baik bagi yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Di lingkungan kita, ada banyak orang yang mengalami penderitaan jiwa dan kekosongan hati. Marilah dalam tahun Yubileum Kerahiman ini, kita meningkatkan kepekaan dan perhatian kepada mereka yang bimbang dan putus asa dalam hidupnya. Marilah kita hadir memberi kekuatan kepada mereka yang kesepian. Marilah kita memaafkan dan mengampuni orang yang melukai hati kita. Marilah kita menolak segala bentuk kekerasan dalam kehidupan keluarga dan di lingkungan sekolah. Marilah kita meningkatkan kehidupan doa pribadi dan doa keluarga serta berdoa secara khusus bagi “jiwa-jiwa yang sangat memerlukan belas kasih Allah”.

Pertobatan Sosial dan Ekologis

Sifat holistik pertobatan terungkap pula dalam dimensi sosial. Pertobatan menuntut kita tidak hanya berjuang memupuk kesalehan pribadi tetapi juga mewujudkan kesalehan sosial dalam hidup sehari-hari. Karena itu kami mengajak seluruh umat untuk berjuang bersama membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang semakin diresapi oleh nilai-nilai injili. Marilah kita mendukung terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme serta terarah kepada kesejahteraan semua pihak, dan bukannya hanya mengabdi pada kepentingan keluarga, kelompok, suku dan wilayah tertentu. Marilah kita terlibat dalam gerakan pembangunan yang berkeadilan, yang mengutamakan kelompok-kelompok masyarakat yang miskin, menderita dan terpinggirkan. Untuk itu misalnya, kami mendukung penuh perjuangan agar Pantai Pede di Labuan Bajo tetap menjadi pantai rekreasi publik yang sepenuhnya terbuka bagi semua anggota masyarakat. Tidak kalah pentingnya, kita perlu meningkatkan perjuangan ekologi dalam merawat dan menjaga alam lingkungan di Manggarai Raya. Sesuai dengan rekomendasi Sinode III, kita hendaknya mewujudkan alam lingkungan yang sehat, lestari dan berkelanjutan terutama melalui pembuangan dan pengelolaan sampah yang tepat, menjaga sumber mata air dan merawat hutan serta terus konsisten menolak pertambangan mineral yang merusak alam lingkungan di bumi Congka Sae ini.

Para Imam, Biarawan/wati dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Allah itu “penuh dengan belas kasih” (Ef 2:4). Belas kasih Allah terwujud dalam diri putra-Nya Yesus Kristus. Dalam diri-Nya, Allah yang penuh belas kasih sungguh menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita (bdk. Yoh 1:14). Seluruh hidup Yesus baik perkataan maupun perbuatan-Nya mewartakan dan mengalirkan kerahiman Allah. Puncak belas kasih Allah terwujud dalam peristiwa kurban Yesus di salib. Hal inilah yang selalu kita rayakan dalam perayaan ekaristi, pesta Hati Kudus Yesus dan selalu kita renungkan dalam peristiwa jalan salib: dari lambung kerahiman Yesus mengalir air dan darah yang mengampuni dan menghidupkan diri kita yang fana dan rapuh dengan roh ilahi.

Hidup baru yang dijiwai oleh kerahiman Allah yang berlimpah-limpah itulah yang kita rayakan dalam peristiwa Paska. Paska adalah peralihan dari kegelapan menuju terang, dari kematian menuju kebangkitan, dari cara hidup lama berdosa ke hidup baru yang diresapi oleh pengampunan dan belaskasih ilahi. Marilah kita merenungkan dan merasakan kerahiman Allah dalam masa Prapaska ini agar kita dapat merayakan pesta Paska dengan penuh sukacita. Marilah kita mewujudkan pertobatan sejati, dengan menguburkan manusia lama kita agar kita hidup baru bersama Kristus. Sebab “Jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia” (Rom 6:8).

Selamat merayakan Pesta Paska 2016

Ruteng, 17 Februari 2016

Uskupmu

Mgr. Hubert Leteng

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *