Tuang…

Tuang, Léjong Cé’é Bao?

Sebuah refleksi atas kunjungan dan Misa KBG se-Paroki Katedral Ruteng

Sapaan penuh damai dilontarkan Sang Nenek Tua kepada Pastor dan pendamping dari DPP Katedral Ruteng saat kunjungan pastoral dalam misa kelompok dan sosialisasi kebijakan Paroki Katedral bulan Maret 2014. Sapaan ini: “Tuang, Léjong Cé’é Bao?”, selain sebagai sambutan atas kehadiran kaum klerus dan tokoh awam yang datang saat itu, juga jelas menyimpan segudang makna. Apa di balik ini semua?

Tuang

Bapak Simon Manggu pada Pleno DPP Katedral | Foto: Armin Bell

Yah… Nenek tua itu jelas merasa bangga ketika Tuang Pastor mengunjungi rumah sederhana sebagai kemah kehidupannya. Ia sangat menjunjung tinggi eksistensi seorang imam sebagai pekerja yang berkiprah di ladang Tuhan. Seorang imam bekerja melayani umatnya seturut panggilannya selaku pekerja ladang Tuhan. Kerinduan Sang Nenek Tua sangat besar; seorang pastor mengunjungi rumahnya. Ia mengalami sinar terang menghalau kegelapan. Saat itu ia merasa seolah-olah duduk berdampingan dengan Yesus, karena Pastor berjubah putih dengan wajah berseri-seri. “Tuang, néka rabo, lambu dité mané ho,o bo, ného joréng tuka koég, ai liba dité pandé lémbu nai dami anak Sérani”.

Filosofi masyarakat Manggarai dalam menyambut tamu dengan sapaan, “Tuang, Léjong Cé’é Bao?” adalah budaya asli, yang menggambarkan sikap antusias tuan rumah menerima kedatangan para tamu dengan penuh iklas tanpa menengok latar belakang keadaan ekonomi keluarga tersebut. Suasana menyambut tamu selalu riang gembira, tidak ada kekurangan. Beri apa adanya atau menjamu apa adanya: “Ité, néka rabo gé, inung kanang kat kopi situ, toé kong caké tété isé inangm dité bao!”; suatu ungkapan penuh akrab di kala menjamu tamu atau kelurga yang datang saat itu. Lebih familiar ketika Sang Pastor datang membawa misi kerasulan, perjumpaan dirasakan sebagai pergumulan para Domba bersama Sang Gembala.

Imam yang berkunjung menjadi saksi Kritus, membawa suka cita yang begitu besar. Tugas pelayanan seorang pastor terpatri dalam sanubari umat yang percaya pada Allah, dan seorang pastor figur tertahbis menyandang Sakramen Imamat yang benar-benar melekat pada dirinya. Ungkapan: ”Tuang, Léjong Cé’é Bao?”, menjadi sebuah permenungan seorang pastor akan eksistensinya sebagai umat Tuhan tertahbis.

Ia pekerja di ladang Tuhan, penggarap ladang Tuhan, penyebar benih cinta kasih, penyebar Sabda Allah, figur yang patut diteladani, garam dunia, lilin Kritus yang menyala menghalau kegelapan dunia, berjubah putih, memiliki kelimpahan kasih setia, memiliki segudang pengetahuan, pendidik setia, bekerja tanpa pamrih, berpihak pada kaum miskin orang pinggiran, membantu yang lapar, netral dalam segala persoalan umat, pembina iman katolik yang tangguh, pelayan Ekaristi Kudus atau pelayan berbagai sakramen di tengah umat, pembawa suasana sejuk,nyaman, aman, tentram dan penuh damai, selalu menanamkan sikap rendah hati, bicara sedikit berbuat banyak, tidak terjerumus dalam mencampuri urusan orang/umat, bersikap sopan penuh santun, suka mengampuni kesalahan orang lain sekalipun seorang memancing amarahnya, bersikap mengalah dalam perbedaan pendapat, lembut hati dan sungguh arif dalam menyelesaikan semua persoalan hidup. Masih banyak lagi hal-hal yang melekat pada diri seorang imam yang tak dapat diutarakan dalam permenungan ini.

Pandangan nenek tua dalam pergumulan ini: bahwa keberadaan seorang tertahbis berjubah putih didorong oleh realita kehidupan bahwa memang pastor itu adalah umat Allah yang dipenuhi api Roh Kudus, api cinta kasih. Kunjungan seorang pastor itu di rumahnya dipenuhi Roh Kudus, Roh kekuatan, Roh yang dapat membinasakan kerakusan, ketamakan, kesombongan, angkuh, meremehkan umat lain. Selain itu, ungkapan, ”Tuang, Léjong Cé’é Bao?” menandakan bahwa tuan rumah atau nenek tua itu mengalami kehausan akan kehadiran Allah dalam hatinya. Selaku anggota tubuh mistik Kristus, ia menghendaki agar pastor sebagai seorang guru ilahi senantiasa memasuki rumah hatinya. Ia haus akan siraman rohaninya di kala suasana hatinya gersang.

Dalam perjumpaan itu, nenek tua berdialog penuh kegembiraan dan berkata sangat sederhana, “Tuang, ho’o’s laku tiba’d kréba di’a dité wie ho’o landing toé dopo no’o kaut lejong dité. Tegi dami, widang nggeluk situ nahé sanggé’d cing teke sili, wéla teke pé’ang ba bincar koé’s sanggéd widang ciar nai néténg ami wan koé étan tu’a anak Sérani, kudu Kontas bokak Serani sa’ig’m ai ité ata létang témba laro jaong reweng de Mori Kraéng Ema pu’un Kuasa. Ema pastor, ité ata imbi dami’n, paka néka lorong oné po’ong dopo ngalor masa. Hitu’s kéng agu kinda dami anak Serani cé’é béo ho,o latang’t ite Tuang. Ité kali nahé uwa haéng wulang langkas haéng ntala, kimpur ného kiwung ného kiwung tuak, cimang ného rimang neho rimang rana, jengok lé ulu wiko lau wa’i”.

Ungkapan sederhana yang dicurahkan nenek tua ini menggambarkan bahwa kunjungan seorang Imam diterima dengan antusias, karena bermakna bagi keteguhan dan kekuatan iman katoliknya. Iman katolik sebagai batu sendi kehidupan. Karena itu harapannya bahwa kunjungan ini tidak sebatas saat ini, namun pastor senantiasa berjumpa setiap saat di mana dan kapan saja. Ia sangat mendambakan kehadiran para gembala dalam hatinya sehingga kehausan akan sabda Tuhan terobati. Ia bagaikan rusa yang haus mendambakan air jernih di tengah padang yang luas. Dalam nada syukur nenek tua ini mendoakan agar Imam pembawa khabar suka cita ini senantiasa sehat jasmani rohani sehingga ia semakin semangat dalam imamat panggilannya. Jauhkan segala halangan dan rintangan sebagai batu sandungan dalam tugas pelayanan.

Sebagai bahan permenungan Dewan Pastoral Paroki Katedral Ruteng dalam gebrakan program Perayaan Ekaristi Kudus di 88 KBG Lingkup Paroki Katedral Ruteng dari tanggal 6 sampai 30 Maret 2014 secara singkat dapat dapat disimpulkan telah membuahkan beberapa butir sentuhan berarti bagi pertumbuhan iman umat sebagai berikut:

  1. Kunjungan ini sangat menyentuh substansi persoalan iman umat Katolik
  2. Umat mendapat pecerahan secara signifikan tentang pendidikan politik umat di era reformasi ini (salah satu materi sosialisasi adalah Panduan moral Uskup Ruteng tentang pemilu legislatif, red)
  3. Ternyata Imam atau kaum klerus tidak teribat dalam politik praktis
  4. Sosialisasi kebijakan Pastoral Paroki Katedral sebagai strategi yang sangat tepat dan bermanfaat bagi umat: umat mendapat pencerahan atau pemahaman tentang apa dan bagaimana kewajiban umat sebagai anggota gereja tubuh mistik Kritus
  5. Komitmen umat tentang tugas dan tanggung jawab sebagai anggota gereja terhadap semua kebijakan paroki akan terlaksana dengan baik; ini dampak dari sosialisasi kebijakan paroki tersebut
  6. Tentang Program paroki berupa pemberdayaan ekonomi umat Katedral sangat antusias menerimanya, asalkan saja terealisasi. Bukan sebatas program semata.
  7. Program kunjungan/misa kelompok sungguh mendapat apresiasi yang tinggi dari umat. Banyak masukan umat agar program ini jangan hangat-hangat tahi ayam.

Beberapa butir sebagai dampak positif program paroki Katedral ini menjadi landas pijak ungkapan hati nurani nenek tua tadi: “Tuang, Léjong Cé’é Bao?” Yah, kalimat ini sarat makna. Rencana kunjungan bagi beberapa KBG tertentu, menjadi agenda yang harus terjadi dan harus dilakukan, mengingat berbagai gejala atau fenomena yang sedang berkembang di setiap kelompok tersebut, antara lain rendahnya partisipasi umat dalam menjawabi semua kewajiban gereja. Hasil pengamatan selama sosialisasi berjalan, justru masih ada kelompok yang perlu dikunjungi biarawan/ti selain yang sudah diagendakan khusus, agar pertumbuhan iman umat semakin baik.

Salam

Simon Manggu, S.Pd, – Wakil Ketua Pelaksana III DPP Katedral Ruteng, pendamping Imam pada Misa KBG

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestEmail this to someone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *