Surat Gembala Uskup Ruteng Paskah 2013

Uskup Ruteng Mgr. Hubertus Leteng tanggal 25 Februari 2013, menulis Surat Gembala Prapaska dan Paska 2013. Dalam surat tersebut, Mgr. Hubertus menekankan pentingnya pertobatan dalam masa Prapaska ini sejalan dengan dasar pastoral Keuskupan Ruteng, yakni membangun iman yang solid, mandiri dan solider. Dalam surat yang sama, Uskup Ruteng juga menjelaskan posisi Gereja Katolik dalam dunia politik, terkait peristiwa besar yang akan segera kita (masyarakat NTT) jalani yakni Pemilihan Gubernur NTT. Berikut isi Surat Gembala Uskup Ruteng Paskah 2013:

Para imam, bruder, suster, frater, orang muda, Bapa/ibu, saudara/i, Umat Katolik se-Keuskupan ruteng yang kami kasishi dalam Kristus!

“Rasakan dan nikmatilah betapa baiknya Tuhan.” (Mzm. 34:9), demikian refrein mazmur antar bacaan dalam minggu keempat masa Prapaska ini yang mengajak kita untuk mengecapi dan menikmati kebaikan Tuhan. Dalam bentuk apakah kebaikan Tuhan itu kita alami? Kebaikan Tuhan itu tampak dalam kerahimanNya yang tanpa batas, yang selalu merengkuh kita dalam pelukan kasih ilahiNya. Meski kita berdosa, Tuhan selalu mengampuni kita. Meski kita penuh noda kesalahan, Dia membersihkan kita. Meski hidup kita dilanda oleh kegagalan, Dia memberikan kita kekuatan untuk menggapai masa depan yang baru. Dan justru kerahiman Tuhan yang mengalir tanpa henti-hentinya dalam hidup kita inilah yang boleh kita alami dan rasakan secara istimewa dalam masa Prapaska ini.

Warta kerahiman Tuhan yang begitu mempesona inilah yang dilukiskan dengan indah dalam kisah injil “Anak yang hilang” (luk 15:11-32). Si anak bungsu yang merupakan simbol manusia berdosa pergi meninggalkan bapanya, meskipun selama ini dia menerima segala hal yang baik dalam rumah bapanya. Dia tidak hanya meninggalkan tapi bahkan menolak bapanya. Ia menuntut warisan dari bapanya, sesuatu yang dalam tradisi pada zaman itu hanya boleh dibuat apabila sang ayah telah meninggal dunia. Itu berarti melalui tuntutan warisan ini si anak sekaligus ingin memaklumkan kematian bapanya sendiri. Bagaimana reaksi dari sang Bapa yang telah ditolak secara radikal oleh anaknya itu? Sungguh luar biasa. Dia tidak membalas kejahatan anak bungsu itu dengan hukuman tetapi dengan pengampunan. Injil menceritakan bahwa ketika ia melihat anaknya itu pulang kembali ke rumah, bapa itu segera berlari menyongsongnya. Bahkan sebelum bibir anaknya itu mengucapkan kata-kata pengampunan, sang bapa telah merengkuhnya dalam pelukan kasihnya dan menghadiahkannya ciuman pengampunan.

Bukankah sang Bapa yang dikisahkan injil ini adalah gambaran Allah sendiri yang kerahimanNya mengatasi dan mengalahkan kejahatan manusia? Bukankah sang Bapa ini adalah simbol Allah yang dalam kebaikanNya yang melimpah ruah selalu memeluk kita dengar rangkulan pengampunanNya?

Para Imam, Biarawan/Wati dan Umat beriman yang dikasihi Tuhan!

Meskipun kerahiman Allah bersifat gratis, hal itu tidak berarti bahwa kita hanya pasif saja dan tidak berbuat sesuatu. Kerahiman ilahi itu mengundang jawaban kita. Allah dengan penuh rindu menantikan sambutan kita terhadap uluran belas kasihNya. Justru karena itu Gereja mengajak kita selama masa Prapaska ini melakukan doa, puasa dan amal. Tiga hal ini merupakan wujud jawaban kita terhadap kebaikan Allah yang telah mengampuni kita. Melalui doa, kita berjumpa denga Allah yang penuh belas kasih. Melalui puasa, kita dapat membebaskan diri dari ikatan duniawi sehingga semakin terbuka terhadap kehadiran Roh Allah. Dan melalui amal, kita diajak untuk membagikan kebaikan Allah itu bagi sesama yang menderita.

Maka kerahiman dari Allah itu menuntut tanggungjawab kita. Pengampunan dari pihak Allah berkaitan erat dengan pertobatan dari pihak kita manusia. Kita diajak untuk berbalik dari cara hidup yang lama menuju cara hidup yang baru yang sesuai dengan kehendak Allah. Pertobatan itu hendaknya semakin membuat hubungan kita dengan Allah semakin kokoh dan teguh, mengembangkan iman yang sadar dan bertanggungjawab serta mendorong kerelaan hati untuk berbagi dengan sesama yang sengsara dan menderita. Dengan demikian pertobatan dalam masa Prapaska ini sejalan dengan arah dasar pastoral kita di Keuskupan Ruteng yakni membangun iman yang solid, mandiri dan solider. “Iman itu Indah”, demikian pesan Paus Benediktus XVI dalam tahun iman 2013 ini. Selaras dengan gerakan Gereja universal, kita umat Keuskupan Ruteng ingin menemukan dan merasakan keindahan iman itu dalam soliditas, kemandirian dan solidaritas Gereja. Hal-hal ini pulalah yang menjadi bahan Katekese Umat di Kelompok Umat Basis maupun di sekolah-sekolah selama masa Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun ini.

Para Imam, Biarawan/Wati dan Umat beriman yang dikasihi Tuhan!

Tema iman yang solid, mandiri dan solider ini sekaligus mengarahkan perhatian kita kepada Sinode III Keuskupan Ruteng. Setelah merayakan Yubileum Agung 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai pada tahun 2012 lalu, kini kita memasuki paruh abad kedua Gereja di bumi Manggarai. Situasi transisi mewarnai kehidupan Gereja. Di satu pihak kita telah meninggalkan era besar satu abad peziarahan Gereja Katolik Manggarai; di lain pihak kita sedang memasuki sebuah zaman baru yang berubah begitu cepat dan semakin kompleks. Di sini perlulah kita merefleksikan kembali seluruh dinamika kehidupan Gereja di waktu yang lampau demi menemukan dasar yang kokoh dan orientasi tepat dalam membingkai masa depan baru. Karena itu kami telah memutuskan untuk memanggil Sinode III Keuskupan Ruteng yang persiapannya dimulai tahun 2013 ini dan berpuncak pada tahun 2015. Untuk itu kami mengajak semua pelayan pastoral dan seluruh umat beriman di keuskupan Ruteng untuk terlibat aktif dalam seluruh proses sinode III Keuskupan Ruteng ini. Gereja Katolik Manggarai adalah milik kita semua. Karena itu kitalah dan bukan orang lain, yang memiliki tanggung jawab untuk membangun dan mengembangkan persekutuan umat Allah di bumi Nuca Lale tercinta ini.

Para Imam, Biarawan/Wati dan Umat beriman yang dikasihi Tuhan!

Tidak lama lagi kita akan mengikuti perhelatan demokrasi yaitu pemilihan Gubernur NTT. Marilah kita gunakan momentum berharga ini untuk memilih pemimpin yang dapat membangun NTT yang sejahtera, berkeadilan dan ramah terhadap lingkungan. Gereja Katolik tidaklah terlibat dalam ranah politik praktis dalam arti ia tidak mendukung calon tertentu atau menganjurkan pilihan kepada partai politik tertentu. Karena itu kami melarang semua imam dan biarawan-biarawati di dalam keuskupan Ruteng untuk masuk dalam tim sukses calon tertentu ataupun menggiring umat untuk memilih calon tertentu. Demikian pula tidaklah diperbolehkan mempergunakan mimbar Gereja untuk mengkampanyekan seseorang secara terang-terangan ataupun terselubung.

Meskipun tidak terlibat politik praktis Gereja Katolik berkewajiban melakukan fungsi profetis dalam kehidupan politik. Hal itu berarti bahwa Gereja mesti menyuarakan suara kenabian demi terciptanya situasi kehidupan masyarakat yang sejahtera dan damai. Gereja Katolik memang tidak mendukung orang tertentu tetapi menawarkan prinsip-prinsip dasar yang menjadi orientasi dalam pilihan politis yang benar dan tepat. Maka umat hendaknya memilih seorang calon gubernur yang sanggup mewujudkan kejujuran, kebenaran dan keadilan serta mampu mengusahakan tercapainya kesejahteraan bersama seluruh masyarakat NTT. Selain itu kami juga mengingatkan bahwa pilihan politik adalah hak asasi setiap orang. Karena itu marilah kita menghormati dan menghargai perbedaan pilihan politik setiap orang. Janganlah perbedaan ini memisahkan apalagi memecahkan ikatan persaudaraan kita satu sama lain.

Para Imam, Biarawan/Wati dan Umat beriman yang dikasihi Tuhan!

Masa Prapaska adalah masa untuk kita mengalami kerahiman Tuhan yang mengalir tidak henti-hentinya dalam kegersangan hidup kita. Pengalaman kerahiman itu mesti menjadi sumber kekuatan untuk melakukan pembaharuan hidup yang sejati. Karena itu pertobatan ini bukan sekedar upacara ritual belaka tetapi mesti terwujud dalam kehidupan pribadi maupun bersama. Pertobatan terungkap dalam kesetiakawanan dengan orang lemah dan sengsara serta dalam perjuangan mewujudkan keadilan. Melalui Nabi Yesaya, Allah mengingatkan Umat Israel dan kita semua: Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya…, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak boleh menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar.” (Yes 58:6-8a). Marilah kita mengisi masa prapaska ini dengan semangat dan tindakan pembaharuan diri yang sungguh-sungguh dalam segala bidang kehidupan. Hanya dengan demikian kita dapat mengalami fajar pagi yang menghalau kegelapan hidup kita. Hanya melalui pertobatan yang sejati kita dapat menyongsong dan merayakan pesta Paska, pesta kebangkitan Kristus dengan penuh sukacita.

Ruteng, 25 Februari 2013

Uskupmu

Mgr. Hubertus Leteng

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *