Surat Gembala Uskup Ruteng Paskah 2015

Surat Gembala Uskup Ruteng menyongsong perayaan Paskah 2015. (Dibacakan sebagai pengganti kotbah pada salah satu misa minggu di masa Prapaskah)

Surat Gembala Uskup Ruteng Paskah 2015

Uskup Ruteng Mgr. Hubertus Leteng di Paroki Katedral | Foto: Kaka Ited

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semua ini dari Allah” (2 Kor 5:17-18a).

Para imam, biarawan/wati dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Pesan indah penuh pengharapan rasul Paulus di atas sangatlah sesuai dengan masa Prapaskah yang sedang kita jalani maupun dengan pesta Paskah yang akan kita rayakan. Masa prapaskah adalah pertobatan, yakni pelepasan hidup lama yang dibelenggu oleh keinginan duniawi dan pengenaan hidup baru yang diresapi oleh Roh Kristus. Momentum perubahan dan upaya pembaharuan diri ini bukanlah hal yang mudah. Namun dalam kelemahan dan kerapuhan manusiawi, kita boleh menyandarkan diri pada daya rahmat ilahi yang dalam peristiwa Paskah dicurahkan secara berlimpah-limpah demi pembaharuan diri kita menjadi “ciptaan baru”. Sebab Kristus telah mati, supaya kita tidak lagi hidup untuk “diri sendiri’ tetapi untuk “Dia” yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk kita (2 Kor 5:15).

 Menjadi “ciptaan baru” berarti menyerahkan diri dalam tuntunan rahmat Allah yang mentransformasi segala aspek kemanusiaan ita, yakni aspek jiwa dan raga, aspek personal, sosial dan ekologis. Hal ini pulalah yang menjadi tema APP Nasional tahun 2015: “Pola Hidup Sehat dan Berkecukupan”. Gerakan APP 2015 ini bertolak dari kesadaran mendalam bahwa manusia diviptakan Allah dalam kesatuan badan dan jiwa. Hal ini menjadi dasar keterlibatan aktif manusia dalam urusan-urusan duniawi untuk pengembangan diri manusia yang integral dan pembangunan masyarakat yang diresapi oleh keadilan, kebenaran, kejujuran, dan kasih (bdk. GD art. 14). Hidup manusia yang integral ini memerlukan pola hidup yang sehat dan berkecukupan, yakni kegiatan-kegiatan oleh rohani dan jasmani yang teratur dan kreatif dalam mencapai pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam dimensi sosial dan ekonomi.

Secara konkret APP 2015 mengajak kita mewujudkan “pola hidup sehat dan berkecukupan” tersebut melalui tiga gerakan. Pertama, gerakan ‘optimalisasi lahan pekarangan’ untuk menghasilkan bahan pangan sehari-hari. Dengan demikian pekarangan rumah dapat menjadi lumbung hidup. Kedua, gerakan ‘bersih dan sehat lingkungan’ guna memberikan kenyamanan hidup dan mewujudkan kesehatan masyarakat. Ketiga, gerakan ‘bank benih petani’ demi mewujudkan kedaulatan petani ats benih secara mandiri demi terwujudnya kesejahteraan hidup. Gerakan-gerakan di atas sejalan dengan rekomendasi Sinode III Sesi II tentang pastoral pemberdayaan sosial ekonomi umat pada bulan April tahun 2014 silam.

Para imam, biarawan/wati dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Kita baru saja menyelesaikan Sinode III Sesi IV pada tanggal 12 – 16 Januari 2015 dengan tema: Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Seraya bersyukur atas buah-buah iman berlimpah yang boleh kita alami kembali dalam kehidupan di KBG selama ini, para peserta Sinode merefleksikan kembali hakikat dan identitas KBG. Komunitas Basis Gerejwai dilihat bukan terutama sebagai sebuah organisasi tetapi sebuah paguyuban atau persekutuan mini umat (kilo) yang menghayati imannya secara konkret dalam kehidupan sehari-hari. Sinode menyadari bahwa KBG sesungguhnya jalan mewujudkan persekutuan kasih komunitas Yesus dengan 12 Rasul serta pola hidup jemaat Perdana yang selalu berkumpul bersama untuk “mendengar pengajaran”, memecah-mecahkan roti” dan “saling berbagi” (Kis 2:1-41). Maka dari itu KBG tidak hanya menjadi cara menjadi Gereja tetapi sungguh-sungguh merupakan perwujudan communio, persekutuan Gereja. Dalam persekutuan KBG “yang dibangun dalam cinta kasih, harapan dan iman” terwujudlah communio Gereja yang merupakan gambaran, “ikon dari persekutuan trinitaris Bapa, Putra dan Rohkudus”.

Lebih lanjut Sinode menyepakati agar dalam komunitas basis, Gereja dalam pelbagai aspeknya perlu semakin diwujudkan secara nyata. Dalam bidang pewartaan, Sinode mengangkat mutlaknya “Komunitas Basis Gerejawi yang berpusat pada Sabda Allah”. Sabda Allah yang tertera dalam Kitab Suci dan hidup yang terus dalam Tradisi Gereja haruslah menjadi penerang dan penuntun kehidupan umat. Karena itu dalam KBG, Firman Allah perlu “direnungkan bertolak dari pergumulan hidup sehari-hari serta memberi kekuatan pembaharuan (bdk. Kis 2:1-47). Pembaharuan ini nyata dalam pertobatan pribadi maupun komitmen transformasi sosial.”

Dalam bidang pengudusan, Sinode menekankan pentingnya doa, devosi dan perayaan sakramen khususnya ekaristi dalam KBG sebab melalui kegiatan liturgis demikian, umat “mensyukuri karya-karya agung Allah dalam kehidupan dan memperoleh kekuatan dari sumber ilahi melalui perjumpaan denganNya”. Untuk perayaan-perayaan liturgis dalam Komunitas Basis hendaknya ditata sedemikian sehingga “tidak menjadi ritual belaka tetapi sungguh-sungguh menjadi hulu dan muara dari pergulatan hidup sehari-hari.”

Dalam bidang diakonia atau pelayanan sosial, Sinode menggarisbawahi pentingnya KBG menjadi komunitas minioner “dengan pintu-pintu terbuka (EG 47). KBG “hadir bukan untuk dirinya sendiri tetapi menjadi tanda dan wujud kehadiran Allah di tengah dunia khususnya bagi yang menderita dan terpinggirkan.” Sesuai dengan ajaran Konsili Vatikan II, KBG hendaknya menjadi persekutuan murid-murid Yesus yang bersolider dengan “duka dan kecemasan tetapi juga kegembiraan dan harapan” orang-orang zaman dewasa ini (GS 1).

Guna mewujudkan hal-hal di atas Sinode menyadari pentingnya pembaharuan KBG di Keuskupan Ruteng secara kontekstual dan terpadu (integral). Organisasi KBG, kepengurusan KBG, manajemen KBG perlu ditata secara profesional dan mantap. Namun penataan kelembagaan ini bertujuan untuk melayani dan semakin mewujudkan KBG sebagai persekutuan iman yang hidup dan dinamis. Untuk itu diperlukan secara mutlak kehadiran kaum awam yang sungguh-sungguh berperan aktif dan kreatif di dalam KBG dalam semangat pelayanan dan sungguh-sungguh berperan aktif dan kreatif di dalam KBG dalam semangat pelayanan dan pengorbanan. KBG hanya dapat menjadi hidup dan berfungsi optimal bila pengurus dan anggota-anggotanya “menyadari panggilan dan perutusan dalam Gereja berkat sakramen pembaptisan yang diterima” (AA,3).

Selain tema KBG, Sinode III Sesi IV juga merefleksikan tentang hakikat dan perutusan paguyuban (organisasi) rohani yang berkembang cukup pesat di Keuskupan Ruteng. Sinode mendorong komunitas-komunitas rohani untuk menjadi wadah yang melahirkan insan-insan beriman yang hidup dengan tekun dan rendah hati mencari dan mengusahakan kekudusan hidup melalui perjumpaan dengan Allah baik secara pribadi maupun bersama. Kekudusan hidup komunitas rohani ini hendaknya memancar ke luar. Karena itu Sinode mengharapkan agar buah-buah hidup rohani itu “tampak dalam kesaksian hidup setiap hari, terutama dalam solidaritas dengan orang lemah, miskin dan terpinggir”. Dengan demikian komunitas-komunitas rohani “tidak hanya membangun kesalehan pribadi tetapi juga kesalehan sosial yang mentransformasi kehidupan umat sebagai persekutuan”. Hanya dengan begitu komunitas rohani menjadi “Gereja sel, yaitu Gereja yang seluruhnya terdiri dari sel-sel sebagai pucuk kekuatan yang membesarkan Gereja.” Dalam situasi demikian terwujudlah apa yang diharapkan oleh Paus Paulus VI dan Paus Yohanes Paulus II tentang sukacita kehadiran komunitas-komunitas rohani sebagai tanda kelahiran “musim semi Gereja”.

Para imam, biarawan/wati dan seluruh umat Allah keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Setelah membahas tema Komunitas Basis Gerejawi dalam Sinode IV, proses sinode III Keuskupan Ruteng akan dilanjutkan dengan Sesi V yang akan berlangsung setelah perayaan Paskah tepatnya pada tanggal 13 – 17 April 2015. Dalam sesi V ini, kita akan memusatkan perhatian pada pastoral pewartaan dan pengudusan (liturgi) dalam kehidupan Gereja partikular Keuskupan Ruteng. Ada banyak hal yang telah tercapai dalam dua bidang ini selama ini. Dalam bidang pewartaan, kita telah melaksanakan pelbagai kegiatan pembinaan iman sebelum penerimaan sakramen-sakramen, kotbah dan renungan dalam misa dan ibadat sabda, katekese umat, pendampingan iman kelompok kategorial. Dalam bidang pengudusan (liturgi), kita mengisi dan membangun kehidupan di paroki melalui rangkaian perayaan-perayaan sakramen sepanjang tahun yang berpusat pada perayaan ekaristi, ibadat sakramentali dan kegiatan devosi/kesalehan umat. Pelbagai kegiatan pastoral pewartaan dan pengudusan itu telah menghasilkan buah berlimpah yang meneguhkan kehidupan iman pribadi maupun yang telah mengokohkan kehidupan persekutuan umat berimat di KBG, stasi dan paroki.

Seraya bersyukur atas buah-buah yang boleh dipetik dari kegiatan pewartaan dan pengudusan selama ini, diskusi-diskusi persiapan Sesi V selama ini juga telah menemukan beberapa masalah dominan berikut. Dalam bidang pewartaan ternyata Sabda Allah belum menjiwai perayaan liturgis. Dalam perayaan ekaristi misalnya tampak bahwa seringkali khotbah hanya berpusat pada nasihat moral atau terpenjara oleh ilustrasi atau hanya berbicara tentang uang serta perayaan umat terfokus pada koor. Kegembiraan Injil belum meresapi perayaan liturgis. Selain itu Sabda Allah juga belum sungguh-sungguh meresapi dan menuntun kehidupan sehari-hari. Hal ini tampak dalam kenyataan tidak adanya Kitab Suci dalam keluarga, minimnya tradisi membaca Kitab Suci, kurangnya perenungan Sabda Allah dalam Kitab Suci, serta Sabda Allah belum menjadi pedoman hidup sehari-hari. Dalam bidang katekese terdapat masalah partisipasi umat yang rendah dalam kegiatan katekese umat serta perhatian dan komitmen imam yang minim terhadap katekese non sakramental. Tidak kalah pentingnya adalah masalah aktual zaman postmodern ini berupa keterikatan pada media sosial seperti televisi, hp, internet yang membuat seseorang kurang menyadari bahkan tertutup terhadap kehadiran dan karya Roh Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam bidang pengudusan/liturgi ditemukan masalah utama perayaan liturgi yang terasing dari kehidupan harian. Liturgi sering dirayakan sebagai ritual yang di satu pihak kurang mengungkapkan pergulatan hidup harian yang nyata, dan di lain pihak belum menjadi sumber inspirasi demi transformasi kehidupan. Demikian pula masih terasa adanya kesenjangan antara keindahan pewartaan maupun kekudusan liturgis dengan kesaksian hidup pelayan pastoral baik yang tertahbis maupun pelayan tak tertahbis. Masalah lain yang serius adalah kehadiran umat yang semakin merosot dalam perayaan ekaristi maupun liturgi pada saat Natal dan Paskah. Akhirnya masalah inkulturasi masih merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk mengatasi persoalan dualisme penghayatan iman di tanah Manggarai.

Dalam Sinode Sesi V, kita akan menganalisis lebih dalam akar-akar dari permasalahan-permasalahan di atas dalam terang iman untuk menemukan solusi dan rekomendasi pastoral yang tepat di masa yang akan datang. Rekomendasi pastoral inilah yang nantinya menjadi penuntun program dan kegiatan pastoral di bidang pewartaan dan pengudusan di Keuskupan kita.

Umatn beriman yang dikasihi Tuhan!

Paus Fransiskus mengajak kita menjadi “Gereja yang berangkat”, Gereja yang terus berziarah, artinya yang keluar dari kenyamanan diri dan berani untuk menjelajahi tempat-tempat terpencil, memasuki situasi-situasi batas kegelapan manusia, yang membutuhkan terang Injil (EG 20). Kita didorong oleh Bapa Suci untuk tidak terkurung dalam struktur dan kemapanan pastoral yang ada tetapi menjadi Gereja dengan “pintu-pintu terbuka” yang membiarkan Roh pembaharuan berhembus masuk ke dalam Gereja dan bergerak keluar mewartakan kabar gembira keselamatan. Karena itu marilah kita memohon kepada Tuhan, agar cahaya paskah menyinari Gereja Keuskupan Ruteng, agar melalui proses Sinode III, kita semakin dapat menjadi persekutuan murid-murid Yesus yang diresapi dan diikat oleh cinta ilahi serta selalu “berangkat” untuk mewartakan injil dengan penuh sukacita dan membagikan kebaikan Allah kepada semua orang khususnya yang menderita dan terpinggirkan. Selamat merayakan Paskah 2015.

Ruteng, 27 Februari 2015

Uskupmu

Mgr. Hubertus Leteng

Catatan: Di Paroki Katedral Ruteng, Surat Gembala Uskup Ruteng Paskah 2015 ini akan dibacakan pada Sabtu, 21 Maret dan Minggu, 22 Maret 2015 di Gereja Katedral Ruteng.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *