Surat Gembala Uskup Ruteng Tentang Pilpres 2014

Surat Gembala Uskup Ruteng Menyongsong Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI 9 Juli 2014

Para Imam, Biarawan/wati serta seluruh umat beriman Katolik Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan,

Setelah Pemilu Legislatif yang berjalan aman dan damai, kini kita menyongsong pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang akan berlangsung pada tanggal 9 Juli 2014. Pemilihan ini sangatlah penting dan strategis bukan hanya karena ia menjadi sarana untuk memperkuat budaya demokrasi di Indonesia. Pilpres ini juga sangat menentukan perjalanan dan nasib bangsa ini ke depan dalam rangka mewujudkan cita-cita proklamasi yaitu bangsa Indonesia yang adil dan sejahtera yang dibangun dalam kebhinekaan dan persaudaraan serta yang hidup dalam dunia global dan jati diri keindonesiaan yang benar dan tepat.

Karena itu kami mengajak seluruh umat Katolik Keuskupan Ruteng untuk terlibat secara aktif dalam seluruh proses Pilpres ini. Mulailah berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan persiapan seperti dalam kampanye untuk mengenal visi misi dan kepribadian calon maupun sebagai media pendidikan politik. Kami menghimbau semua pihak untuk menjadikan kampanye Pilpres sebagai kesempatan untuk berdemokrasi secara sehat dan bertanggungjawab dan bukannya sebagai ajang untuk menghina dan menghancurkan calon tertentu. Janganlah terjebak dan terlibat dalam kampanye yang menggunakan isu-isu SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) yang pada gilirannya menimbulkan kekerasan dan perpecahan di kalangan masyarakat.

Kemudian, pada hari H pemilihan, kami mendorong umat untuk berbondong-bondong menuju bilik Pemilu dan memilih calon yang tepat sesuai dengan hati nurani Kristiani. Setelah itu ikutlah mengawasi proses penghitungan suara dalam segala tingkatan untuk membantu terwujudnya hasil Pilpres yang obyektif dan benar. Dalam kaitan ini, kami menghimbau umat agar menolak dengan tegas segala bentuk praktek politik uang. Sebab hal ini tidak hanya merusak demokrasi tetapi juga bertentangan dengan iman Kristiani. Membeli suara pemilih dengan uang atau barang lainnya, membiarkan suara hati dibeli dengan uang serta memanipulasi hasil Pemilu adalah tindakan-tindakan yang berlawanan dengan Perintah Allah yang mulia: “Jangan menipu” (bdk. Ul. 5:20). Lebih dari itu politik uang menodai prinsip-prinsip moral Kristiani yang menjadi landasan kehidupan bersama¬†yakni kejujuran, kebenaran, keadilan dan kesejahteraan umum.

Umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan, Paus Fransiskus menandaskan bahwa, iman Kristiani tidaklah boleh dibatasi dalam dunia kehidupan pribadi dan sekedar hanya mempersiapkan jiwa-jiwa menuju surga. Tetapi pewartaan injil mencakupi seluruh dimensi kehidupan manusia termasuk ranah sosial dan pertobatan Kristiani meliputi panggilan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama di dunia ini (EG 182). Secara khusus dalam konteks kehidupan sosial, Sinode III Sesi I pada bulan Januari 2014 mengingatkan dan menyadarkan kembali peran dan perutusan Gereja Katolik untuk terlibat secara kritis profetis. Gereja tidaklah boleh berdiam diri terhadap proses politik yang ada tetapi aktif menyuarakan prinsip-prinsip nilai Kristiani yang mesti menjiwai seluruh praktek penyelenggaraan kekuasaan.

Dalam kaitan dengan Pilpres, Sinode juga mengamanatkan perlunya panduan moral politik bagi umat agar mereka dapat menentukan pilihan politik secara jernih dan tepat sesuai dengan hati nurani Kristiani. Atas dasar itu, kami menyampaikan kriteria-kriteria calon Presiden/Wakil Presiden dalam terang iman Kristiani sebagai berikut:

Pertama, calon itu harus memiliki integritas moral yang terpuji dan teruji. Artinya calon tersebut memiliki kematangan pribadi, menghormati dan membela kehidupan, menghargai dan memperjuangkan hak-hak asasi manusia, melayani dan mengusahakan kesejahteraan umum serta berkomitmen terhadap kelestarian alam dan keutuhan ciptaan. Hal-hal ini bukan hanya menjadi retorika politik tetapi telah dibuktikan dalam sepak terjangnya sebagai pemimpin selama ini. Untuk itu senada dengan surat gembala KWI, kami menghimbau untuk melihat rekam jejak para calon Presiden dan Wakil Presiden secara teliti dan obyektif.

Kedua, calon itu memiliki kemampuan untuk membangun bangsa Indonesia yang adil dan sejahtera. Hal ini sangatlah penting karena masih banyak sekali rakyat Indonesia yang hidup dan kemiskinan dan di mana-mana terjadi kesenjangan dan ketidakadilan. Karena itu pilihlah calon Presiden dan Wakil Presiden yang mempunyai hati untuk korban-korban ketidakadilan sosial dan kelompok sosial rentan dan terpinggir dalam masyarakat.

Ketiga, calon itu memiliki komitmen yang kuat dan tegas untuk memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya. Sebab korupsi adalah kejahatan publik yang tidak hanya merusak kesejahteraan dan keadilan tetapi juga mengancam kelangsungan eksistensi bangsa Indonesia. Dalam perspektif iman Kristiani korupsi adalah dosa melawan perintah Allah: “Jangan mencuri” (Ul 5:19) dan dosa menyembah berhala. Karena bukan lagi Allah yang disembah tetapi uang dan kuasalah yang mengikat dan menguasai hidup seseorang (bdk. Ul 5:7).

Keempat, calon itu menghargai dan membela kemajemukan agama, suku, etnis dan ras yang ada di Indonesia dan mampu mengelolanya menjadi sebuah taman bunga Indonesia yang indah dan menawan yang dibangun di atas dasar Pancasila. Karena itu pilihlah calon yang rekam jejaknya menunjukkan semangat kebangsaan yang mendalam yang tampak dalam sikap toleransi, komitmen kebebasan beragama dan beribadah serta keberanian untuk membela kelompok-kelompok minoritas dalam masyarakat.

Kelima, calon itu mampu menghantar Indonesia ke dalam pergaulan hidup global sebagai bangsa yang bermartabat, mandiri dan ramah serta dapat memimpin bangsa Indonesia, berpartisipasi secara aktif dalam mewujudkan dunia sebagai rumah kemanusiaan yang damai, sejahtera, solider dan penuh persaudaraan bagi semua orang.

Akhirnya marilah, marilah kita berdoa dan berjuang agar proses pelaksanaan Pemilu Presiden dan wakil Presiden berjalan dengan jujur, damai dan berkualitas demokratis. Marilah kita semua menerima hasil keputusan rakyat dalam Pilpres ini dengan jiwa lapang dan hati tulus. Lebih dari itu kita perlu mendukung dan taat kepada siapapun yang terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2014 – 2019. Marilah kita mendoakan agar Presiden dan Wakil Presiden terpilih dapat menjalankan tugas mulia kebangsaan dan kepemerintahan dalam tuntunan dan kekuatan Roh Allah.

Ruteng, 4 Juni 2014

Uskup Ruteng,

Mgr. Hubertus Leteng

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *